My Husband Is An Adult Male

My Husband Is An Adult Male
67. Kunjungan Mamah dan Papah


__ADS_3

"Na na na na"


"Emaa.." teriak Rania ketika melihat Ema di depannya yang akan masuk ke dalam gerbang sekolah


Ema membalikan badannya.Terlihat Rania yang akan menghampirinya sembari berlari.


"Rania" kata Ema ketika Rania berada di hadapannya


mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam sekolah.


"Kau terlihat sedang bahagia? ada apa" tanya Rania penasaran


Rania menghentikan langkahnya ketika Ema hanya merespon pertanyaan dengan senyum-senyum.


"Apa kau sehat" ujar Rania memegang kening Ema


"Ih Rania.Tentu saja, apa aku terlihat seperti orang sakit" jawab Ema sembari menghempaskan tangan Rania di keningnya


"Tidak sama sekali" Rania memerhatikan wajah Ema yang tidak pucat sedikitpun


"Nah kau tau"


"Lalu kenapa kau senyum-senyum seperti itu"


"Aku hanya sedang bahagia"

__ADS_1


"Apa kau tahu?" tanya Ema


"Tentu saja tidak tahu, karena kau belum memberitahunya" Rania memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Ema


Ema mengajak Rania untuk duduk di bangku taman sekolah terlebih dulu dan menceritakan apa yang membuatnya bahagia.


"Kemarilah" Ema berbisik di telinga Rania


"Apa" teriak Rania yang sama terkejutnya


"Ja-jadi keluarga Aldo mengajak mu untuk berlibur?"


Ema tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya.


"Wah ini adalah kesempatan mu untuk mendekati keluarganya" Rania memerlingkan matanya ikut senang dengan kebahagiaan Ema


Ketika Ema akan bercerita lagi bel masuk pun berbunyi menandakan semua murid harus sudah ada didalam kelas.


"Kalau begitu sampai nanti. Kapan-kapan aku akan menginap di rumahmu" ujar Rania


"Baiklah Sampai jumpa"


mereka pun berpisah untuk masuk ke kelas masing-masing.


Rania dan Ema bersekolah di tempat yang sama hanya berbeda kelas saja. Sedangkan Aldo berbeda sekolah dengan mereka.

__ADS_1


...----------------...


Di kediaman Alana. Mamah dan papah tengah mengunjungi kediaman mereka dengan membawa banyak mainan untuk Edbert.


"Mamah dan Papah tidak usah repot-repot membawakan banyak mainan untuk Edbert" ujar Alana


pasalnya mertuanya selalu membawa banyak mainan ketika berkunjung, mainan Edbert sudah tidak terhitung dan di simpan di ruangan khusus karena saking banyaknya. Selain Aldric, mertua dan keluarganya pun memberikan banyak kado mainan untuk Edbert. Alana bersyukur banyak yang menyayangi Edbert namun ia juga takut mainan tersebut mubazir.


"Tidak papa sayang, mamah dan papah senang sekali ketika membeli mainan untuk cucu mamah. Semuanya sangat bagus jadi daripada bingung kami membeli semuanya yang menurut kami cocok untuk Edbert" jawab mamah dengan antusias


seperti sekarang ini terlihat Edbert juga senang bermain bersama opa Devan di mana Edbert mengendarai mobil mainan yang bisa di kendarai menggunakan remote control yang di bawakan sang nenek.


"Oh iya bagaimana kabarmu dan bayi dalam kandunganmu" tanya Mamah Melina sambil mengusap perut Alana yang buncit


"Kami baik-baik saja di dalam sana mah. Hanya saja Aldric yang tidak baik-baik saja ketika aku mangalami ngidam"


"Maksudnya"


Dengan antusias pula Alana menceritakan bagaimana tersiksanya Aldric ketika Alana menginginkan sesuatu di malam hari, di mana Aldric yang harus menahan hasratnya ketika Alana menolak dekat-dekat dengan Aldric serta hal-hal lainnya yang membuat mamah tertawa terpingkal-pingkal mendengar penderitaan anaknya. Alana pun ikut tertawa, di mana tawa keduanya mengalihkan perhatian papah Devan.


"Sepertinya kalian senang sekali, apa ada sesuatu" tanya papah menghampiri keduanya sambil membawa Edbert


"Kami sedang membicarakan Aldric yang memenuhi ngidam Alana. Saat menikah dengan Alana Aldric berubah menjadi 180 derajat, selain menjadi suami siaga ia juga menjadi ayah yang siaga (siap dan jaga) ketika calon bayinya menginginkan sesuatu dan membuatkan Edbert susu di malam hari berbanding terbalik ketika ia masih lajang, aku tidak bisa membayangkan seandainya mereka tidak menikah dan Aku bersyukur karena kakek menjodohkan mereka berdua, meski awalnya aku takut Aldric tidak menerimanya namun ketakutan itu hilang saat melihat Aldric sekarang bahagia dengan Alana dan bayi tampan ini serta cucu kedua kita yang masih dalam kandungan" dengan panjang lebar mamah mengungkapkan perasaannya dan membawa Edbert untuk duduk dipangkuanya


"Tentu saja, karena dia adalah putraku"

__ADS_1


mereka pun tertawa, Edbert yang sepertinya paham yang dikatakan sang opa ikut tertawa.


Jadilah mereka tertawa bersama šŸ˜‚šŸ˜‚ jangan lupa readers juga harus tertawa eits tapi jangan tertawa kencang kencang di malam hari entar di kira mba Kun šŸ˜‚šŸ™šŸ˜‚šŸ˜‚.


__ADS_2