Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #51 Membuat Perhitungan


__ADS_3

"Bicara omong kosong apa lagi kamu, Diaz?" Daniel menunjukkan ekspresi wajahnya yang mengeras.


"Bukan omong kosong, tapi kenyataannya memang seperti itu! Gadis ini adalah mantan kekasihku. Ardila sudah tidak suci lagi, karena aku sudah beberapa kali berkencan dengannya. Hahaha....!" gelak Diaz mengejek tajam.


"Kurang ajar! Jaga mulutmu, Diaz. Jangan sombong dan merasa paling hebat. Di mataku kamu bukan apa-apa!" pekik Daniel merendahkan, dengan pembuluh darah di lehernya yang juga ikut terlihat menegang. Ejekan Diaz benar-benar menyulut kemarahannya.


Tanpa basa-basi, Daniel langsung mendekati Diaz dan menaikkan kepalan tangannya hendak melayangkan sebuah pukulan ke arah Diaz.


"Haapp!" Diaz juga menaikkan tangannya dan dengan mudah dia bisa menahan tangan Daniel.


Diaz tersenyum miring ketika menatap mata Daniel yang terlihat menyala, menandakan emosi yang sudah tidak bisa dikuasainya lagi.


"Ardila itu adalah milikku, Daniel! Jadi, kau jangan coba-coba berani mengganggunya!" Diaz terus menyeringai yang membuat Daniel semakin gusar.


Daniel kembali mencoba mengarahkan pukulannya ke wajah Diaz. Akan tetapi, Diaz juga dengan sangat gesit menghindarinya.


Perkelahian di antara kedua orang pria itu pun tidak bisa dihindari. Diaz dan Daniel saling melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Namun, keduanya sama-sama lihai dan sama-sama terlatih dalam hal bela diri. Sehingga, mereka tidak mudah saling mengalahkan.


Pada satu kesempatan, Diaz berhasil mengarahkan tendangannya tepat di perut Daniel yang langsung membuat Daniel jatuh tersungkur.


"Aaarrgghh!" Daniel mengerang kesakitan.


"Hah, lemah!" Diaz hanya menggerakkan ujung mulut ke atas ketika melihat Daniel berhasil dilumpuhkannya. Diaz lalu menoleh ke belakang dan melihat Ardila masih ada disana dan berdiri ketakutan.


"Ardila!" pekik Diaz. "Cepat masuk ke mobilmu dan segera tinggalkan tempat ini!" perintahnya.


Untuk sesaat Ardila terpaku, dia sama sekali tidak menyangka kalau Diaz saat itu justru ingin menyelamatkannya.


"Tunggu apa lagi, Dila! Cepat tinggalkan tempat ini!" pekik Diaz lagi mengulang perintahnya, karena melihat Ardila masih berdiri di tempat semula.


"Kau tidak semudah itu bisa pergi dari sini. Hahaha....!" cegah seorang pria menghadang Ardila dengan tawa seringainya.


Ardila tersentak, dia sama sekali tidak menyangka kalau Jhon sudah berdiri di hadapannya dan menghalangi jalannya.


"Jangan tangkap aku! Tolong...!" Suara lantang Ardila itu langsung menggerakkan kaki Diaz untuk mendekatinya.


"Sepertinya kau ingin mati disini, Jhon!" Diaz langsung mengarahkan pukulannya ke arah Jhon dan keduanya kembali berkelahi.


John bukanlah tandingan tangguh untuk Diaz, sehingga dengan sangat mudah Diaz mempu membuatnya terdesak.


"Diaz.... Awasss!!" teriak Ardila sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dari arah belakang Diaz, Daniel kembali muncul seraya menghujamkan sebilah pisau lipat ke arah Diaz.


Mendengar teriakan Ardila, Diaz masih sempat menghindari gerakan cepat Daniel.

