
Satu minggu kemudian, Alana telah pulang dari rumah sakit. Begitu pun dengan kakek, Kakek sudah pulang terlebih dulu dua hari sebelum kepulangan Alana.
"Selamat datang Baby Edbert" ucap semua orang menyambut kedatangan Alana dan Baby Ed
Semua menyambut kepulangan Alana. Di mulai dari kakek, Kedua sahabat Aldric, Nadia, dan Radit beserta istrinya Jeslin telah hadir di Mension keluarga Hugo. Semua pelayan pun ikut menyambut kepulangan majikan mereka. Mereka semua mendekor ruang tamu dengan balon dan foto Edbert dalam gendongan Alana dan Aldric yang tengah berdiri di belakang Alana yang terduduk, berukuran besar.
"Terima kasih semuanya" ujar Alana terharu
mereka mengucapkan selamat pada Alana dan juga Aldric. Dan bergembira atas kelahiran Edbert.
"Selamat Bro, akhirnya kau sudah menjadi seorang Ayah"
"Alana, Aldric selamat. Kalian sudah menjadi orang tua"
"selamat Alana, atas kelahiran bayimu"
"terima kasih sayang, kau telah melahirkan pewaris untuk keluarga Hugo"
"Nyonya, tuan, aku mewakili semua pelayan di sini untuk mengucapkan selamat atas kelahiran tuan muda"
Begitulah beberapa kalimat yang diucapkan mereka.
"Sudah-sudah, kalian semua lebih baik duduk dulu di sofa, Aldric bawa Alana juga. Mamah sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi" ujar mamah dan memberikan Edbert pada Jeslin.
mereka juga saling berebut menggendong Edbert.
"pelayan, siapkan minum dan cemilan" teriak mamah sambil berlari ke kamar mandi yang ada di atas
Semua orang menertawakan kelakuan mamah.
__ADS_1
"Dasar mamah, ada-ada saja" ucap papah
Di Ruang tamu, tengah ramai dengan suara mereka yang sedang bercengkrama.
Para wanita sedang membicarakan seputar kelahiran, sementara para pria membicarakan tentang mereka. Untung saja papah dan kakek sudah pergi ke kamar masing-masing dan membiarkan para anak muda berkumpul.
"Alana, bagaimana rasanya melahirkan? aku dengar melahirkan itu sakit" tanya Nadia
semua orang menatap Alana ingin segera mendengar penjelasannya.
"Aku tidak begitu merasakannya. Yang ku tahu saat itu aku merasakan sakit di dadaku karena tusukan itu serta perutku, dan saat Aldric membawaku ke rumah sakit aku sudah tak sadarkan diri, tahu-tahu perut ku sudah kempes" jawab Alana panjang lebar
Semua orang yang tadinya fokus mendengar cerita Alana seketika teralihkan dengan tawa Bryan sambil memukul-mukul bahu Aldric yang berada di dekatnya.
"Hei... kenapa kau memukul ku dan tertawa sendiri, dasar gila" seru Aldric
"Begini nih, punya teman yang absurd dan random" celetuk Davin
"Memangnya siapa yang ingin menjadi temanmu?" Bryan menjawab celetukan Davin
Davin mencibir jawaban Bryan.
"Oh iya, bagaimana ceritanya Tasya bisa melukai Alana" tanya Radit menghiraukan Davin dan Bryan yang beradu mulut
mereka juga ikut penasaran mendengar penjelasan Aldric. Kecuali, Davin dan Alana. Aldric pun menceritakan semua kejadian tersebut di mulai Tasya yang datang ke kantornya sampai Alana sadarkan diri.
"Emang dasar tuh ulet keket, gue bilang apa? si ulet keket itu emang mata duitan. Untung gue gak kepincut meski yah gue gak bohong secara fisik menarik, wajahnya cantik dan body yang aduhai" seru Ethan yang sedari dulu tak menyukai Tasya
"Benar, gue juga nyesel kenal sama dia, tapi akhirnya gue bisa ketemu sama Natalie dan bisa terlepas dari jeratan Tasya" ucap Aldric keceplosan
__ADS_1
Aldric melototkan matanya dan memukul bibirnya pelan karena telah dengan lancangnya mengucapkan hal.
"Astaga, bisa-bisa singa betina marah, dan si Joni bisa puasa lama" batin Aldric
"wah-wah, kau dengar Alana.. hmmm" ujar Ethan berusaha mengompori Alana
"kode ini mah, gak dapet jatah satu tahun" Bryan, Davin dan Radit menanggapi ucapan Ethan
Aldric menoyor kepala mereka satu persatu.
"Tidak Alana, jangan hiraukan ucapan mereka" ujar Aldric
mendapat toyoran Aldric, membuat mereka bertambah semangat mengompori Alana dan membuat ricuh ruangan di tambah dengan pembelaan Aldric, suasana yang tadinya ramai menjadi lebih ramai karena para pria yang sudah bukan anak kecil tersebut kini saling berperang bantal sehingga Baby Edbert menangis kencang, karena bantal yang di lempar Aldric mengenai Edbert namun terhalang lengan Nadia. Dan membuat Alana bertambah marah pada Aldric
"Diammmmm" teriak Alana dan membuat para pria seketika diam
para wanita mencoba menenangkan Baby Edbert yang menangis kencang.
Sedangkan para sahabat dan teman Aldric sedikit tertawa melihat Alana menjewer telinga Aldric. Seorang Aldric Hugo, takut pada bocah seperti Alana.
"Rasakan ini"
"aaa.... sayang" teriak Aldric
š·š·š·š·š·.
Yuhuuuu.......eh kalian sama gak kayak Bryan kalau lagi ngumpul? janganlah hal random liat muka teman aja kadang suka ngakak tiba-tiba. š·š·š·
Jangan lupa like, vote dan coment nya readers. š š š.
__ADS_1