
"Bagaimana Alana Bi" tanya Mamah
"Tadi Dokter mengatakan masih pembukaan lima Nyonya, dan sekarang Nona Alana di dalam di temani Tuan Aldric" jelas Bi Nani
"oh ya Allah selamatkan menantu dan cucuku" mamah berdoa di dalam hati
setelah di beri kabar mamah dan papah segera datang sementara kakek tidak ikut karena dikhawatirkan kesehatannya menurun.
Selain mereka di sana juga sudah ada Davin dan Ema serta Bi Lili yang ikut ke rumah rakit.
Sedangkan di dalam ruang persalinan. Pembukaan Alana sudah lengkap dan siap melahirkan.
"Nyonya pembukaannya sudah siap, ikuti yang saya ucapkan dan untuk Tuan Aldric bantu Nyonya Alana dengan memberinya ucapan semangat" ujar Dokter Mia
Alana menganggukkan dan perlahan mengejan mendengar arahan Dokter Mia.
Alana menarik nafas dan menghembuskan nafasnya perlahan sambil mencengkram lengan Aldric.
"Mmmm ahh.. mmmmm"
"Aw" Aldric merasakan sakit di lengannya karena cakaran lengan Alana namun apa boleh buat dia pun kembali menyemangati Alana.
"Ayo sayang kau pasti bisa"
"Sebentar lagi kita akan bertemu dengannya"
"Ayo sayang"
Alana kembali membuat Aldric berteriak namun kali ini yang menjadi sasarannya adalah rambut Aldric.
"Aaaaa....."
__ADS_1
"Aldric apa kau bisa diam" teriak Alana di tengah ia mengejan
"Sayang sakit.."
"Apa kau tidak lihat jelas aku yang lebih sakit di sini"
Dokter Mia dan Suster yang membantu persalinan menggelengkan kepalanya. Sempat-sempatnya mereka beradu mulut di saat keadaan seperti ini.
"Ayo Nyonya sedikit lagi kepalanya sudah mulai terlihat"
dalam satu tarikan Alana mengejan dan
"Aaaaaaa..." bukan Alana melainkan Aldric karena Alana menarik kencang rambut Aldric seperti akan tercabut dengan akar-akarnya.
Oekkk... Oekkk Oekkk.
Dokter segera menaro bayi tersebut di dalam dada Alana.
Aldric dan Alana menangis terharu akhirnya putri yang mereka tunggu-tunggu sudah lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang apapun.
"Terima kasih sayang, terima kasih" Aldric tidak dapat berkata apa-apa saking bahagianya dia menciumi wajah Alana dan berterima kasih
meski rambutnya hampir copot tapi ia sangat bahagia sekali. Benar, sakitnya tidak ada apa apanya dibandingkan Alana yang bertaruh nyawa melahirkan keturunannya. Dan bagi Alana kesakitan itu hilang setelah melihat wajah sang putri.
Bayinya sudah di bawa suster untuk di bersihkan setelah Aldric mengadzaninya.
Dan saat ini Dokter Mia sedang menjahit si Vina milik Alana.
"Sayang sepertinya dua saja sudah cukup bagiku, aku tidak sanggup melihatmu seperti tadi" ucap Aldric
"Yakin?.." ucap Alana pasalnya ia tidak percaya dengan ucapan sang suami buktinya belum satu tahun kelahiran Edbert ia sudah mengandung lagi.
__ADS_1
Aldric memperlihatkan giginya mendengar pertanyaan Alana.
"Akan ku pikirkan"
Alana mencubit pelan perut Aldric.
Dokter Mia yang sedari mendengar percakapan mereka ikut berbicara.
"Nyonya dan Tuan Aldric jika kalian ingin memiliki anak lagi sebaiknya jarak usianya jangan terlalu dekat seperti kelahiran pertama dan kedua seperti yang saya bilang terlalu beresiko" jelas Dokter Mia sebagai Dokter ia harus memberi tahu pasiennya jangan sampai kebobolan lagi.
"Baiklah Dokter, dan terimakasih juga"
Dokter Mia mengangguk dan pamit undur diri.
Setelah Dokter Mia pergi Alana terlihat kesal dengan ucapan Aldric.
"Tuhkan ini karena om, aku jadi malu seharusnya kita tidak mengatakan itu karena masih ada Dokter Mia"
Aldric terlihat pasrah dengan omelan sang istri.
"Sudahlah sayang yang penting semuanya berjalan dengan lancar" Aldric mengalihkan pembicaraan
dan saat Alana akan berbicara lagi Aldric langsung membungkam bibir Alana dengan ciuman.
"Om mmm..."
š·š·š·.
Hayo siapa nih yang kangen dengan mereka berdua. Jangan lupa like, komen dan vote nya biar author tambah semangat.
š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·.
__ADS_1