My Husband Is An Adult Male

My Husband Is An Adult Male
69. Detik-Detik Kelahiran


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Selama ini di lalui kebahagiaan oleh Alana. Mendapat mertua yang baik, suami yang pengertian sungguh idaman bagi setiap wanita di dunia ini.


Semua orang bahagia, tentu saja. Lain halnya dengan Aldric selain bahagia ia pun merasakan kecemasan karena akan melewati persalinan.


"Tarik nafas keluarkan secara perlahan"


Alana pun mengikuti instruksi Aldric.


"Ayo sedikit lagi"


Alana pun mengejan dan


"Honey apa kau tidak lelah, kita sudah hampir satu jam melakukannya" ujar Alana


Mereka sedang berada di dalam kamar, sedari tadi mereka khususnya Aldric yang meminta Alana berlatih untuk melahirkan. Alana memutar bola matanya jengah dengan kelakuan Aldric.


"Honey kau tahu bahwa ini bukan pertama kalinya aku akan melahirkannya"


"No baby, kau harus berlatih agar saat melahirkan nanti kau tahu apa yang harus dilakukan, bisa saja kau lupa" jawab Aldric tanpa dosa


menurut Alana, Aldric sungguh konyol. Bagaimana bisa lupa? sementara saat melahirkan bayinya sendiri yang mencari jalan untuk keluar, dan sang ibu otomatis mengerti apa yang akan dilakukan lagi pula Dokter akan memberikan instruksi dan membantunya dalam persalinan.


"Aaaaaa... honey apa yang kau lakukan, lepaskan ini sakit" teriak Aldric


"Rasakan ini"


Alana yang sedari kesal menjambak rambut Aldric tanpa mendengar ucapan Aldric.


**


Malam hari tiba.


Alana terbangun karena merasakan mulas di perutnya. Dirinya meringis merasakan sakit di pinggangnya.


Aldric yang mendengar rintihan istrinya pun terbangun.

__ADS_1


"Sayang apa kau merasa sakit lagi" tanya Aldric panik dan mengelus perut Alana yang buncit


"Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?"


Alana menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, sakitnya sudah hilang" jawab Alana tanpa beban sepertinya kontraksi palsu lagi


menjelang persalinan, Alana sering mengalami hal ini terkadang tiba tiba bangun dari tidurnya atau merasakan sakit di perutnya seperti akan melahirkan dan selalu membuat Aldric cemas. Dan saat Alana menanyakannya pada Dokter kandungan yang melayaninya ternyata itu adalah hal wajar di mana sang ibu pasti merasakannya menjelang persalinan. Ternyata Aldric benar, bisa jadi ia lupa meski sudah pernah melahirkan Edbert.


Saat Aldric dan Alana akan tidur lagi, tiba-tiba Alana meringis kembali merasakan sakit di pinggangnya yang semakin menjadi.


"Honey.. ah..ssh" ucapannya meremas lengan Aldric


"Sayang" seru Aldric saat lengan Alana semakin kencang mencengkram lengannya


"Sayang kau pasti akan melahirkan, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang"


Alana menahan lengan Aldric.


Aldric melepaskan tangan Alana dari tangannya tanpa babibu Aldric langsung menggendong Alana ala Bridal style. Dirinya kesal lantaran Alana begitu bandel di beritahu, bukankah Dokter hanya manusia biasa dan hanya memperkirakan. Bisa saja lebih cepat atau lebih lambat dari perhitungan sang Dokter.


Sebelum itu Aldric ke kamar Bi Nani untuk memberitahu Alana akan melahirkan.


"Bi, bibi" teriak Aldric sambil menggedor-gedor pintu dengan kaki-nya


tak lama pintu terbuka menampilkan wajah bantal Bi Nani yang terkejut.


"Tuan"


"Bibi cepat ikut aku, dan bawa perlengkapan bayinya yang ada di kamar, Alana akan melahirkan sekarang" ucap langsung


"Baik Tuan" bi Nani pun segera bergegas mengambil perlengkapan bayi di kamar tuannya yang sudah di siapkan jauh-jauh hari


Aldric juga segera berteriak memanggil supir untuk menyiapkan mobil.

__ADS_1


"Bibi duduk di depan, biar aku yang di belakang" ujar Aldric Ketika melihat bi Nani yang akan masuk ke kursi belakang


"Baik Tuan" Bi Nani segera masuk ke dalam mobil


di perjalanan Bi Nani menelpon Bi Lita dan Tuan serta Nyonya besarnya memberi tahu Alana akan segera melahirkan. Untung saja Edbert tidur bersama Bi Lita. Sebab memasuki usia kehamilan Alana yang semakin bertambah Aldric mengusulkan Edbert untuk tidur bersama Bi Lita karena ia tidak mau Alana kelelahan meski awalnya sulit, tetapi Edbert sudah sekitar dua bulan tidur bersama sang pengasuhnya.


"Bertahanlah sayang, sebentar lagi kita sampai" ucap Aldric


ia berkeringat dingin ketika melihat Alana diam saja menahan sakit.


"Pak lebih cepat lagi" seru Aldric


"Baik Tuan" pak Ujang pun menambah laju kendaraannya


sesampainya di rumah sakit. Alana langsung di bawa ke ruang persalinan oleh Dokter Mia.


"Baru pembukaan lima" ucap Dokter Mia


"Tidak salah? apa kau tidak lihat istriku kesakitan?" teriak Aldric


Alana yang kesal mencubit Aldric dengan


kencang.


"Aw, kau kenapa mencubitku sayang" tanya Aldric


Aldric heran meski dalam keadaan seperti ini tenaga Alana kuat mencubit lengannya hingga merah.


"Kau bisa diam tidak sih? Dokter Mia adalah seorang dokter, dia pasti tahu apa yang harus di lakukan, jika om tidak mau diam, om bisa keluar" seru Alana


Aldric pun menggelengkan kepalanya, ia tidak mau keluar. Apapun yang terjadi ia harus menemani Alana melahirkan anak keduanya.


Sedangkan Dokter Mia ikut geram mendengar ucapan Aldric, enak saja apa dia bilang tadi? salah?. ck sudah belasan tahun ia menjadi Dokter dan seenaknya Aldric mengatakan hal itu. Namun apa daya di depannya adalah Tuan Muda pemilik Rumah sakit ini lagi pula ia senang mendengar ucapan bela dari Alana.


"Tuan, sebaiknya anda ikut membantu mengusap pinggang Nyona Alana setidaknya membantu meredakan rasa sakitnya dari pada diam saja" ujar Dokter Mia dengan senyuman, meski kesal ia harus profesional

__ADS_1


"Baiklah" Aldric pun mengikuti saran Dokter Mia


__ADS_2