My Husband Is An Adult Male

My Husband Is An Adult Male
62. Mangga Muda


__ADS_3

"Huwek, huwek, huwek"


"Alana sayang" panggil Aldric ketika mendengar suara orang muntah di kamar mandi


Aldric pun melepaskan Jas nya dan melemparnya dengan asal di sofa.


"Bagaimana? apa sudah baikan?" tanya Aldric yang membantu Alana


Alana mengangguk lemah. Alana membasuh wajahnya di wastafel. Aldric pun membantu Alana kembali ke kasur.


"Sayang kau jangan nakal yah, kasihan mamah mu" ucap Aldric sembari mengusap perut Alana yang masih datar


"padahal usianya sudah dua bulan, kenapa masih muntah muntah" Aldric kasihan melihat Alana terkadang istrinya itu bisa seharian di atas kasur karena kehamilannya itu.


"Honey setiap ibu hamil itu berbeda beda, jadi jangan di samakan, lagi pun aku senang dan di kehamilan ini kita benar benar merasakan yang biasa ibu hamil merasakannya"


"Honey aku ingin mangga muda" pinta Alana


"Baiklah kau tunggu dulu aku akan mengambilnya di kulkas"


"Honey..." teriak Alana saat Aldric segera bergegas keluar kamar


Aldric menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Ada apa, apa kau butuh sesuatu yang lain?"


"aku tidak mau mangga itu"

__ADS_1


"loh katanya tadi mau mangga?"


"aku tidak mau mangga yang di kulkas, aku ingin mangga yang langsung di petik dari pohonnya"


"oh... kalau begitu aku akan menyuruh pak Ujang untuk mengambilnya"


"Honey...."


"apa lagi...."


"aku ingin Honey yang memanjatnya"


"apaaa..." Aldric melototkan matanya


Apa dia salah dengar? pasalnya ia tidak pernah memanjat pohon setelah sekian lama, terakhir ia memanjat saat usia sembilan tahun pohon mangga milik sang kakek.


"Bukan aku, tapi anakmu" ucap Alana sambil menatap Aldric dengan puppy eyes-nya


karena ia berjanji akan menjadi suami dan ayah yang siaga.


Alana bersorak gembira karena keinginannya terkabul.


Di kehamilan kedua ini Alana memang agak sedikit berbeda dari kehamilan sebelumnya. Alana yang biasa ceria dan aktif, kini menjadi Alana yang cengeng dan manja.


......................


"apa sudah cukup" teriak Aldric di atas pohon

__ADS_1


"iya sudah cukup" Alana pun mengumpulkan mangga yang baru saja di petik Aldric di atas


"Astaga, bagaimana caranya turunnya" gumam Aldric ketika melihat ke bawah ternyata dirinya cukup tinggi memanjat


"ayo tuan cepat turun hari sudah mulai gelap" teriak pak Ujang dari bawah


ya, meskipun hari sudah sangat sore Aldric dan Alana memutuskan tetap memanjatnya sekarang, mereka mengambil mangga milik tetangganya yang memiliki pohon mangga dan dengan baiknya mengizinkan Alana untuk mengambil mangga sepuasnya karena memang berbuah lebat dan kebetulan mangganya masih muda meski sudah ada yang matang. Alana dan Aldric pergi bersama Pak Ujang.


Aldric masih diam di atas dirinya benar benar takut melihat ke bawah.


"Tuan ayo turun" ucap Pak Ujang sekali lagi


"Honey ayo cepat nanti Edbert menangis jika terlalu lama di tinggal" sambung Alana


"Alana aku tidak bisa turun, aku takut" teriak Aldric dari atas


"ck, masa naik bisa turun tidak bisa sih cepat turun Honey, jangan bercanda sebentar lagi menjelang Maghrib" Alana berkacak pinggang


Alana mengira Aldric sedang bercanda.


"Alana aku tidak sedang bercanda aku benar benar takut, apa kau tidak bisa melihat kaki ku yang bergetar"


"astaga honey, baiklah kau turun saja dan jangan lihat ke bawah aku dan Pak Ujang akan memegang tangganya" jawab Alana


Aldric pun mengikuti instruksi dari Alana, perlahan ia turun tanpa melihat ke bawah. Tinggal beberapa anak tangga lagi, kaki Pak Ujang merasakan sesuatu yang menggigit kakinya reflek kaki pak Ujang menendang tangganya.


"aa aaa..."

__ADS_1


Duk.


Bruk.


__ADS_2