
"Alana malam ini aku akan pergi menemui Natalie. Apakah tidak papa aku tinggalkan?" ujar Aldric ketika mereka sudah berada di dalam kamar
Alana terdiam sejenak, ia menghela nafas kemudian berbalik menghadap Aldric.
"Apa harus?" tanya nya sendu
"Alana, kau sudah tau kan selama ini aku sudah jujur padamu. Bahwa aku sudah memiliki kekasih dan kau pun tau itu" jawabnya dengan sedikit kesal dengan pertanyaan Alana
"Dan yah, jangan karena aku mulai menerima mu kau jadi seenaknya melarang ku untuk bertemu dengan kekasihku" lanjutnya kemudian ia berlalu dari hadapan Alana
Sakit, itu yang Alana rasakan.
Berjalannya waktu mereka bersama dan kejadian pada malam itu. Tak mengubah perasaan Aldric pada dirinya. Malah semakin membuat hubungan mereka seperti berjarak.
Dan yah, apa yang pria itu katakan dulu?. Bahwa Ia tidak akan mempermainkan pernikahan. kontrak perjanjian atau sebagainya. Nyatanya apa yang pria itu lakukan tak seperti ucapannya. Memang mereka tidak melakukan kontrak namun tetap saja perbuatan Aldric melukai perasaannya.
Hati seseorang memang sulit untuk kita tebak, tapi perasaan kita sendirilah yang bisa kita kendalikan.
"Oh, Om jangan pergi... Jangan tinggalkan aku.. Huhuhu..." ucap Alana sambil memperagakan adegan menangis seperti wanita yang malang
__ADS_1
"Huh. Apa karena aku bukan wanita seksi dan cantik yang menjadi idamanmu?. Apa karena aku hanya seorang wanita yang masih bocah? astaga Om, awas kau! pria tua yang tidak bersyukur, seharusnya dia bersyukur memiliki diriku yang masih muda. Eh tapi jika aku bukan tipenya bukankah dia terlihat menikmati ketika kami melakukannya malam itu?" lanjutnya ketika melihat kepergian Aldric dengan mata menyipit seperti ingin mencabik-cabik mangsanya
"Hah,.. Aku bukan wanita lemah yang menangis karena cintanya di tolak, dan yah akan aku tunjukkan siapa diriku sebenarnya Om" tunjuknya pada diri sendiri
karena hari sudah petang Alana pun memutuskan untuk mandi karena jujur badannya sudah lengket ingin segera berendam di bath-up dengan sabun aroma terapi yang mampu menghilangkan kekesalannya. Ia juga akan berfikir bagaimana cara menaklukan tuan suaminya yang egois
"Let's start this game" teriak-nya dalam hati
*********
Sesuai ucapan Aldric waktu sore tadi. Kini ia tengah bersiap-siap untuk pergi menemui Natalie di sebuah Restoran ruang VIP yang sudah di pesannya. Ia memakai kemeja putih di padukan dengan setelan jas berwarna Abu yang sesuai dengan warna celananya. Dan juga jam tangan di pergelangan-nya
Ia pun menyemprotkan parfum kesukaannya yang beraroma maskulin.
"Bagaimana, penampilanku" tanya-nya pada Alana yang berada di atas kasur sambil memperhatikan dirinya sedari tadi
Alana memutar bolanya malas. Aneh sekali seorang suami menanyakan penampilan pada istrinya ketika akan menemui wanita lain.
"Mmm... Om seperti pria berumur tiga puluh tahun. Terlihat sedikit tua" celetuk nya asal
__ADS_1
lain dimulut lain dihati, penampilan Aldric kini terlihat sempurna di mata Alana dengan penampilannya seperti itu membuat Alana sedikit cemburu. Memang pria idaman wanita, badan yang bagus karena rajin berolahraga dan menjaga bentuk tubuhnya dan yah jangan lupakan wajahnya yang tampan. Pantas saja wanita tergila-gila padanya.
"Oh ho.. pasti kau berbohong. Aku tau aku terlihat tampan. Dan yah memang aku berumur tiga puluh tahun. Dan yah apa kau bilang, tua? Hei Justru di usia itu pesonaku bertambah, iya kan?" tebaknya dengan gaya so cool dan menghiraukan ucapan Alana
"Percaya diri sekali" batin Alana
"Kalau Om bisa menilai penampilan diri sendiri, kenapa musti bertanya padaku"
Perlahan Aldric mendekat ke arah wajah Alana.
"Karena aku suka menggodamu, sudahlah aku pergi dulu. Aku akan bersenang-senang. Bye" ucapnya meledek Alana dan pergi keluar
"Aaaaa. Awas kau" teriak alana di kamar
š·š·š·š·š·
Hai hai riders š jangan lupa like, coment dan vote biar author tambah semangat.
__ADS_1