
Ada yang lebih mengejutkan dari diam-diam menyebarkan Undangan. Yaitu, yang kemarin tertawa bersama kita tapi esoknya terdengar berita kematiannya.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Entah sedih atau bahagia yang harus di rasakan mereka. Ucapan dokter yang memeriksa Alana tadi mengejutkan apalagi untuk Aldric.
Yah setelah Dokter memeriksa keadaan Alana, dokter tersebut mengatakan bahwa kini istrinya tengah mengandung, dengan usia kandungan satu bulan menurut prediksinya. Namun untuk lebih jelasnya Aldric harus memeriksa-kan kembali ke Dokter kandungan.
"eugh.." lenguh Alana terbangun dari tidurnya
"sayang, hati-hati" ucap Mamah Melina membantu Alana untuk bersandar di kepala ranjang
"Alana" lirih kakek
Sementara Aldric dan papahnya sedang melaksanakan proses mengubur Jenazah orang-tuanya. Karena sudah waktunya dikuburkan setelah beberapa orang termasuk tetangga membacakan Yasin. Aldric pun juga ikut menyolatkan kedua mertuanya.
Kembali lagi pada keadaan Alana yang kacau dengan mata sembab.
"mam-mamah, hiks-hiks" ucapnya memeluk tubuh Melina
"menangislah jika itu membuatmu lebih baik" ucap mamah menenangkan sang menantu
mamah menatap Kakek seolah bertanya apakah ia harus memberi tahu Alana dengan keadaannya. Kakek menjawab dengan gelengan kepala dan telunjuk yang berada di bibirnya. Biar nanti saja setelah Aldric datang dan Alana mulai bisa mengontrol emosinya.
Mamah mengangguk.
Sementara di tempat pemakaman.
Aldric berserta yang lain sudah selesai melaksanakan proses penguburan. Semuanya telah pergi meninggalkan tempat tersebut tersisa Aldric dan Devan. Seolah-olah mereka ingin disitu dulu untuk mencurahkan isi hati mereka.
"Papah tidak menyangka, mereka pergi begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita bicara" ucap papah membuka percakapan
Aldric menatap gundukan tanah itu dan menghela nafas sejenak.
"Ya, rasanya aku menyesal. Terakhir aku bertemu dengan mereka di pernikahan" ujar Aldric dengan tatapan kosong
"Aldric, kini hanya dirimu yang menjadi sandaran Alana. Jaga dan bahagiakan dia, kami sebagai orang tua tidak bisa selalu ada disampingnya. Kau adalah suaminya,dan jangan lupakan Alana kini tengah mengandung darah dagingmu" ucap papah menepuk pelan pundak Aldric
Aldric mengangguk tanda jawaban darinya.
Namun dihatinya terdapat kebimbangan.
Jujur ia senang ketika mendengar Alana mengandung anaknya, namun ia juga teringat kekasihnya yang telah ia janjikan akan menikahinya. Tentang perasaannya pada Alana sebenarnya ia merasakan sesuatu yang tidak bisa diucapkan namun ia berusaha menepisnya. Mungkin karena kebersamaan mereka mejadikan dirinya nyaman pada Alana.
Aldric dan papah Devan pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Mereka pun tiba di kediaman Alana yang mulai sepi pelayat.
Aldric dan papah memasuki rumah dan melihat Mamah sedang membuat minum untuk kakek. Kemudian ia bertanya pada Melina.
"Mah, dimana Alana" tanyanya sambil mendudukan dirinya di sofa
"Alana sedang tidur, setelah lelah menangis" jawab mamah sambil membawakan minum untuk mereka berdua
"makasih" ucap Aldric ketika mamah memberikannya minuman
"hmm" jawab mamah
Mamah pun duduk disamping papah yang sedang minum, minumannya.
"Aldric, banyak yang harus kita persiapkan. Mamah juga akan membawa Bi Nani dan Bi Mona serta sebagian pelayan untuk membantu kita menyiapkan acara untuk pengajian malam.
Bagaimana Pah, Yah, Aldric? " tanya mamah pada ketiganya
"papah setuju" ucap Devan
"Ayah juga setuju" ucap Kendrick
"Aku juga setuju mah" ucap Aldric sambil mengangguk
"Baiklah papah, Aldric, bersihkan dulu diri kalian. Dan untukmu Aldric setelah itu kau temui lah Alana, tunggu dirinya terbangun. Aku akan menyiapkan yang diperlukan untuk malam nanti, karena sebentar lagi mulai sore" ujar mamah dan beranjak pergi
Pukul setengah tujuh malam, seperti yang sudah dipersiapkan kini kediaman Alana di penuhi banyak orang untuk melaksanakan pengajian. Sebagian tetangga pun juga ikut mempersiapkan. Alana terlihat memaka baju hitam dengan kerudung pasmina berwarna senada. Mereka semua tengah berdoa dipimpin pak ustad.