__ADS_1


"Aarrggh!" Suara erangan itu kini terdengar dari mulut Diaz, karena pisau di genggaman Daniel tetap berhasil menggores lengannya. Darah segar seketika mengalir dari luka goresan pisau itu.


"Diaz.....!" Ardila berteriak. Melihat Diaz terluka, hati Ardila ikut bagai tergores. Bagaimanapun juga, Diaz terluka dalam upaya menyelamatkan dirinya.


Diaz mendengus marah. Meski lengannya terluka, dia masih mampu memberi tatapan tajam ke arah Daniel yang tersenyum sangkak, karena merasa menang melawannya.


Diaz lalu memutar badannya dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi.


Buugh!


Tendangan Diaz yang tidak disangka oleh Daniel itu, mengenai tepat di dada Daniel yang kembali membuatnya tersungkur dan pisau di tangannya pun terlepas.


Diaz lalu berlari ke arah Ardila.


"Ayo, Dila. Cepat masuk ke mobilmu!" Diaz menarik tangan Ardila dan mengawalnya sampai di pintu mobilnya.


"Tapi kau terluka, Diaz!" seru Ardila, tidak tega melihat darah masih terus mengalir dari luka di lengan Diaz


"Jangan pedulikan aku, Dila. Cepatlah pergi dari sini!" tegas Diaz.


Blaagh!


Secepat kilat Diaz menutup pintu mobil Ardila saat dia sudah masuk. Mobil itu pun melaju kencang meninggalkannya.


Daniel dan Jhon tidak mampu lagi menghadangnya, sehingga Diaz dengan cepat bisa melarikan diri.


"Aargh! Kurang ajar kau Diaz! Kau benar-benar sudah memulai sebuah permusuhan denganku!" Dengan bersusah payah, Daniel mengumpulkan sisa tenaganya dan bangun dari tempatnya tersungkur.


"Lihat saja, Diaz! Aku akan buat perhitungan denganmu!" dengus Daniel sangat marah sambil menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan setetes darah.


"Mulai saat ini kita adalah musuh! Dan kau harus tahu apa akibatnya bila berani menentangku! Aku tidak hanya akan melenyapkanmu, tapi aku juga akan menghancurkanmu terlebih dahulu!"


Daniel mengepalkan kedua tangannya. Api angkara murka berkobar di wajahnya.


****


Diaz memacu mobilnya sekencang-kencangnya. Luka di lengannya terasa perih dan terus mengeluarkan darah.


Begitu sampai di rumahnya, Diaz langsung menghempaskan pantatnya di atas sofa ruang tengah.


"Pelayan! Cepat ambilkan kotak P3K!" teriak Diaz memberi perintah kepada pelayan di rumahnya.


Mendengar teriakan Diaz, Floretta yang sebelumnya ada di dapur rumah itu, bergegas menghampirinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu, Diaz?"


Flo membelalakkan matanya ketika melihat Diaz pulang dalam keadaan terluka dan jaketnya dipenuhi bercak darah.


"Tidak apa-apa, hanya luka tergores saja!" sahut Diaz.


Flo menyipitkan matanya. Walau Diaz mengatakan kalau dia tidak apa-apa, tetapi Flo bisa melihat kalau wajah Diaz sedikit pucat, mungkin saja karena banyak darah yang keluar dari lukanya. Flo lalu ikut duduk di sofa di sebelah kakaknya.


"Ayo lepaskan jaketmu! Aku akan periksa lukamu!" Flo membuka resleting jaket Diaz dan membantunya untuk melepaskannya.


"Astaga! Lukanya cukup dalam, ini pasti sakit sekali. Aku akan panggilkan dokter untukmu. Ayo berikan ponselmu!" Flo meraba-raba semua saku yang ada di jaket dan juga celana jeans yang tengah dikenakan Diaz, berharap menemukan ponsel milik Diaz disana.


