
Pukul 12 malam Alana terbangun karena suara tangis Edbert. Ia pun melepaskan tangan Aldric dari pinggangnya dan beranjak dari tempat tidur mengambil Edbert dari kasurnya.
Edbert masih tidur dengan Alana karena Edbert masih membutuhkan ASI meski di barengi dengan susu formula dan kamar mereka sekarang memiliki dua tempat tidur. Satu untuk Alana dan Aldric sementara satunya kasur dengan ukuran lebih kecil dari kasur mereka untuk Edbert di samping tempat tidur mereka.
Alana membawa Edbert ke tempat tidurnya dan memberikan putranya ASI.
Setelah Edbert kenyang bukannya tidur kembali tapi mata Edbert malah terlihat segar dan mulutnya mula berceloteh.
"Rupanya kau sudah kenyang tidur ya" ucap Alana mendengar celotehan Edbert
"At-tata-pap-pa..... " seolah mengerti yang dikatakan sang bunda Edbert pun menjawab sembari tersenyum menampilkan dua giginya yang baru tumbuh
"Ah kau manis sekali" Alana pun memeluk sang putra dan menciuminya
Alana di buat takjub dengan pertumbuhan sang putra dibanding dengan pertumbuhan balita seusianya. Di usianya yang ke lima
bulan Edbert sudah bisa merangkak dan berceloteh meski belum terdengar jelas.
Alana pun menemani Edbert yang masih membuka matanya.
*****
Pluk.
Aldric yang merasakan pukulan kecil diwajahnya pun terbangun, seketika Aldric dihadapan dengan pemandangan manis didepannya. Dimana Edbert dengan mata bulatnya melihat dirinya kemudian tersenyum di atas dada sang istri dengan Alana yang masih tertidur.
__ADS_1
Aldric kemudian duduk dan mengangkat Edbert ke pangkuannya.
Aldric pun mencium wajah gemas sang putra. Ia pun menatap wajah Alana yang masih terlelap.
"Sepertinya kau habis mengajak mamah mu begadang, kalau begitu biarkan ia melanjutkan tidurnya. Sebaiknya kita turun ke bawah" ucap Aldric dan membawa Edbert turun
Pinggangnya sudah tidak sakit, meski kemarin ia merasakan kesakitan pada saat dipijit namun setelah itu rasak sakit seperti patah tulang pun hilang. Bahkan semalam ia tidur begitu pulas sampai tidak mendengar Edbert terbangun.
"Pagi Tuan" sapa para pelayan
Aldric pun mengangguk dan duduk di sofa.
Bi Nani pun membuatkan Aldric teh.
"Terima kasih Bi" Bi Nani pun mengangguk dan kembali ke dapur untuk melanjutkan memasak sarapan pagi.
"Pagi kakak ipar, pagi Edbert" ucap Ema dan duduk di depan Aldric
"Pagi.."
"Kemana Kak Alana? biasanya ia sudah turun ke bawah sebelum aku"
"Kakak mu masih tertidur, sepertinya ia semalam bergadang menemani Edbert"
"Oh.."
__ADS_1
Ema pun mengambil Edbert dari Aldric.
"Ema apa kau sudah memutuskan akan sekolah dimana?" tanya Aldric pada Ema
"Sudah" Ema pun langsung menjawab pertanyaan Aldric
"Dimana?"
"Di SMA xx dekat rumah papah" jawab Ema
Ema memutuskan akan melanjutkan pendidikan SMA nya di sekolah dekat rumahnya yang dulu ia tempati bersama kedua orangtuanya. Ia juga berniat akan tinggal di sana, dengan begitu akan mengobati sedikit rasa rindunya pada kedua orang tuanya.
"Apa kau yakin?" Ema mengagukan kepalanya mantap
Meski sekolah dekat rumah Ema sama seperti sekolah Elit lainnya, tapi Aldric sudah menawarkan beberapa sekolah ternama dan terbaik di kota tersebut pada Ema namun adik iparnya itu menolak dengan alasan dirinya akan sekolah di dekat rumah peninggalan sang mertua dan akan tinggal di sana.
"Ema kau tidak usah sungkan kepadaku, kau adalah adik Alana isteriku dan berarti adik ku juga. Dan aku menginginkan yang terbaik bagi masa depan mu begitu pun kakak mu dan jangan merasa kau merepotkan kakak mu"
"Jika kau perlu sesuatu katakanlah padaku atau Alana" lanjut Aldric
Ema mengagukan kepalanya.
"Terima kasih kakak ipar" jawab Ema
dirinya merasa terharu akan perhatian Aldric sebagai kakak padanya
__ADS_1
Aldric pun mengagukan kepalanya dan meminum Teh buatan Bi Nani.