
Sesampainya di sebuah bangunan tua, Alana di bopong tubuhnya oleh pria tersebut, karena saat Alana berontak mereka membekap Alana dengan sapu tangan yang sudah terdapat obat bius di dalamnya.
"Letakan dia disana, ikat tangannya jangan sampai lepas sampai pria itu datang" perintah wanita itu ketika mereka masuk
"Baik Nona" jawab mereka serempak
mereka pun melaksanakan tugas yang di perintahkan. Dan mengikat lengan Alana di belakang kursi.
"Hahaha.... akhirnya kau berada di tangan ku gadis sialan"
Tasya lah yang menculik Alana, dan ia tahu Aldric pasti tidak akan diam. Ia juga sudah berjaga-jaga jika Aldric datang.
Jika Aldric tidak bisa menjadi miliknya, maka siapapun tidak boleh memiliki Aldric.
Tak lama Alana terbangun dari pingsannya.
"Ssh... dimana aku"
Tasya pun berbalik badan ketika mendengar suara Alana dan menghampirinya yang duduk di kursi dengan tangan yang terikat.
"Akhirnya kau sudah sadar, Alana sayang" Tasya mengusap rambut Alana dengan sayang
tiba-tiba ia menariknya dengan keras dan membuat Alana menjerit kesakitan.
"Aw... tante apa yang kau lakukan" teriak Alana yang merasakan sakit di kepalanya
namun tidak membuat Tasya berhenti dengan aksinya.
Plakk...
tamparan keras mengenai pipi mulus Alana yang putih.
Plak.. Plak... Plak...
Berkali-kali Alana mendapatkan tamparan dari tangan Tasya, hingga sudut bibirnya bengkak dan sedikit mengeluarkan darah.
"Tasya hentikan.. jangan lakukan itu. Aw... sshh" teriak Alana tidak memanggil Tasya dengan sebutan tante sambil merasakan sakit di perutnya
Tasya memegang perut Alana dan mengusapnya.
"Perut ini begitu besar, akan menyenangkan jika aku membelahnya sekarang" ucap Tasya seperti orang gila
__ADS_1
"Cih, beraninya kau membuat Aldric menaruh benihnya di perut mu. Baiklah, bukankah lebih baik aku segera mengeluarkannya sekarang?" lanjutnya dan segera mengeluarkan pisau di dalam sakunya
"Tasya, kumohon jangan lakukan itu" isak Alana yang takut dengan ancaman Tasya sekaligus merasakan sakit yang luar biasa di perutnya
"Sshhhhh...." ringisnya
saat Tasya akan menancapkan pisau tersebut.
Brak.
Pintu terbuka menampilkan sosok Aldric dengan nafas memburu.
"Alana" teriaknya ketika melihat Alana dengan kondisi menyedihkan dan Tasya yang memegang sebuah pisau
Sedangkan Davin beserta anak buah Aldric yang lainnya sedang melawan anak buah Tasya di luar gedung.
Tasya yang melihat Aldric seketika menghentikan aksinya dan tersenyum.
"Kita bertemu lagi Honey"
"Lihatlah, istri kecilmu sedang bermain-main denganku, benarkan sayang" Tasya mengangkat dagu Alana dan memegangnya dengan kuat
bukan hanya di perut tapi juga wajah dan tubuhnya.
"Aku tak menyangka, kau menjadi wanita gila sekarang!!"
Tasya memalingkan wajahnya pada Aldric masih dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Aku gila karena dirimu, Honey"
"Katakan apa mau mu"
"Kau tau apa yang aku inginkan baby, aku hanya ingin kau kembali padaku dan tinggalkan istrimu"
"Sampai mati pun aku tak sudi" seru Aldric
Tasya yang mendengarnya marah.
"Baiklah jika itu mau mu" Tasya pun melanjutkan aksinya menusuk perut Alana.
"Tidaaakkkk" teriak Aldric
__ADS_1
Cresss.
"Aaaaaaaa" suara Alana
Bukan perut tapi dada Alana yang di tusuk oleh Tasya. Darah pun mengalir deras dari dada Alana.
Davin yang mendengar teriakkan tuannya segera datang setelah mengalahkan anak buah Tasya.
Davin terkejut melihat Aldric yang mencoba melepaskan ikatan Alana dengan bercucuran darah. Dan Tasya yang terduduk lemas di lantai.
"Tidak-tidak mungkin, tidak mungkin aku menusuk seseorang" Tasya menggelengkan kepalanya dengan melihat tangannya yang tega menusuk seseorang.
Niat hati hanya mengancam, namun karena gelap hati ia benar-benar menusuk Alana.
"Apa yang kau lakukan, cepat bantu aku" teriak Aldric melihat Davin yang terdiam
tak ada yang di pikirkan selain Alana, bahkan Tasya pun ia hiraukan.
Davin menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengamankan Tasya sambil menunggu polisi datang.
"Bertahanlah sayang" Aldric segera mengangkat tubuh Alana ke mobil dengan Davin yang menyetir
di dalam mobil Alana masih sadar dengan pisau yang masih menancap di dadanya dan darah pun terus keluar.
Nafas Alana kian memburu dan berucap dengan lirih.
" Ku..mo..hon se..la..matkan dan to..long ja..ga di..a"
pertahanannya roboh mendengar ucapan Alana, Aldric menangis, sisi cengengnya keluar.
"Tidak, bukan hanya aku yang akan menjaganya. Tapi kita berdua yang akan menjaga dan membesarkan dia" Ia semakin terisak mengucapkan kata itu
Alana yang sudah mengeluarkan banyak darah pun seketika kesadarannya melemah.
"Alana, sayang, hei sayang jangan tertidur Sampai kita sampai di rumah sakit. Kumohon bertahanlah!!" wajah Aldric berubah menjadi panik
"Davin lebih cepat lagi" teriak Aldric marah
"Baik tuan"
Davin pun menambah laju kecepatan mobilnya.
__ADS_1