
Sesampainya di Rumah Sakit. Kakek segera di tangani oleh Dokter Andra. Dokter yang selama ini menangani kakek.
Tak lama Ayah dan Alana datang berbarengan, entah bagaimana ceritanya mereka sampai dirumah sakit bersama.
"Bagaimana kabar kakek mah.." ujar Alana ketika sampai didepan Mamah
"Alana, kakek mu. Hiks" mamah pun langsung memeluk Alana dan dibalas sama halnya oleh Alana
"sudah, tenangkan dulu diri mamah, kakek pasti baik-baik saja"
Alana pun membawa mamah untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
Mamah pun beralih memeluk Ayah yang masih dengan isak tangisnya.
Dokter Andra pun keluar dari ruangan di mana kakek ditangani sambil membuka maskernya.
Alana yang melihat itu segera bangun.
"bagaimana dok keadaan kake"
Dokter itu mengehela nafas.
"Begini, penyakit jantung yang diderita Tuan Kendrick semakin parah. Maka dari itu kami menyarankan Tuan Kendrick di rawat terlebih dahulu di sini. Karena dengan begitu kami bisa lebih mudah mengawasinya" Dokter Andra memberi penjelasan
"lakukan yang terbaik dok" saut Papah
Dokter Andra pun mengangguk dan izin pamit kembali ke ruangannya.
Di Kantor.
Aldric sedang menandatangani berkas-berkas yang sudah diberi oleh Daven untuk di tanda tangani.
"Dav, bagaimana tanggapan mu tentang Alana" ujar Aldric ketika selesai menandatangani berkas
Daven mendongakkan kepalanya dan terdiam sejenak.
"mmm.... Nona Alana baik, ramah dan juga cantik"
Aldric melototkan matanya dan melemparkan pulpen yang ia pegang ke kening Daven.
"Aw.. Bos" ringis Daven
__ADS_1
"maksudku bukan itu, bagaimana tanggapan mu tentang Alana padaku. Apa ia mencintaiku atau tidak" ucap Aldric
"Ohh... begitu"
"mmm... oh ya kalau boleh tau kenapa tuan menanyakan hal itu? apa kau sudah mencintai-nya?" tebak Daven
"tidak, si-siapa yang kau maksud" jawab Aldric tergagap
Daven terkekeh dengan jawaban Aldric.
"Dengar Bos, aku sebagai Sekertaris dan sahabat mu. Hanya bisa memberitahumu lebih baik kau jujur saja tentang perasaanmu sebelum terlambat"
"sudahlah, jangan menasehatiku. Dan lupakan pertanyaanku tadi" Aldric pun melanjutkan tugasnya memeriksa berkas lagi
Daven menggeleng kepalanya melihat tingkah Aldric yang sudah mencintai istrinya namun belum menyadarinya.
Di sisi lain terlihat seseorang sedang memberi perintah pada bawahnya untuk menghabisi seseorang.
š: Aku tidak mau tahu, kalian pastikan bahwa rencana kita berhasil. Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun"
š: baik bos, kami akan melakukan yang bos perintahkan"
š: aku tunggu kabar baiknya"
...****************...
"apa, baiklah aku akan segera kesana" Aldric pun segera berlari dari ruangannya dan menyerahkan pekerjaan pada Daven
Alana telah memberi tahu Daven mengenai kondisi Kakek dan memintanya memberitahukannya pada Aldric.
Aldric terkejut saat Daven memberitahukan kondisi Kakek-nya dan melihat begitu banyak panggilan dan chat dari Alana, Mamah dan Ayahnya. Ia lupa menghidupkan kembali ponselnya yang ia matikan saat bertemu Natalie.
Sesampainya Di rumah sakit Aldric segera menanyakan ruangan kakek pada Resepsionis.
"Permisi, dimana ruangan Tuan Kendrick"
"Tuan Kendrick kini berada di lantai lima nomor 32 ruang VIP" ujar Resepsionis itu
Aldric pun segera pergi setelah mengetahui tempat ruangannya dengan menggunakan Lift.
Tak lama Aldric pun Sampai di ruangan sang kakek.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu terbuka.
Ia melihat Alana dan kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa. Terlihat wajah sendu Ketiganya.
"Mamah, papah, Alana" ujarnya
ketiganya mendongakkan kepalanya.
"Aldric kau sudah sampai..?" sapa mamah ketika melihat Aldric
Aldric pun menganggukan kepalanya.
"Hm..."
kemudian ia duduk di samping Alana.
Setengah jam berlalu, mamah yang lelah menangis tertidur di susul papah yang lelah saat perjalanan dari kantor. Menyisakan Aldric dan Alana yang masih terjaga. Namun selama itu juga entah mengapa Alana terlihat berbeda dari biasanya, dan terlihat lebih pendiam. Biasanya ia akan cerewet menanyakan kabarnya atau kenapa ponselnya tidak dapat di hubungi?.
Aldric pun memulai percakapan.
"Alana, apa kau sudah makan?" tanyanya
namun hanya dijawab anggukan oleh Alana.
Aldric tidak mempermasalahkan anggukan Alana karena ia pikir mungkin istrinya tengah lelah.
Padahal Alana belum makan, hanya sarapan pagi tadi.
Aldric mencoba mengelus perut Alana, namun Alana menepisnya.
"lepaskan tanganmu Om"
"baiklah" Aldric pun menurut apa yang diucapkan Alana
š·š·š·š·š·š·š·š·.
Hayo lanjut gak nih?
Jangan lupa like vote dan coment biar author tambah semangat.
__ADS_1
š·š·š·š·š·.