
Jam sudah menunjukkan pukul sore.
Mamah menyuruh Alana untuk pulang.
"Alana, sebaiknya kau pulang dulu, biar Mamah dan Papah yang menjaga kakek disini"
"tapi mah, aku masih ingin disini menemani
Kakek "
"sayang, jika kau disini kasihan bayi-mu. nanti kau kelelahan" ucap Mamah yang masih membujuk Alana
"Alana, benar yang dikatakan mamah mu itu, kau sebaiknya pulang dulu bersama Aldric, biar mamah dan papah yang menjaga Kakek di sini. Kau jangan khawatir" ujar papah
Alana pun menyetujuinya ucapan Mamah, lagi pula sebagai calon Ibu ia tidak boleh egois mengenai kesehatan kandungannya. Meski ini ruang VIP dan hanya Kakek yang ada diruangan ini, tapi tetap saja Rumah Sakit banyak orang yang sakit, dan takut tertular.
"Baiklah, Mah, pah. Kami pamit dulu, kalau terjadi apa-apa terhadap kondisi Kakek cepat hubungi kami"
Mamah dan Papah pun mengangguk.
"Iya, Aldric jangan terlalu ngebut membawa mobilnya dan hati-hati dijalan" pesan Mamah pada Aldric
"Iya Mah, kami pergi dulu" jawab Aldric
mereka berdua pun bersalaman dan pergi dari ruangan kakek dengan Aldric yang merangkul pinggang Alana.
__ADS_1
********
Selama perjalanan hanya terdapat keheningan.
Sedari tadi Aldric melihat Alana yang memalingkan wajahnya ke arah luar pun bertanya.
"Ku perhatikan sedari tadi kau lebih banyak diam, kenapa?"
namun Alana seperti tak mendengarnya, Aldric yang sedikit kesal pun segera menepikan mobilnya ke pinggir. Dan segera menarik lengan Alana agar menghadapnya. Alana tersentak dengan tindakan tiba-tiba Aldric.
"Apa yang Om lakukan?" serunya
Aldric mencoba menahan emosinya.
"Aku bertanya, kenapa sedari di rumah sakit sampai sekarang kau hanya terdiam, bahkan wajah mu kau palingkan ke arah luar, apa ada yang lebih menarik di luar daripada suamimu"
Aldric yang tidak mau ada keributan pun, segera melajukan kembali kendaraannya, bergegas pulang.
Di Apartemen Natalie.
Kini ia tengah bersiap-siap untuk pergi ke negara I. Disana ia akan mengembangkan karirnya agar lebih bersinar. Serta memulai hidup baru dan melupakan cintanya pada Aldric dan mungkin ia akan mendapatkan cinta yang lebih baik dari cinta Aldric padanya.
Ia mengehela nafas sambil melihat-lihat fotonya bersama Aldric.
"hah, aku kira kita akan menikah kemudian aku mengandung dan kita hidup bahagia, tapi nyatanya hanya dirimu, dan kini istrimu tengah mengandung darah dagingmu. Aku tidak bisa menyalahkan Alana meski Karena dirinya aku tidak jadi menikah denganmu, tapi ini mungkin sudah menjadi takdirnya. Selamat tinggal Aldric aku harap pernikahanmu dan Alana selalu bahagia dan aku harap diriku pun mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti kalian" kemudian Natalie mulai menghapus foto-foto serta kenangannya bersama Aldric
__ADS_1
***
Alana dan Aldric telah sampai di kediaman mereka.
Saat Aldric berada di kamar mandi, tiba-tiba ponsel Alana berdering, terdapat nomor ponsel yang tak dikenal mengirimkan sebuah chat.
089....: Baiklah, jika kau masih tidak percaya kau bisa datang ke Caffe ... pukul 9 pagi.
Alana: Baiklah, aku akan datang besok.
Alana pun langsung mematikan ponselnya tersebut ketika melihat Aldric yang keluar dari kamar mandi.
"Alana aku sudah selesai, kini giliranmu untuk mandi dan kau tidak perlu memasak, malam ini kita akan makan malam di luar" ucap Aldric
Mendengar ucapan Aldric entah mengapa ia menjadi senang, ia pun segera bergegas ke kamar mandi.
"Baiklah Om, tunggu sebentar aku tak akan lama"
"Iya, jika kau telat sedikit aku akan meninggalkanmu"
Terdengar suara pintu kamar mandi yang di tutup keras, Aldric pun tertawa mendengarnya.
š·š·š·š·...
Lanjut gak nih, masih ada yang baca gak jam segini š„±š„±.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan coment biar Author tambah semangat.Alana
Gambar Hanya Ilustrasi.