
Satu tahun kemudian.
"Honey malam ini kita jadikan makan-makan dan bermalam bersama di Mension" ucap Alana sambil mengelus perutnya yang kini sudah membesar
Aldric segera menghampiri istrinya, mengelus dan mencium perut istrinya yang membuncit.
Cup.
"Tentu saja sayang, setelah anak-anak pulang nanti kita akan langsung ke Mension, Davin dan Elena juga sudah berada di sana aku sudah menyuruh Davin menyiapkan segalanya"
"Kau tidak usah khawatir, sambil menunggu anak-anak pulang bagaimana jika aku membantumu agar persalinanmu nanti lancar seperti yang di sarankan oleh Dokter" lanjutnya dan langsung menggendong Alana menuju kamar
"Honeeyy" teriak Alana memukul dada Aldric
"Turunkan aku" rengeknya tidak mau diam dalam gendongan Aldric
"Diamlah, jika tidak kita berdua akan jatuh" ujarnya kemudian tersenyum melihat Alana diam dan malah merekatkan tangannya ke lehernya
Brak.
Pintu kamar terbuka dengan dorongan kaki Aldric.
Aldric langsung menurunkan Alana di atas kasur.
"Dengar sayang kau ingat bukan? apa yang Dokter bilang, berhubungan intim saat mendekati persalinan dapat membantu membuka jalan bagi bayi, sehingga dapat memperlancar proses persalinan" ujarnya sambil menatap Alana
Alana balik menatap wajah Aldric yang terlihat menahan hasratnya.
"Tapi Honey-" ucapan Alana terpotong saat bibir Aldric yang langsung membungkamnya dengan sebuah ciuman
Mau tak mau Alana ikut terpancing dan membalas ciuman Aldric lebih panas lagi. Aldric langsung tersenyum di sela-sela ciuman karena berhasil mempengaruhi ibu hamil tersebut.
Entah kenapa semenjak Alana mengandung, Alana semakin cantik dan seksi di matanya sehingga membuatnya ingin selalu menyentuhnya dan membuatnya semakin jatuh cinta setiap harinya.
Sedangkan Alana juga tidak bisa menolak pesona Aldric mungkin memang karena ia sedang hamil juga, sehingga hormon nya dua kali lipat bertambah dibanding sebelum hamil.
********
Tok tok tok.
"Mommy, Daddy" teriak Floretta menggedor pintu
Alana yang tertidur karena kelelahan pun langsung terbangun mendengar gedoran pintu dan suara cempreng putrinya.
"Honey cepat bangun" ucapnya membangunkan Aldric di sampingnya
Aldric menggeliat, tanpa menjawab ucapan Alana ia menarik Alana dan mencium bibirnya.
"Aw" ternyata Alana memukul bibirnya yang langsung saja menciumnya
"cepat bangun atau..."melihat Alana bertambah marah, Aldric segera bangun dari tempat tidur dan memakai kembali celananya.
"Baiklah- baiklah, aku akan membukakan pintunya"
Ceklek.
"Daddy why is it taking so long?" tanya Floretta ketika Daddy nya membuka pintu
"sorry sayang, Daddy baru saja bangun" jawab Aldric menggendong Floretta dan menutup kembali pintunya
"Dimana Edbert?"
"Daddy dimana Mommy?" bukan menjawab Flo malah balik bertanya
"Mommy sedang mandi" Flo menganggukkan kepalanya ketika mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi
Tak lama Alana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
"Sayang"
"Mommy" Floretta beranjak dari segera menghampiri sang mommy
Floretta memeluk perut sang mommy, Alana ikut mengelus punggung kecil putrinya.
Cup.
"Dimana Kakak mu Flo" tanya Alana
"Edbert sedang di kamarnya berganti pakaian"
"lalu kenapa kau tidak ikut berganti pakaian hm?"
"aku merindukan mommy dan adik bayi"
"Daddy tidak?" sela Aldric
"Daddy juga" jawab Flo memperlihatkan giginya
Suatu kebiasaan Floretta adalah mengelus perut Alana, karena rasa bahagianya menjadi seorang kakak setiap akan tidur Alana terlebih dulu menemaninya tidur dengan tangan Floretta yang mengusap perut buncitnya setelah tertidur pulas barulah Alana kembali ke kamarnya.
