
Drt drt drt.
Dering ponselnya mengganggu tidur Ema.
"aduh siapa sih yang nelpon pagi pagi buta begini" Ema dengan malas mengangkat telponnya
"halo"
"hai Ema"
Ema pun melihat nama si penelepon, ia pun melotot saat melihatnya.
"Aldo.." jeritnya dalam hati
"Ema" panggil Aldo lagi
"eh-e iya do, maaf aku tidak tau itu kau"
"oh ya mmm.. ada apa pagi pagi begini kau menelponku?"
"sebelumnya aku minta maaf karena mengganggu waktu tidurmu.."
"eh tidak kok. Aku memang biasanya sudah bangun jam segini" sela Ema
Aldo pun tersenyum di seberang sana.
"Baiklah kalau begitu, oh iya apa kau hari ini sibuk?"
"tidak. Memangnya kenapa?"
"hari ini aku ingin mengajakmu nonton bioskop"
"Bi-bioskop" Ema tergagap
antara senang dan terkejut Aldo mengajaknya nonton.
"apa kau mau?"
Ema terdiam sejenak dan berfikir. Antara mau atau tidak.
"Baiklah aku mau, tapi bagaimana kalau kita ajak Rania?" tawar Ema
"baik aku setuju, kalau begitu aku tunggu jam 10 siang nanti, bagaimana?"
__ADS_1
"oke do, aku tutup telponnya ya"
"iya" Ema pun memutuskan sambungan telponnya
setelah telpon dimatikan, Ema berteriak girang di atas kasur.
"Yes yes yes, aku akan keluar bersama Aldo. Aaaaaa aku senang sekali" serunya sambil loncat di atas kasur
Ema keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri.
"Pagi Kakak ku" sapanya saat melihat Alana sedang menyiapkan sarapan
"pagi"
tak lama Aldric pun terlihat turun dari tangga yang sudah rapih dengan stelan kerjanya. Sementara Edbert sedang bersama dengan Bi Lita.
"pagi sayang, pagi Ema" sapanya kemudian duduk di kursi depan Alana
"pagi kakak ipar"
"pagi honey"
mereka pun sarapan bersama di meja makan. sarapan pagi telah selesai, Aldric berpamitan pergi ke kantor sedangkan Ema sudah lebih dulu pergi ke Taman belakang menemui Edbert yang sedang bersama Bi Lita.
"Aku pergi dulu ya"
"aku tidak akan nakal papah" Alana menirukan suara anak kecil
"Honey kau berhati hati lah di jalan"
Aldric menganggukkan kepalanya dan mencium kening Alana.
Setelah Aldric pergi ke kantor, Alana memutuskan untuk mandi terlebih dulu karena tadi ia belum sempat mandi dan langsung menyiapkan sarapan pagi.
"Ah badanku terasa lengket sekali" Ia pun langsung menuju kamarnya.
...****************...
Lima bulan kemudian.
Kandungan Alana sudah menginjak delapan bulan.
"Rasanya baru kemarin kita menikah kemudian hamil Edbert lalu hamil anak kedua dan merasakan mual serta muntah karena ngidam. Dan tak terasa perutku sudah sebesar ini" ucap Alana sambil mengusap perutnya yang besar
__ADS_1
"itulah ketika kita menikah dengan orang yang kita cintai rasanya waktu terasa begitu singkat" jawab Aldric ikut mengusap perut Alana
Kini mereka sedang menikmati waktu berdua di atas balkon kamar di temani semilir angin.
"Tapi kan om. Kita menikah karena di jodohkan" celetuk Alana
"tapi meski begitu kau juga mencintaiku kan?"
"kata siapa? sebenarnya ya om, aku itu di paksa bunda dan ayah" bohong Alana
Aldric menegakan badannya mendengar jawaban Alana.
"Bukannya dulu kau menyetujuinya karena Kakek dan perjodohan yang direncanakan oleh keluarga kita?" ujar Aldric
Alana semakin senang menggoda Aldric. Ia pun melanjutkan ucapannya.
"itu hanya alasan, yang benar adalah aku di paksa bunda dan ayah karena mereka bilang kakek serta kedua mertua ku takut om akan menjadi pria lajang di usia om yang semakin bertambah" Alana mengarang cerita
"bahkan aku mengira om adalah pedofil yang menyukai anak kecil"
"anak kecil yang sudah bisa membuat anak kecil" celetuk Aldric mencoba tidak terpengaruhi dengan ucapan Alana
"Om"
"hmmm"
"Om tau tidak persamaan om dengan bumi?" tanya Alana
"memangnya apa?" Aldric bertanya balik
"sama sama tua"
Aldric melototkan matanya mendengar ucapan Alana.
"kauu...." ujar Aldric mengejar Alana yang sudah pergi dan masuk ke dalam
"kena kau" seru Aldric ketika berhasil menangkap Alana yang sedari tadi menghindarinya dan menjatuhkannya di atas kasur
"ampun om, aku menyerah hos hos hos" Alana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya
"tidak. Kau harus di hukum" Aldric segera mencium Alana
"Om.. mmmmm"
__ADS_1
dan terjadilah sebuah pertempuran yang di awali oleh Aldric.
š·š·š·š·. Hai riders, bagaimana? kalian kangen gak sama Alana dan Aldric. Like vote dan komen ya biar author tambah semangat.