
Bruk.
"Astaga honey"
"Tuan"
"Aaa.. Alana" Aldric memegang pinggangnya yang terasa patah
"Honey apa kau tidak papa?" tanya Alana panik
"Aaa. Pinggangku sakit"
Alana dan Pak Ujang pun segera membantu Aldric. Alana yang sedang hamil pun menyuruh pak Ujang memapah Aldric sedangkan dirinya membawa mangga tersebut dan berjalan di belakang.
"Assalamualaikum" ucap Alana ketika sampai dirumah
"Wa'alaikumsalam. Astaga Non apa yang terjadi pada Tuan" tanya Bi Nani terkejut
sedangkan Bi Ani dan Bi Lita meringis melihat majikannya.
pak Ujang pun memapah dan mendudukan Aldric di sofa.
"Aa. pelan pelan pak"
"Maafkan saya Tuan" pak Ujang pun membaringkan tubuh Aldric di sofa dengan hati-hati
"Om Aldric terjatuh saat turun dari pohon mangga milik Nyonya Devina dan ya aku minta tolong pada bibi, tolong panggilkan tukang pijit kemari" jawab Alana
__ADS_1
"Baiklah, sebentar bibi akan memanggil tukang pijat dulu" Bi Nani dan pak Ujang bergegas memanggil tukang pijat
kebetulan rumah tukang pijat tersebut dekat perumahan komplek dan mereka mengenalnya. Karena tukang pijit tersebut sudah menjadi langganan orang orang di komplek tempat tinggal dan sering dipanggil untuk memijit jika ada yang ingin memakai jasanya.
"Astaga kakak ipar kenapa?" tanya Ema. Ema yang turun dari tangga terkejut melihat Aldric meringis saat pinggangnya di usap Alana
"Kakak iparmu terjatuh dari tangga saat mengambil mangga"
Ema hanya ber oh ria dan duduk di sofa.
"Dimana Edbert?" Alana bertanya balik
"Baby Edbert sedang tidur setelah Bi Lita memandikannya"
"Oh iya aku akan kembali ke kamar untuk menemani Edbert" ucap Ema ketika Bi Nani dan Pak Ujang datang bersama tukang pijat
Aldric pun menyuruh Alana agar tidak jauh jauh darinya dan duduk di samping ia berbaring.
"Sayang kau tetaplah disini"
"Baiklah" Alana pun menuruti permintaan Aldric
"Baik Tuan. Tunggu sebentar" tukang pijit itu memoleskan minyak pada pinggang Aldric
awalnya pijatan itu terasa pelan dan enak di pinggang Aldric. Namun lama kelamaan pijatan itu semakin cepat dan
krek.
__ADS_1
"Aaaaaa Alana" teriak Aldric
...****************...
Di Apartemen Davin tepatnya di atas kasur empuk miliknya. Kini Davin sedang senyum senyum sendiri sambil memegang ponselnya.
Pasalnya saat ini ia sedang tertarik dengan seorang wanita yang ia tabrak kala itu. Ya, Elena lah orangnya.
Awalnya Davin begitu kesal pada sikap Elena yang menurutnya lebay. Elena mengatakan Karena dirinya, kemungkinan dia tidak akan bisa makan. Kemana orang tuanya? tega sekali mereka membuat putrinya kelaparan hanya karena kakinya luka dan belum bisa berjualan. Davin penasaran dia menyelidiki informasi tentang Elena. Ia terkejut sekaligus terharu ternyata gadis tersebut adalah yatim piatu dan tinggal bersama sang nenek biasanya Elena dan sang nenek berjualan di tempat berbeda. Namun saat ini nenek nya tengah sakit dan saat ini ia sendiri yang mencari uang dengan hasil kebun yang di tanam.
Davin pun berinisiatif bertanggung jawab dan mentransfer uang pada Elena sampai kakinya benar benar pulih. Awalnya Elena menolak namun mau tidak mau ia harus menerimanya karena memang tidak ada pilihan lain selain itu dan untung saja Elena tidak terlalu kuno dengan pemakaian ATM sebab ia sudah memilikinya.
Seperti saat ini Davin baru saja mengirimkan sejumlah uang kebutuhan Elena sampai bulan depan.
Elena: Davin terima kasih atas bantuan dan kebaikan mu dan maafkan aku juga sudah salah paham dan menilaimu buruk. Suatu saat nanti aku akan mengembalikan uang ini karena memang sudah lebih dari cukup atas tanggung jawabmu padaku.
Davin: Kau tidak usah berterima kasih dan jangan memikirkan hal itu. Aku bertanggung jawab atas kesalahan yang ku buat.
Elena: Tapi ini lebih dari cukup
Davin: sudah lah. Lebih baik kau tidur ini sudah malam
Elena: baiklah sekali lagi terima kasih, selamat malam. Semoga mimpi indah
Davin tersenyum membacanya. Dirinya pun hanya membalas ucapan selamat malam Elena dan terlihat ceklis satu. Rupanya Elena sudah tidur.
"Sepertinya benar aku akan bermimpi indah malam ini" gumamnya kemudian menyusul Elena ke dalam mimpi indahnya
__ADS_1