Diaz tersenyum, melihat wajah adiknya yang tampak panik dan khawatir terhadapnya, saat mengetahui dirinya terluka, dia tahu kalau sebenarnya Flo sangat peduli akan keadaannya.


"Tidak perlu panggil dokter, Flo. Dibalut perban saja cukup. Ini hanya luka kecil," ujar Diaz tidak ingin adiknya terlalu cemas.


Flo hanya menggeleng pelan dan tersenyum datar. Bergegas dia mengambil kain kasa dan cairan antiseptik untuk mengobati luka di lengan kakaknya. Dengan cekatan, Flo juga membalutkan perban di luka itu untuk menghentikan pendarahan.


"Kau dari dulu memang tidak pernah jera, Kak Diaz. Aku tahu kau pasti habis berkelahi, kan? Dari dulu kau memang selalu saja suka membuat keributan!" hardik Flo, namun tangannya masih tetap sibuk mengobati luka di lengan kakaknya itu.


"Aku selalu berdoa agar kamu bisa berubah, Kak. Aku selalu berharap suatu saat nanti kamu bisa hidup sebagai orang baik dan berhenti melakukan semua tindak kejahatan!" Flo terus berceloteh.


Beberapa hari tinggal di rumah itu, membuat Flo sangat ingin berdamai dengan kakaknya. Dia juga terus berpikir bagaimana agar dia bisa mengembalikan Diaz ke jalan yang benar.


Diaz hanya diam tidak menanggapi hardikan Flo. Di bibirnya terlihat sebuah senyum yang terus melengkung indah. Mendengar Flo memanggilnya dengan panggilan 'Kakak' lagi, membuat hatinya merasa sangat bahagia.


"Terima kasih karena kau sudah sangat peduli terhadapku, Flo!" Diaz menatap wajah manis adiknya. "Aku sangat senang karena kau sudah kembali memanggilku Kakak," ujar Diaz. Senyum itu kian mengembang di bibirnya tatkala melihat Flo juga sudah bisa tersenyum kepadanya.


"Seberapapun kau menyakiti dan mengecewakanku, kau tetap adalah saudara kandungku. Walaupun aku pernah membencimu, tapi kau juga tetap kakakku. Kita terikat hubungan darah, Kak. Sudah seharusnya kita saling menyayangi dan menjaga satu sama lain." Flo mengusap punggung Diaz dan ikut menatap wajah kakaknya.


"Mulai saat ini aku berjanji, tidak akan melakukan kejahatan lagi, Flo. Aku tidak akan pernah lagi menjadi pengikut jaringannya Daniel. Hari ini aku terluka seperti ini juga gara-gara dia." Diaz menggeram.


Flo menghirup oksigen dalam-dalam, tidak ada lagi keraguan di hatinya terhadap kakaknya itu. Pancaran mata Diaz begitu jujur dan bersungguh-sungguh manakala mengucapkan janjinya.


"Aku percaya sama kamu, Kak. Mulai saat ini aku juga akan selalu mendukungmu." Flo terus tersenyum, dia semakin yakin kalau Diaz memang sudah berubah.


"Terima kasih, Flo. Mulai hari ini aku juga berjanji akan selalu menjagamu!" Diaz menjulurkan tangannya.


"Sama-sama, Kak. Kita akan selalu bersama dan saling menjaga lagi seperti dulu." Flo langsung berhambur ke dada kakaknya dan keduanya berpelukan sangat erat.


Air mata haru menggenang di mata Diaz. Setelah sekian tahun, dia bisa kembali memeluk adiknya itu penuh kasih sayang.


Begitu pula dengan Flo. Air mata tak tertahankan membasahi pipinya. Beberapa tahun pula dia hidup sendiri dan menanam permusuhan dengan kakaknya. Hari itu, dia sudah membulatkan hatinya untuk berdamai dengan Diaz dan bertekad membawa kembali kakaknya itu ke jalan yang benar.

__ADS_1


__ADS_2