
"Mamah, papah " panggil Alana ketika masuk ke ruangan Kakek
"sayang" ucap mamah ketika melihat Alana
"bagaimana kabar kakek mah?" tanya Alana
"kakek mu masih belum sadarkan diri, kata Dokter kemungkinan kakek-mu akan sadar satu jam lagi" jawab mamah
"oh syukurlah kalau begitu" Alana bernafas lega
"oh iya, mamah dan papah sebaiknya pulang dulu, nanti jika aku pergi baru aku akan mengabari mamah untuk kembali ke sini" ucap Alana pengertian ketika melihat mertuanya tampak lelah.
Meski pun di ruangan ini sudah tersedia kamar mandi, sofa serta fasilitas lainnya, tapi tetap saja tidur di rumah sakit tak senyaman di rumah bukan?!.
"Baiklah Alana, kalau begitu papah dan mamah pulang dulu sebentar, setelah itu kami akan kembali lagi" ucap papah
"iya pah, hati-hati dijalan" ucap Alana
mereka berdua pun segera meninggalkan ruangan kakek.
Kini tinggal Alana sendiri yang menemani Kakek Kendrick.
Alana pun duduk di samping tempat tidur Kakek.
Ia menatap wajah pucat Kakek yang memakai Ventilator (alat bantu pernapasan). ia pun memegang punggung tangan Kakek yang terdapat infusan.
__ADS_1
"Kakek, ku harap kau segera segera sembuh dan berumur panjang. Sebentar lagi cicit mu akan lahir. Apakah kau tidak mau menemaniku melahirkan?" ucap Alana berbicara sendiri
drt..drt..
tiba-tiba handphone nya berdering, ternyata Aldric lah yang menelpon, lantas Alana pun langsung mengangkatnya.
Alana: "Halo Om"
Aldric: "Alana, apakah kau sudah bertemu dengan temanmu atau kau masih di rumah sakit ?"
Alana: "aku masih di rumah sakit. Aku menyuruh mamah dan papah pulang terlebih dahulu dan setelah mereka kembali baru aku akan pergi. Memangnya kenapa Om ?"
Aldric: tidak, aku hanya menanyakan saja. Tapi jangan lupa ketika kau akan pergi kau harus memberi tahu ku"
"baiklah-baiklah, aku akan memberi tahu Om" ucap Alana dengan cemberut
Aldric: kalau begitu aku tutup telponnya. Sampai jumpa sayang. Emuach
Aldric pun segera mematikan sambungan telponnya.
Sedangkan Alana tersenyum salah tingkah mendengar ucapan Aldric.
"kakek" ucap Alana terkejut sekaligus senang saat melihat jari kakek bergerak
Seperti ucapan Dokter, kakek pun tersadar dari pingsannya. Alana melihat kakek membuka matanya. Lantas ia pun segera menekan Bel di samping brankar guna memanggil Dokter. Tak lama Dokter beserta dua perawat datang. Alana pun menyingkir ketika Dokter memeriksa keadaan kakek. Dokter Andra segera memeriksa dan juga melepas ventilator tersebut
__ADS_1
"bagaimana Dok?" tanya Alana ketika Dokter telah selesai memeriksa Kakek
"keadaan Tuan Ken sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, namun tetap saja tuan Ken jangan terlalu banyak di ajak berbicara, ia masih membutuhkan banyak istirahat" jawab sang Dokter
Alana menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih Dokter Andra"
"sama-sama, kalau begitu kami pamit dulu" Dokter Andra pun segera pergi dari ruangan itu bersama perawat
setelah Dokter Andra pergi, Alana pun segera mendekati Kakek. Ia sudah memberi tahu Mamah dan Aldric, dan mamah bilang ia dan papah akan segera berangkat ke rumah sakit.
"kakek" ucap Alana
terlihat senyuman di wajah keriput sang Kakek.
"Ketika mendengar Kakek pingsan Alana begitu khawatir, Alana sangat takut kakek kenapa-napa" kata Alana sendu
perlahan kakek memegang lengan Alana dengan pelan.
"Aku akan baik-baik saja, kau tak perlu cemas, kakek mu ini kuat" ucap kakek memberi semangat pada Alana dengan suara pelan hampir tak terdengar
Alana langsung memeluk Kakek dengan air mata yang tak bisa di tahan, ia menangis di pelukan Kakek. Kakek pun membalas pelukan Alana dengan mengusap punggung Alana dengan lemah.
Mengingat ucapan Dokter tadi Alana pun melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kakek beristirahat dulu, aku akan duduk di sofa sambil menunggu mamah dan papah tiba" ucap Alana sambil membetulkan selimuti Kakek
kakek pun menurut pada ucapan Alana. Ia segera memjamkan matanya.