
**Note: Baca ketika sudah berbuka puasa atau di malam hari. šš¤£
Aldric** dan Alana tengah berada di perjalanan menuju kediaman baru mereka dengan suasana hening. Aldric masih merasa kesal dengan kejadian di restoran tadi. Sedangkan Alana masa bodoh dengan itu karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Om berhenti" seru Alana ketika melihat pedagang di pinggir jalan
kebetulan sekarang adalah hari sabtu sore dimana banyak para pedagang menjajakan dagangannya di pinggir jalan seperti pasar malam. Sedangkan yang dipinggir jalan adalah abang-abang yang menjual makanan seperti cilok,cimol,Dan Kawan-Kawan.
Aldric pun menepikan mobilnya. Alana pun turun dari mobil, tak lama ia pun menyembulkan kepalanya ke dalam mobil dan meminta uang pada Aldric. Aldric pun terkejut dengan tingkah konyol Alana.
"astaga, kau mengagetkan ku saja" ucapnya sambil mengusap dada
Alana pun mengadahkan tangannya dan disambut oleh tangan Aldric.
"ih.. omm" rengek Alana
"apa lagi"
"aku ingin jajan dan membutuhkan uang bukan salim tangan" seru Alana
"jika itu mau mu kenapa tidak bilang dari tadi" ujar Aldric sambil mengambil uang cash pada dompetnya
__ADS_1
Alana pun mengambilnya sambil menggerutu.
"dasar pria, makhluk yang tak peka"
Aldric yang mendengarnya seketika akan menjawab, tapi Alana sudah terlebih dulu pergi menuju abang-abang penjual makanan.
Tak lama Alana kembali dengan berbagai makanan. Di antara-nya ada cimol, cilok, sempol ayam, bakso goreng, bakso bakar, beserta minuman es jeruk. Kemudian ia masuk mobil dan duduk di pinggir kemudi. Setelah duduk ia pun menawari Aldric makanan yang ia beli.
"Om mau tidak?."
"makanan apa itu?. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi jajanan pinggir jalan itu tidak sehat" seru Aldric
"Om, kalau tidak mau ya tidak papa. Tapi jangan menghina makanan tersebut. Aku pun tidak memaksa om memakannya" jawab Alana kemudian fokus memakan makanannya.
Aldric yang tau Alana tengah marah dengan mendiaminya dan fokus pada makanannya. pun melajukan mobilnya kembali. Toh Alana pasti akan berhenti marah karena ia tahu bahwa Alana tidak akan bisa lama-lama jika marah. Pasti ada saja ucapan yang keluar dari mulutnya.
***
Mereka pun sampai di kediaman baru mereka.
Alana turun dari mobil begitu saja tanpa menyapa Aldric. Aldric yang melihatnya agak sedikit marah dan kesal. Apa karena hal sepela Alana mendiaminya sampai segitunya. Ia pun menyusul Alana yang sudah masuk lebih dulu.
__ADS_1
Aldric pun menarik lengan Alana menuju lantai atas kamar mereka. Alana yang terkejut pun akan melontarkan protesnya namun seketika bibirnya di bungkam oleh Aldric dengan mulutnya.
"Om,Apa yang kau ummch.." Aldric pun semakin ******* kasar bibir Alana. Tangannya tidak tinggal diam ia pun mengusap punggung Alana dan meremas bokongnya.
"ah.." Aldric pun semakin tak tahan dengan ******* Alana
tangannya pun berpindah pada gunung Alana.
"Ah..ah..hentikan om." racau-nya sembari memegang lengan Aldric yang meremas buah dadanya
Aldric pun membawa Alana ke ranjang dan menindihnya. Ia sudah tidak tahan, Aldric pun memegang bagian sensitif Alana tapi tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke pinggir Alana dan mengusap wajahnya.
"kenapa kau tidak bilang" ujar Aldric sembari menahan hasratnya yang menggebu-gebu
"dari tadi aku sudah bilang jangan, tapi om tetap saja melanjutkan nya" jawab Alana
"kau tunggulah disini, aku harus menidurkannya terlebih dahulu" ujar Aldric sambil berlari ke kamar mandi
Alana pun tertawa pelan.
Ia pun tidak tahu karena saat tadi ia turun dari mobil sebenarnya sudah merasakan sesuatu yang keluar dari arah sensitif nya. Ia pun buru-buru keluar tanpa menyapa Aldric tetapi Aldric malah menariknya ke dalam kamar.
__ADS_1
š·š·š·