
Setelah penerbangan hampir 18 Jam mereka sampai di negara Swiss pukul 20:00 waktu setempat.
Mereka langsung di sambut oleh Kris (salah satu supir keluarga Hugo yang ditugaskan melayani Aldric ketika berada di negara tersebut untuk perjalanan bisnis). Jadi ini bukan pertama kali Aldric mengunjungi negara tersebut.
"Mari Tuan, Nyonya. Saya bantu" Pak Kris pun langsung sigap mengambil koper yang dibawa oleh Alana dan Aldric dan memasukkan-nya ke dalam bagasi mobil.
**
"Hah leganya..." Alana pun langsung menghempaskan badannya ke kasur setelah sampai di Hotel.
"Badanku rasanya lelah dan lengket sekali saat perjalanan tadi, setelah ini aku akan membersihkan diri."
Sementara Aldric sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
15 menit kemudian Aldric sudah selesai membersihkan diri. Di susul Alana.
Sedangkan di negara p tepatnya di kediaman keluarga Hugo. Kendrick beserta anak dan menantunya tengah berkumpul di ruang keluarga sembari bercengkerama ria.
"Pah, Alana pernah bertanya padaku. Apakah kita ingin mereka segera memberikan kita cucu. Aku jawab saja yang namanya orang tua pasti ingin segera memiliki cucu tapi bagiku itu tidak menjadi nomor satu dalam pernikahan karena anak adalah rezeki dari sang kuasa. Yang terpenting pernikahan mereka baik baik saja dan menjadi yang pertama serta terakhir dalam hidup mereka" curhat Melina pada Kendrick dan Devid
"Kau benar sekali Melina. Lagian mereka masih butuh waktu untuk saling mengenal. Aku tak masalah jika tentang itu hanya saja aku berdoa semoga aku di beri umur panjang untuk melihat cicitku." harap kakek
__ADS_1
"Sudah-sudah. Kenapa jadi melow begini, yang penting kan sekarang kita sudah sedikit merasa lega dan tidak khawatir lagi karena Aldric telah menikahi orang yang tepat" ujar ayah
"Benar juga pah, tapi dipikir pikir lucu juga yah kalau Aldric punya anak dan kita sudah menjadi nenek kakek. Lucu membayangkan nya, aaa.. mamah jadi tidak sabar ey" kata mamah menerawang
"leh, tadi katanya tidak maksa harus segera punya cucu" cibir papah
Melina yang mendengarnya tertawa sendiri mengingat apa yang dikatakan papah memang benar.
***
Alana dan Aldric kini tengah mengobrol di atas kasur.
"Om jujur yah, Om suka gak sama Alana" tanya Alana dengan polos
"Pertanyaan apa itu? Apa aku harus menjawabnya? kau sudah tau Alana, aku tidak perlu repot-repot untuk menjelaskannya"
"Ih om, apa salahnya jawab, aku kan bertanya" Alana terdiam sesaat. Kemudian kembali mengajukan pertanyaan.
"Om, sebenarnya tujuan kita ke mari untuk apa?? aku dengar kalau seseorang bulan madu itu untuk melakukan hal begituan ya? Jadi apa mungkin kita akan melakukan hal yang sama?" tanya-nya polos sambil memperagakan jari telunjuknya yang ia tusuk-tusuk
Aldric yang mendengarnya merasa malu.
__ADS_1
"Melakukan apa" ujarnya seolah tidak mengerti
"Itu om, ih masa sih gak tau. Mmm..."
Alana pun mencari contoh untuk memperjelas maksud ucapannya.
"Itu loh om seperti sosis yang bertemu dengan lubang donat"
"Buahahaaa"
Aldric tidak bisa menahan lagi untuk tidak tertawa. Ia pun tergelak menertawakan ucapan polos Alana. Ia terkadang heran pada bocah itu terkadang terlihat dewasa dalam ucapannya seolah olah dia wanita dewasa tapi terkadang sisi bocahnya muncul sama seperti yang ia ucapkan tadi.
sedangkan yang ditertawakan terlihat malu sekaligus bingung.
"Ih Om kok ketawa sih? Apa ada yang lucu"
Aldric pun menghentikan tawanya dan mulai menatap Alana dengan serius. Lalu......
Entar lanjutannya oke riders hehe.
Jangan lupa kasih dukungan author berupa Like dan komen serta berikan vote kalian.
__ADS_1
š·š·š·