"Mommy kira-kira adik bayiku perempuan atau laki-laki?"
"Untuk hal itu mommy dan Daddy tetap merahasiakannya sampai hari kelahiran dan apapun jenis kelaminnya yang terpenting kau tetap menyayanginya"
"Baik mom, apapun jenis kelaminnya aku akan menyayanginya" ucapnya kemudian menyium perut Alana
"Oh iya sayang kau juga segeralah berganti pakaian, sebab sebentar lagi kita akan ke rumah Oma di sana juga ada Om Davin dan Tante Elena"
"Benarkah Mom?"
"Benar sayang"
"Asik, baiklah aku akan segera berganti pakaian"
Floretta segera beranjak dan mencium kedua orangtuanya.
"Muach. Muach... Dah Daddy Dah Mom aku pergi dulu"
"Ayo sayang cepatlah mandi aku akan memakai pakaian terlebih dahulu"
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Aldric terlebih dulu mencuri ciuman Alana di bibir.
"Aldric....."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Beberapa Jam kemudian mereka telah sampai di Mension Hugo.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Oh sayang, bagaimana kandungan mu" ucap Mamah Melisa memeluk Alana kemudian mengusap perutnya
Sedangkan Aldric dan anak-anak telah pergi ke belakang Mension setelah bersalaman dan bertegur sapa dengan Mamah Melisa.
"Dia baik-baik saja Mah tapi di kehamilan ini entah mengapa aku terasa berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Setiap jam pasti merasa lapar meski sebelumnya sudah makan, bahkan setiap malam aku selalu membuat Aldric repot dengan membangunkannya hanya untuk membuat makanan untukku, dan di kehamilan ini juga aku merasa cepat lelah namun setelah aku memeriksanya Dokter selalu bilang kandungan ku baik-baik saja" adunya pada mamah mertua
"Setiap kehamilan pasti berbeda sayang, dulu saat hamil Aldric Mamah juga merasakan hal yang sama sepertimu namun berbeda, Mamah lebih parah dari itu sering sekali Mamah dan Papah bertengkar lantaran Mamah cemburu pada Klien wanitanya bukan hanya satu tapi setiap Papah bertemu Klien wanita, saking takutnya Mamah di tinggal Papah, setiap hari Mamah ikut ke Kantor karena Mamah takut perubahan bentuk tubuh Mamah membuat Papah berpaling pada wanita lain"
"Tapi Papah tidak seperti itukan Mam?"
Mamah Melisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Justru karena kesabaran Papah menghadapi ibu hamil waktu itu membuat Mamah tersadar dari rasa takut itu dan asal kau tau Alana setiap Ibu hamil pasti merasakannya. Jadi sudah menjadi hal umum ketika Ibu hamil merasakan berubah-ubah mood atau melakukan sesuatu yang tidak pernah di lakukan sebelum hamil, karenanya perubahan hormon yang cepat. Khususnya estrogen dan progesteron" jelas Mamah
Alana menganggukkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Ibu Mertuanya dengan baik.
Ketika mereka akan melanjutkan obrolan terdengar suara Kakek.
"Alana"
"Kakek"
"Semua persiapan di belakang telah selesai?"
"Tentu saja, aku tidak akan membuat cicit-cicit ku kecewa"
"Kak Alana"
"Elena"
Kedua Ibu hamil itu berpelukan.
"Astaga Mommy dan Tante seperti badut dengan perut yang besar mmmm" Edbert membekap mulut Floretta dengan tangan kecilnya
"Floretta kau tidak boleh berkata seperti itu"
"Aku hanya bercanda dan tidak serius" ucap Flo setelah melepas bekapan sang Kakak
Edbert mendengus mendengar jawaban adiknya.
Sedangkan mereka tertawa mendengar perkelahian dua saudara itu.
Skip.
Malam hari tiba. Semua tengah berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Para pria sibuk membakar daging dan sosis. Sedangkan para wanita duduk bersama Kakek.
Namun tiba-tiba.
"Shh..." ringis Elena
"Aw..."
Elena merasakan mulas di perutnya.
