
Alana sudah pindah ke ruang perawatan biasa, meski begitu Aldric tetap memesan kamar VIP untuk istrinya. Mereka semua tengah berkumpul di ruangan Alana, Kakek sudah bisa keluar dari ruangannya dengan memakai kursi roda yang didorong oleh papah Devan, mamah yang sedang menyuapi Alana dengan makanan yang di sediakan oleh pihak rumah sakit. Sedangkan Aldric yang sudah berganti baju duduk di sofa bersama Davin sedang membahas urusan kantor.
Davin definisi sekertaris setia, kemana pun sang tuan pergi, dirinya akan selalu di sampingnya dengan siaga. Hanya jika dalam keadaan mendesak dirinya pergi dari sisi Aldric.
Awalnya Aldric ingin menyuapi Alana, namun mamah memaksa diri ingin menyuapi Alana dan Alana pun tidak mau di suapi Aldric.
"Mah sudah, aku sudah kenyang" ucap Alana setelah memakan beberapa suap
"sayang, kau harus makan banyak agar cepat sembuh dan asimu lancar" ucap mamah
"tapi mah, bubur ini tidak ada rasa..." ujar Alana
"baiklah nanti mamah suru Bi Nani membuatkanya untukmu, tapi kau harus menghabiskan ini dulu" bujuk mamah
mamah mencoba menyuapi Alana lagi, dengan terpaksa Alana memakannya, ia kurang menyukai masakannya karena baginya makanan rumah sakit itu tidak enak dan rasanya hambar.
Setelah Alana mengabiskan makanannya, tak lama sang perawat masuk membawa troli bayi.
ceklek.
pintu terbuka.
"selamat siang Nyonya, Tuan. Hari ini bayinya sudah boleh di satukan dengan ruangan sang ibu" ucap sang perawat menaruh bayi tersebut di boks bayi samping Alana
sang perawat pun izin untuk kembali keluar.
Semua orang ingin menggendongnya namun,
Aldric segera beranjak dari duduknya dan langsung menggendong sang putra.
__ADS_1
"Om aku juga ingin menggendongnya"
Aldric memberikan bayinya di pangkuan Alana.
"Hati-hati sayang" ucap mamah dan membantu Alana menggendong bayinya
"dia tampan sekali, namun sayang wajahnya mirip denganmu" Alana mengerucutkan bibirnya melihat sang putra menjadi fotocopy sang suami
"loh kok sayang! memangnya kenapa?"
"sayanglah, tak adil rasanya aku yang mengandung, tapi wajahnya semua mirip denganmu hanya bibir saja yang mirip denganku"
"ck, berarti dia memang putraku. Dan ketampanannya mewarisi diriku"
semua orang menggelengkan kepalanya heran melihat pertengkaran kecil sepasang suami istri itu. Namun mamah begitu bersyukur, karena sang anak Aldric sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, mendapatkan isteri yang baik dan seorang putra yang tampan.
"papah kenapa tertawa sendiri" tanya mamah
semua orang menatap papah heran.
"apa jangan-jangan papah kerasukan"
"ih mamah kalau ngomong sembarangan, ya enggak lah"
"ya takutnya, lagian papah ketawa ketiwi sendiri"
Sedangkan Davin hanya terdiam dan menggerutu dalam hati.
"Entah apa salahku, bisa terjebak dengan keluarga aneh ini" batinnya melihat ke anehan mereka
__ADS_1
namun begitu Davin sangat menyayangi anggota keluarga Hugo, karena mereka sudah seperti keluarga sendiri baginya. Dan mereka pun menganggap Aldric sebagai anggota keluarga mereka.
Kakek tersenyum melihat hal itu
"Akhirnya aku sudah punya cicit" ujar Kakek tiba-tiba
semua orang menatap Kakek dengan perasaan sedih.
"Maka dari itu, kakek harus semangat untuk sembuh dan bisa segera menggendong cicit kakek" ujar Alana
kakek menganggukkan kepalanya tanda ia ingin segera sembuh dari sakitnya dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga dalam keadaan sehat.
"Tuan siapa nama bayi anda" tanya Davin mengalihkan suasana melow tersebut
"oh iya, siapa namanya Dric? apa kau sudah menyiapkannya" ujar sang papah
"kalian tenang saja, aku dan Alana sudah menyiapkanya dan sesuai perkiraan Dokter bayinya berjenis kelamin laki-laki"
"kami memberi namanya Edbert Adison Hugo"
"nama yang bagus tuan" ucap Davin
"hei Edbert, cucu Oma yang tampan" ujar mamah Melina dan mengambil Edbert dari gendongan Alana
mereka pun bergilir ingin menggendong baby Ed. Dan membuat Baby Ed menangis karena kerusuhan mereka.
mereka pun berbahagia dengan kelahiran baby Edbert.
š·š·š·š·š·.
__ADS_1