
Seperti yang sudah di rencanakan, Alana sudah memasak dan bersiap untuk pergi ke kantor Aldric.
"Nona Alana, pak Roy sudah menunggu di depan" ucap salah satu pelayan Mension
"Baiklah sebentar lagi aku akan turun" Alana segera bersiap dan turun ke bawah
sesampainya di depan pak Roy heran melihat Alana yang sudah rapih dengan Edbert yang berada di gendongannya serta rantang makan yang di pegang. Melihat Nona nya kewalahan, pak Roy langsung mengambil rantang makan tersebut.
"Loh Non, non Alana ikut juga? tuan bilang hanya mengambil masakannya saja" tanya pak Roy saat Alana akan masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang
"aku ikut lah pak, bapak kan tau sendiri om Aldric kayak apa kalau gak diturutin. Eh tapi jangan bilang om Aldric kalau Alana ikut ya pak hehe..." jawab Alana sambil memperlihatkan giginya yang putih
"siap Non..." Pak Roy pun segera melajukan mobilnya ke kantor
sementara di kantor. Aldric tengah cemberut lantaran pesan yang di balas Alana.
"Memangnya apa susahnya menuruti keinginanku? hanya tinggal memasak dan bersiap. Lagi pula jika memang malas keluar bisa disini dulu, bukankah ada ruangan khusus juga untuk beristirahat sambil menungguku pulang" Aldric berbicara sendiri di meja kerjanya
sedangkan Davin yang satu ruangan yang sama dengan Aldric menggelengkan kepalanya melihat kelakuan bosnya yang seperti anak kecil, apa tidak ingat umur? bahkan Alana yang lebih muda dari Aldric terlihat lebih dewasa dari usianya.
"hah, benar-benar" batin Davin sambil mengehela nafas
Aldric pun menghubungi pak Roy untuk mengambil masakan Alana.
kembali pada Alana dirinya sudah berada di depan kantor sang suami. Pak Roy hanya mengantar saja dan langsung memarkirkan mobilnya.
"Wah apa ini kantor suamiku? tinggi sekali" kagum Alana pada bangunan tinggi di depannya
"Non Alana kenapa masih di sini, ayo cepat masuk" ucap pak Roy yang masih melihat Alana di depan gedung
"eh-e, iya pak" Alana pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam Kantor
semua orang membungkuk hormat melihat Alana berjalan, Alana membalas dengan senyuman. Mereka sudah mengetahui Alana adalah istri bos mereka, meski Alana belum pernah datang ke kantor dan mereka pun belum melihat secara dekat istri bos nya. Hanya di foto dan berita di sosial media.
"Wah istri bos kita cantik juga ya, ramah lagi"
"benar, bahkan lebih cantik aslinya dibanding dengan fotonya"
"iya, wah pasangan yang serasi, dan wah apa itu adalah putra mereka? tampan sekali!"
"jika iya, astaga!! aku iri sekali, mereka keluarga yang sempurna"
__ADS_1
"lihatlah bayi didalam gendongannya tampan sekali, aku ingin sekali mencubit pipinya"
"mau di potong tanganmu oleh bos jika sampai mencubit pipi putranya"
"habisnya dia menggemaskan sekali...." ucap salah satu staf wanita sambil menggigit jarinya
begitulah kusak kusuk suara mereka yang di lalui Alana, namun Alana menghiraukan saja.
Sesampainya Alana di depan ruangan Aldric ia terdiam dulu sambil mengehela nafas.
"Baiklah sayang, mari kita berikan papah kejutan"
seolah mengerti yang dikatakan sang mamah, Edbert tersenyum menanggapi.
"Oh sayang kau manis sekali..."
tok tok tok.
pintu diketuk.
"siapa?" tanya Aldric
"saya tuan"
"masuklah" ujar Aldric
Alana masuk dengan pelan, sedangkan pak Roy kembali ke bawah.
Alana memberi isyarat pada Davin agar tidak bersuara. Sedangkan posisi Aldric membelakangi meja kerjanya sambil menutup matanya. Sepertinya suaminya sedang lelah.
"Taro saja di situ, kau boleh pergi" ucap Aldric mendengar suara rantang yang ditaruh di meja kerja
merasa tak ada suara berjalan Aldric berinisiatif memutar kursi kerjanya. Matanya melotot melihat istrinya yang cantik dengan wajah yang natural dan rambut yang diikat sambil menggendong sang putra.
"Kau.... kenapa kau disini?" tanyanya reflek berdiri
"kenapa?... oh jadi kau tak senang jika aku ke sini? baiklah Edbert lebih baik kita pergi dari sini"
Alana berpura-pura marah dan akan melangkahkan kaki ke arah pintu.
"eh tidak bukan maksudku begitu, saking bahagianya aku reflek mengatakan hal itu, karena kau sendiri yang mengatakan malas keluar rumah. Jadi ku pikir kau tak akan datang ke sini" ujar Aldric panjang lebar mencoba menahan Alana yang akan kembali pulang
__ADS_1
"mana mungkin aku tidak menuruti perintah om, baiklah sekarang cepat makan setelah itu aku akan pulang kembali"
"eh enak saja, kau harus menungguku sampai pulang"
"bukankah kau bilang hanya membawakan makan saja? lalu kenapa tiba-tiba harus menunggu sampai pulang?"
"karena kau sudah berani membohongiku" ucap Aldric sambil mengambil Edbert dari gendongan Alana
"oh kesayangan papah, papah rindu sekali padamu"
"Om, jangan seperti itu nanti dia akan menangis" ujar Alana melihat Aldric yang gemas mencium Edbert yang sepertinya akan menangis karena ciuman bertubi-tubi dari sang papah
"biarkan saja..." ucap Aldric kembali mencium pipi Edbert dengan gemas
Davin yang melihat kebahagiaan keluarga tersebut pun berinisiatif keluar karena tak mau mengganggu dan juga sekarang sudah waktunya jam makan siang.
"Eh Davin kau mau kemana?, ayo kita makan bersama kebetulan aku memasak banyak!" ajak Alana melihat Davin yang akan keluar
"tidak Alana, aku sudah ada janji dengan temanku untuk makan siang bersama" bohong Davin
"yah sayang sekali, nanti makannya bisa kebuang, aku dan Aldric tak akan bisa menghabisi semua"
"Davin kau jangan membuat istriku bersedih"
"tapi tuan"
"sayang kau bagi saja makanan tersebut untuk dibawa Davin" titah Aldric pada Alana. Hampir dua puluh lima tahun kebersamaannya dengan Davin, Dirinya tau Davin sedang berbohong tak mau mengganggu mereka. Mangkanya ia menyuruh Alana memisahkan makanan untuk Davin.
Davin pun tersenyum dengan ucapan Aldric.
"Terima kasih Alana" Davin berterimakasih setelah itu pergi dari ruangan
kini giliran Aldric yang menyantap makan siangnya, benar saja keinginan Aldric untuk Alana membawakan makan siang bukan hanya sekedar membawakan. Buktinya sekarang Alana sedang menyuapi Aldric dengan alasan tangannya tak bisa karena sedang memegang Edbert.
"modus" seru Alana sambil menyuapi Aldric
Aldric hanya tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
š·š·š·š·š·.
wah ada yang seneng gak nih lihat notif dari author? š
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan coment biar author tambah semangat.
š·š·š·š·.