
Sesampainya di lantai atas, Aldric membuka penutup mata tersebut dengan hati-hati.
"Dalam hitungan ketiga, kau baru boleh membuka mata"
Alana menganggukkan kepalanya.
"1, 2, 3"
Alana membuka matanya perlahan. Saat pertama kali membuka mata sebuah ruangan yang cukup luas seperti tempat Dansa yang Alana lihat. Dengan pencahayaan sedikit tamaram di temani cahaya rembulan dan hiasan lilin menambah kesan romantis mereka.
Alana terharu dengan kejutan yang Aldric berikan dan membalikkan badan menatap Aldric dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah itu Alana di kejutkan lagi dengan perlakuan Aldric yang berlutut di depannya sambil memegang kotak beludru berwarna biru dimana terdapat cincin berlian yang sangat Indah.
"Alana, maukah kau memulai dari awal bersamaku"
melihat respon Alana yang masih terdiam, ia pun melanjutkan ucapannya.
"Aku tau, mungkin selama ini kau sedikit tersakiti dengan ucapan ku di awal pernikahan kita, tapi aku berharap kau memaafkanku dan mau menerima diriku sepenuh hati dan kita memulainya dari awal, aku, kau dan anak-anak kita nanti"
Alana meneteskan air Matanya mendengar permintaan maaf dan ucapan Aldric, ia pun menarik Aldric untuk berdiri dan langsung memeluknya.
Aldric mengusap kepala Alana dengan sayang.
"Bagaimana?, apakah kau menerima lamaranku? kita menikah karena perjodohan, tapi sekarang aku akan menikah denganmu karena kemauan ku" ucap Aldric
Alana menarik kepalanya dari dada Aldric dan mengusap air matanya, Aldric pun ikut mengusap sisa air mata di pipi Alana.
"kita sudah menikah, bahkan aku tengah mengandung, bagaimana kita bisa menikah lagi?" tanya Alana polos
__ADS_1
Aldric yang melihatnya mencubit pipi Alana gemas dan berkata.
"Kita tidak harus mengucap Ijab Qabul, cukup dengan perayaan pernikahan yang besar" jawab Aldric
Alana yang sudah mengerti menganggukan kepalanya dengan antusias.
"Baiklah Om, aku menerimamu sebagai suamiku dengan sepenuh hati. Bukan hanya suami tapi belahan jiwaku dan Ayah dari anak-anakku kelak" ucapnya
Aldric pun kembali memeluk Alana dengan erat dan mencium wajah Alana bertubi-tubi, di sambung dengan ciuman di bibir Alana, bukan ciuman penuh nafsu tapi seolah-olah Aldric menyatakan perasaannya lewat ciuman tersebut.
******
Pagi hari Alana segera bersiap ke rumah sakit, Ia menaiki mobil Aldric dengan cepat.
"selamat pagi sayang" sapanya ketika Alana memasuki mobil
"selamat pagi sayang, selamat pagi juga Ayah" jawab Alana
Aldric yang mendengar kata sayang dari mulut Alana seketika menatap wajah alana.
"Apa yang kau bilang barusan?"
"apa? aku tidak mengatakan apa-apa"
"tadi"
"selamat pagi?" ucap Alana pura-pura tidak peka
__ADS_1
Aldric menggelengkan kepalannya.
"bukan"
"Ayah?"
Aldric memalingkan wajahnya ke depan terlihat ngambek. Alana yang melihatnya terkekeh geli.
Alana yang melihat hal itu semakin tertawa.
"baiklah, baiklah. Sayang" jawab Alana
Aldric langsung tersenyum dan mencium pipi Alana. Alana yang di cium tersipu malu
saat di cium Aldric
Pertama Aldric akan mengantar Alana ke rumah sakit setelah itu ia baru pergi ke kantor.
"Dah Om, aku pamit dulu" ucap Alana ketika turun dari mobil
Aldric mengangguk kepalanya.
Alana pun melangkahkan kaki ke Rumah sakit.
Aldric masih menunggu Alana hingga hilang dari pandangan mata. Setelah Alana tak terlihat, ia pun segera melajukan mobilnya ke kantor.
Mobil pun perlahan menjauh meninggalkan pelantaran rumah sakit.
__ADS_1