
Lima Tahun Kemudian.
"Mommy" teriak gadis kecil sambil berlari ke dalam rumah memanggil sang mommy
"aduh Non jangan lari nanti jatuh"
Sementara sang kakak berjalan di belakang dengan santai.
Bruk.
"Aduh" ringis sang gadis tersebut
"aduh Non bibi juga bilang apa hati-hati"
"hiks hiks hiks, Mommy" gadis itu menangis bukan karena sakit karena terjatuh melainkan sang kakak menertawakannya
Terlihat Alana turun dari arah tangga.
"Mommy" adu gadis kecil tersebut
Bi Nani akan menjelaskan namun Alana menganggukkan kepalanya tanda mengerti perbuatan putrinya. Dan menyuruh Bi Nani untuk beristirahat setelah menjemput kedua anaknya sekolah.
"Sayang. Lain kali dengar apa kata Bibi dan menurutlah, itu juga untuk kebaikan Floretta sendiri jika Floretta mendengar ucapan Bibi pasti Floretta tidak akan jatuh seperti tadi dan untuk Kakak Edbert lain kali jangan menertawakan adik Flo karena adik masih kecil seharusnya abang membantu dan memberitahu" ucap Alana pada kedua anaknya
"Baik Mah, Abang minta maaf dan tidak akan mengulanginya" ucap Edbert sambil memberikan jari kelingkingnya pertanda berjanji
"bagaimana apa ade maafkan?" tanya Alana pada Flo
Floretta mengangguk dan tersenyum kemudian memeluk Edbert "Flo maafkan".
Alana tersenyum melihat anak-anaknya akur dan saling sayang.
"Mommy lihat aku mandapat nilai seratus dalam mata pelajaran menggambar" Floretta teringat kenapa ia berlari hingga terjatuh dan mengambil kertas gambar yang terjatuh pada Alana
Alana mengambil kertas tersebut dan tersenyum "wah gambar nya cantik sekali persis seperti yang membuatnya" puji Alana dan membuat Floretta tersipu malu-malu
"terima kasih Mommy"
__ADS_1
"lalu abang bagaimana? Apa lomba musiknya sudah di umumkan?" tanya Alana pada Edbert
"sudah Mah. Sekitar dua minggu lagi, maka dari itu aku harus lebih baik dan sering-sering latihan lagi" jawab Edbert
"semoga lancar ya sayang" doa Alana
"Aamiin" ucap Edbert dan Floretta
"baiklah lebih baik kalian segera mandi dan bersiap-siap menunggu Papah kalian pulang sebentar lagi papah akan pulang dan mamah akan mempersiapkan makan malam untuk kita" perintah Alana pada kedua anaknya
"Daddy Mom, Daddy, bukan Papah" sela Floretta
Edbert memutar bola matanya jengah mendengar ucapan sang adik.
"Terserahlah terserah mau Papah ke, Daddy ke atau Ayah dari pada kalian memanggil Daddy kalian bunda kan berabe" jawab Alana kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam karena jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore
Floretta meringis membayangkan ucapan Alana.
Mereka pun masuk ke kamar mereka berdua, meski 1 kamar namun ruangan tersebut sama luasnya dua kamar yang di satukan karena terdapat dua kasur dan dua kamar mandi dan dua meja belajar. Yang di dominasi dua warna Pink muda untuk Floretta dan Biru dongker untuk Edbert.
Anaknya pun memiliki dua kepribadian berbeda. Edbert memiliki sikap yang tenang juga dingin terhadap orang lain apalagi teman wanita di sekolahnya tapi dewasa di usianya yang ke delapan tahun dan dirinya hanya hangat dan terbuka pada keluarganya dan sangat sayang pada kedua orang tuanya dan adiknya dan ramah pada pelayan dirumahnya. Sedangkan Floretta memiliki sifat manja apalagi pada sang Daddy tapi ia juga ramah kepada para pelayan di rumahnya.
Kembali lagi pada Alana yang sedang memasak di dapur menyiapkan makan malam.
Hap.
Alana tersentak ketika merasakan pelukan di perutnya.
"Honey... Kau membuatku terkejut"
"kau terlihat cantik ketika memasak sayang"
"Honey.... Kau kapan datang" tanya Alana mengabaikan gombalan Aldric
Aldric membalikan tubuh Alana agar menghadap ke arahnya. "Aku sudah datang dari tadi dan sepertinya istriku asik dengan peralatan di dapurnya"
Alana tersenyum tanpa rasa bersalah "maafkan aku Honey" ucapnya mencium pipi Aldric
__ADS_1
"kau menggodaku ya?"
"siapa yang menggodamu, aku hanya meminta maaf dan sebagai permintaan maafku aku mencium pipi mu honey..."
"sama saja" saat Aldric akan membalas mencium Alana terdengar suara gadis kecilnya dari arah tangga
"Daddy...."
"pengganggu datang" bisiknya pada Alana
"aw" ringis Aldric mendapatkan cubitan dari Alana di perutnya
Floretta langsung berlari ke pelukan sang Ayah dan memeluknya erat.
Cup. Cup.
Aldric mencium kedua anaknya.
"Bagaimana sekolah kalian berdua" tanya Aldric pada kedua putra dan putrinya
"Sekolah kami baik-baik saja Dadd, dan setelah pulang kami berdua mampir ke rumah Nenek dan Kakek serta kakek buyut".
"Oh ya?"
"benar, dan Kakek buyut juga berpesan agar Daddy, Mommy, adik dan aku untuk ke Mension" Edbert menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan sang adik
Mereka pun banyak berbincang sambil duduk di kursi meja makan dengan Alana yang berada di dapur.
Alana pun tersenyum melihat mereka bertiga yang asik berbincang. Inilah kebahagiaan sejati miliknya. Ternyata menikah karena perjodohan tidak melulu berakhir dengan perpisahan nyatanya dirinya dan Aldric berhasil membina rumah tangga dengan baik dan kini memiliki dua buah hati yang sangat mereka sayangi. Meski awalnya tidak mudah namun karena doa dan takdir sang Maha kuasa tidak ada yang tidak mungkin.
Begitupun dengan perasaan Aldric. Seorang pria dewasa yang di jodohkan dengan seorang gadis yang jauh usianya dan bukan tipenya berhasil menjadi ibu dari kedua anaknya yang sekarang berada di hadapannya dan istri yang sangat dia sayangi dan cintai sekarang. Meski awalnya terdapat penyesalan di awal pernikahan namun atas kesabaran dari wanita yang menurutnya bukan tipenya itu berhasil membuat dirinya melupakan masa lalunya bukan sepenuhnya melainkan untuk dijadikan pelajaran di masa yang akan datang. Segala sesuatu yang menurut kita baik belum tentu baik begitu pun sebaliknya. Allah mengetahui sedangkan kita tidak.
End. š·š·š·š·š·.
Alhamdulillah Wa'syukurillah. Author seneng banget bisa menamatkan novel ini. Untuk para riders author berterima kasih telah setia dengan cerita yang author buat ini. Insya Allah author bakal kasih Bonus Capter juga. Sekali lagi author berterima kasih yang sudah membaca cerita author. Dan Insya Allah juga kita bertemu lagi di cerita author selanjutnya.
š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·š·.
__ADS_1