"Elena kau kenapa?"
"Apa" teriak Mamah Melina mengejutkan semua orang
"Daviinnn... Cepat kemari"
"Ada apa Tan..." ucapan Davin menggantung saat melihat istrinya kesakitan
Semua menjadi tambah panik melihat cairan keluar dari Elena.
Davin segera membopong tubuh Elena seperti bridal style.
"Aldric cepat siapkan mobil, sebaiknya kau ikut bersama Davin, mamah juga. Biar Alana Papah dan Kakek yang jaga" ujar Papah ketika melihat kebingungan di wajah Aldric
"Baiklah" belum sempat Aldric bergegas terdengar teriakan dari arah samping
Note: Setelah pernikahan Davin dan Elena, tak lama Elena langsung mengandung dan saat kandungan Elena 3 minggu di susul Alana mengandung kembali. Jadi kandungan Alana dan Elena hampir sama hanya berbeda beberapa minggu.
Kembali lagi pada suasana Taman Mension.
Terdengar teriakan Alana di samping dekat kamar mandi, karena dirinya tadi pamit ingin buang air kecil.
Karena melihat Elena yang semakin lemas Papah lah yang ikut bersama Davin.
"Mamah hiks"
Mamah dan Aldric segera pergi ke tempat Alana.
"Astaga sayang, apa yang terjadi" Aldric dan Mamah bertambah begitu panik ketika melihat posisi Alana yang tengkurap dengan darah di kakinya. Terlihat dari posisinya sepertinya Alana terjatuh.
"Bersabarlah sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit" Aldric langsung membawa Alana ke pangkuannya
"Florettaa dan Edbert kalian dirumah dulu ya bersama Kakek, Oma dan Papah kalian akan pergi ke rumah sakit bersama Mommy kalian" ucap Mamah pada cucunya
Terlihat Floretta menangis melihat Mommy nya dan ingin ikut, namun Kakek berusaha menahannya begitupun dengan Edbert yang sedari tadi menahan air matanya.
Mereka bertiga pun langsung menuju rumah sakit dengan di supiri oleh Pak Roy.
Para pelayan pun penasaran dan Khawatir melihat Tuan dan Nyonya nya.
"Semoga Nona Alana dan bayi nya baik-baik saja begitu pun dengan Nona Elena"
"Aamiin" ucap pelayan lain mengamini
"Lebih baik kita ke taman untuk membereskan semuanya dan sekaligus melihat Nona kecil yang masih menangis"
"Ayo-Ayo"
Para pelayan segera mematuhi instruksi dari kepala pelayan mereka.
Sementara di perjalanan, Alana sudah merasa lemas dan terlihat pucat.
Aldric terus mengucapkan kata-kata sayang di telinga Alana. Mamah Melina pun tidak berhenti berdoa sepanjang perjalanan, semoga menantu dan cucunya selamat.
Sedangkan Davin dan Elena sudah berada di rumah sakit. Saat ini Davin menemani persalinan Elena di dalam.
"Ayo bu tarik nafas dan hembuskan secara perlahan"
Elena mengikuti instruksi dari sang Dokter.
__ADS_1
"Ayo sayang kau pasti bisa"
Davin menyeka dahi Elena yang penuh keringat.
Tak lama anak mereka lahir, bersamaan dengan itu. Alana telah sampai di rumah sakit dan tanpa sengaja di rumah sakit yang sama dengan Elena.
Dokter dan para staf segera membantu Aldric dan membawa Alana dengan brankar rumah sakit.
"Tuan tenang saja, kami pastikan Nona Alana baik-baik saja" ujar Dokter ketika Aldric memaksa ikut masuk
"Dok tolong segera kabari kami jika terjadi sesuatu"
Dokter menganggukkan kepalanya "Baik Nyonya"
"Aldric, kau jangan seperti ini. Apa kau mau Alana menjadi bersedih melihat mu seperti ini?"
"Lebih baik tenang kan dirimu, jangan khawatir para Dokter terbaik sedang berusaha menyelamatkan Alana. Bukankah saat kelahiran Edbert Alana pernah mengalaminya? Bahkan lebih parah saat itu, namun ia berhasil melewatinya. Kau tenang saja" Mamah Melina memberikan pelukan pada Aldric yang sedang menangis tanpa suara
Aldric menganggukkan kepalanya dan mencoba mengikuti saran ibunya untuk tenang. Dari arah lorong terlihat Papah berjalan menghampiri mereka berdua.