Acara pun berjalan lancar.
Semua orang telah pulang hanya tinggal pak ustad yang akan berpamitan pulang.
"Alana, bapak turut berduka cita yah. Atas meninggalnya pak William dan Bu Mira. Semoga amal ibadah beliau di terima Allah SWT" ucap pak ustad
Ayah William dan Bunda Mira terkenal baik hati oleh tetangga sekitar rumah mereka. Banyak yang merasakan kehilangan akan sosok keduanya. Apalagi Ayah William yang sering berkumpul bersama warga dan pak ustad di mushola.
"terima kasih pak, atas doanya" ucap Alana
"baiklah, kalau begitu bapak pamit dulu yah"
"Assalamualaikum" ucap pak Ustad
"Wa'alaikumsalam" jawab mereka
Aldric pun mengantarkan pak ustad sampai depan rumah.
__ADS_1
Sekarang sudah pukul sepuluh malam, mereka memutuskan untuk beristirahat, namun sebelum itu mereka berkumpul terlebih dahulu diruang tamu.
Mereka berniat memberi tahu Alana tentang kehamilannya. Kini Alana tak sesering tadi pagi menangis bahkan ia sudah mulai ikhlas ditinggalkan orang tuanya. Ia harus bangkit, ingat masih ada adiknya yang perlu kasih sayang dirinya.
Aldric mengehela nafas sejenak sebelum mengatakannya...
"Alana, apa kau tau? sekarang kau tengah mengandung"
"dan usia kandunganmu saat ini satu bulan" lanjutnya
Semua orang menatap Alana yang terdiam menatap Aldric.
"tunggu, jangan bilang ia tidak senang dengan kehamilannya" batin Aldric menduga-duga
Alana pun melihat mamah, papah dan Kakek seolah meminta penjelasan bahwa apa yang ia dengar tidak salah. Mereka mengangguk sebagai jawaban.
Sedetik kemudian air mata Alana meluncur tanpa di undang, sambil memegang perutnya yang masih datar
Tidak ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Allah memang adil ketika ia mengambil nyawa kedua orang tua Alana, tapi ia juga memberikan nyawa baru di rahimnya.
"Alana, kenapa kau menangis. Apa kau tidak senang dengan kehamilanmu" ujar mamah sambil mengusap air mata Alana
"tidak, maksudku bukan itu. hanya saja aku sangat senang ternyata ada makhluk kecil yang tumbuh di rahimku, ketika aku kehilangan orang tuaku" ujarnya
"dan pantas saja, akhir-akhir ini ia agak sensitif. Oh, astaga. Apa jangan-jangan saat Aldric menyentuhnya dan ia sangat merespon itu sama dengan keinginan buah hatinya yang ingin dikunjungi ayahnya" batin Alana
"Yes, akhirnya aku akan punya cicit. Dan kau akan menjadi seorang kakek" ujar Kakek sambil menunjuk papah dengan telunjuknya
di susul dengan ucapan Mamah yang membuat mereka tertawa.
"Dan aku akan menjadi nenek muda"
"Dan si anak bandel ini akan menjadi hot Dady" teriak mamah seperti menyambut seorang raja didepan Aldric dan Aldric menyambut nya seperti seorang Raja meladeni candaan mamah
Mereka pun satu persatu memeluk Alana. Alana pun tertawa
sementara didekat dapur Bi Nani dan Bi Mona menangis haru melihat mereka, ia bersyukur Alana mendapatkan mertua yang sayang padanya dan mensuport Alana ketika kesedihan melanda. Karena Alana orang yang baik meskipun Alana majikan mereka namun Alana tidak pernah merendahkan mereka begitu pula dengan Melina. Memang benar jika kita baik maka insyaallah akan dipertemukan juga dengan orang yang baik.
"bahagianya, melihat non Alana tersenyum" ucap Bi Nani pelan
🌷🌷🌷🌷🌷🌷.
Hai 🙌 riders.
Jangan lupa like, vote dan coment biar author tambah semangat......
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