"Mamah"
"Pah. Bagaimana Elena? Apa dia sudah melahirkan"
"Alhamdulillah Mah, anak Davin sudah keluar. Berjenis kelamin laki-laki"
"Syukurlah"
"Lalu kalian sedang apa disini dan Aldric..." papah menunjuk Aldric yang sedang berada di pelukan sang Mamah
Mamah memberi tahu dengan isyarat, wajah Papah terlihat khawatir dan sedih.
"Semua akan baik-baik saja" Papah menepuk bahu Aldric
Satu jam berlalu, lampu operasi mati pertanda operasi telah selesai.
Aldric segera beranjak dari duduknya ketika Dokter keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"
Terlihat Dokter membuka maskernya dan tersenyum.
"Selamat Tuan, Nona Alana baik-baik saja bahkan kami meembawa kejutan"
"Maksudnya?" tanya Mamah bingung
"Nona Alana melahirkan bayi kembar berjenis kelamin laki-laki" jelas Dokter
"Sepertinya bayi yang satunya sembunyi dan ingin memberikan kejutan pada kedua orangtuanya" lanjut Dokter yang menangani kandungan Alana selama ini dengan tersenyum.
Karena setiap Alana memeriksa kandungan hanya ada satu bayi yang terlihat ternyata satunya bersembunyi.
Mamah dan Papah sangat bahagia mendengarnya, bahkan Aldric bersujud berterima kasih pada sang maha kuasa.
"Alhamdulillah ya Allah"
"Kami akan memindahkan Nona Alana ke ruang perawatan setelah di bersihkan" ucap Dokter kemudian pamit
...****************...
Dan Disinilah mereka berkumpul, Kakek dan anak-anak juga sudah menyusul ke rumah sakit. Kini ruang perawatan VIP itu sudah di penuh. Untung saja ruang itu luas dan tidak terasa pengap karena Aldric sudah memesan kamar VIP khusus untuk istri tercintanya.
Kakek, Flo, Edbert, Mamah dan Papah berada di sofa bersama adik bayi kembar mereka. Begitu juga Davin, Elena yang berada di kursi roda bersama anak mereka yang berada di gendongan Davin.
Aldric menatap Alana dengan penuh cinta.
"Sayang terimakasih atas segalanya. Berkat dirimu aku memiliki 3 pangeran dan 1 putri yang cantik dan tampan" ketika melihat mereka sibuk mengobrol Aldric mencuri ciuman di bibir Alana
Cup.
Alana menagguk. "Tidak usah berterima kasih, aku juga sangat beruntung menjadi istrimu meski awalnya kau menyebalkan" jawab Alana dengan suara lirih
Bukannya marah Aldric malah mencium seluruh wajah Alana.
"Honeeyy..."
Saat Aldric akan mencium Alana kembali terdengar suara tangisan Baby Twins
"Astaga kalian malah bermesraan, sedangkan adik bayi menangis Daddy" celetuk Floretta
"Mommy Baby Twins haus" kata Edbert
Semua tertawa melihat Aldric yang salah tingkah. Sebelum Aldric mengusir mereka keluar.
"Nasib-nasib banyak kecebong" gerutunya dan membawa Baby Twins ke pangkuan Alana.
sepertinya kali ini dia memiliki 4 saingan untuk bersama sang istri.
Alana yang sedang menyusui Baby Twins tertawa
melihat sang suami.
Kini keluarga itu di limpahkan kebahagiaan yang tak terkira.
**Tamat.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷**.
Alhamdulillah readers, cerita My Husband Is An Adult Male beneran author tamatkan. Dan jangan lupa mampir ke cerita baru Author.
Unexpected Destiny
kisah Natalie dan Nicko.
Author bakal kasih bonus visual untuk Aldric dan Alana. Semoga suka 🥰🥰
Aldric saat nunjukin koran ke Alana 😁
Ini Alana waktu belum mengandung 🥰
__ADS_1