
Di rumah kediaman keluarga kecil Aldric. Edbert sedang menangis sambil memanggil Alana lantaran rindu pada ibundanya yang masih berada di rumah sakit.
"Hiks ma-mah, hiks ana, bi ta hiks (mamah mana bi Lita)?"
Bi Lita bingung memberi tahu Edbert darimana, ia pelan pelan memberitahu Edbert agar anak itu berhenti menangis.
"Dik..(adik)?" tanya Edbert dengan wajahnya yang polos
"Iya sayang. Mamah hari ini pulang membawa dedek bayi. Adiknya Edbert"
"De, ayi (dedek bayi) ?"
"Dik, Ed? (adik Ed)?"
"Iya adik Edbert jadi Edbert jangan menangis ya, bibi akan membawa Edbert ke taman sambil menunggu mamah pulang" jawab Bi Lita kemudian membawa Edbert ke Taman belakang yang bukan hanya kebun atau tempat bersantai tapi Aldric juga menyiapkan tempat bermain anak untuk Edbert. Dan seakan mengerti, Edbert berhenti menangis
sedangkan di rumah sakit mamah dan papah sedang membantu Aldric membereskan perlengkapan Alana dan baby Flo. Sementara Davin sedang mengurus biaya administrasi.
Ya sudah dua hari Alana berada di rumah sakit dan hari ini adalah hari kepulangannya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Aldric ketika Davin datang ke ruangan
"Sudah Tuan"
Davin membantu papah Devan membawa barang-barang, mamah menggendong baby Flo dan Aldric mendorong kursi roda Alana.
"Kalian hati-hati di jalan" ucap mamah ketika akan masuk ke dalam mobil
Alana menganggukkan kepalanya pelan
"Dan Davin jangan terlalu ngebut membawa mobil"
"Baik Nyonya"
"Mamah dan Papah juga hati-hati titip Floreta, awas saja terjadi apa apa dengan putriku" kecam Aldric
Mamah memutar bolanya malas.
"Sudahlah ayo kita berangkat sekarang"
Mereka pun masuk mobil masing-masing. Mereka memutuskan menggunakan dua mobil karena pada saat kesini baik papah maupun Aldric membawa mobil masing-masing.
Mobil mereka pun meninggalkan pelantaran rumah sakit.
Di rumah sakit jiwa terlihat seorang wanita tertawa dan menangis sendiri sambil menggumamkan satu nama.
"Apa ada perkembangan dengan kondisinya" tanya seorang pria pada seorang suster yang menangani pasien tersebut
"Maaf tuan, kondisi pasien masih tetap sama sebisa mungkin kami akan membantunya untuk sembuh kembali"
"Baiklah terimakasih"
__ADS_1
pria itu mengehela nafasnya setelah kepergian sang suster dirinya menatap iba pada perempuan itu. Dirinya selalu menjenguk dan memantau perempuan tersebut sejak Pertama kali masuk.
"Aku harap kau kembali seperti semula"
setelah menempuh perjalanan sebentar. Mobil Aldric sampai dikediamannya di susul mobil papah setelahnya.
Aldric pun turun mengambil kursi rodanya dan mendudukan Alana di atasnya.
Di susul mamah dan papah serta Davin di belakangnya.
Kedatangan mereka di sambut Kakek dan para pelayan. Beda dengan kelahiran Edbert karena saat ini orang orang tengah sibuk dengan tugas masing-masing kemungkinan akan menjenguk nanti.
"Selamat datang cucuku"
"Kakek..." Alana menyambut pelukan sang kakek
"Selamat sayang"
"Terimakasih kek"
"Apa hanya Alana yang mendapatkan selamat" tanya Aldric yang terlihat cemburu
Kakek tertawa melihatnya.
Kakek langsung memeluk Aldric dan di sambut lebih erat oleh cucunya.
"Entah apa yang harus aku ucapkan aku sangat berterima kasih padamu Aldric" kakek Melepaskan kacamatanya dan menghapus air matanya
"Aku tidak perlu rasa terima kasih kakek, cukup kakek menjaga kesehatan dan hidup dengan kebahagiaan dan bisa melihat cicit selanjutnya
Semua orang yang ada disitu menitikkan air mata.
Suasana haru itu tiba tiba di buyarkan oleh tangisan baby Flo.
"Oh tidak, sepertinya baby Flo haus"
mamah pun memberikan Floreta pada Alana untuk di susui.
"Aldric sebaiknya kau bawa Alana ke kamar" Aldric mengangguk dan membawa Alana ke kamar
sedangkan kakek kembali duduk bersama papah dan Davin. Mamah pun pergi ke dapur membuat jus untuk ketiga pria itu.
"Honey semenjak kita datang aku tidak melihat Edbert, di mana dia" tanya Alana sambil menyusui Flo
"Baiklah aku akan ke bawah dan menanyakannya"
Tak lama kemudian Aldric membawa Edbert dalam gendongannya. Edbert terlihat senang melihat wajah sang bunda.
"Ma-mah hah"
"Halo sayang"
__ADS_1
Aldric pun membawa Edbert lebih dekat dengan Alana.
Alana mencium wajah Edbert.
"Kau dari mana saja sayang, kenapa tidak menyambut Mamah dan dedek bayi"
"Bi Lita membawaku ke taman karena aku sempat menangis karena merindukan mamah" jawab Aldric menirukan suara anak kecil
"Uhhh... sayangnya mamah, apa kau rindu? sini duduk dipangkuan mamah" Alana menaruh Flo di kasur dan Aldric menaruh Edbert dalam pangkuan Alana. Kini mereka berdua bertukar jaga.
Tangan Edbert terlihat ingin menggapai Flo.
"Apa kau ingin mencium baby Flo"
"Yum Mah yum (cium mah cium)"
Alana pun mendekati Edbert kepada Flo dan menciumnya.
Aldric menatap ketiganya dengan rasa bahagia, tidak menyangka bahwa ia akan memiliki istri dan anak yang sangat ia sayangi. Masa muda yang ia habiskan dengan bekerja dan bermain wanita di klub nyatanya sang maha kuasa begitu baik padanya mengirimkan seorang istri yang bukan hanya cantik tapi baik.
"Honey kenapa kau terbengong"
"Honey hei..."
"Eh- kau mengatakan sesuatu" tanya Aldric tersadar dari lamunan
"Ck, kau tadi melamun. Ada apa"
"Oh itu, tidak papa. Aku hanya senang akhirnya aku memiliki seseorang yang paling penting dan berharga dalam hidupku dan itu adalah dirimu"
Alana tersipu malu mendengarnya.
"Apa honey belajar menggombali diriku"
"Tentu tidak, aku berkata jujur"
Saat Alana akan berbicara lagi suara ketukan pintu menghentikannya.
"Siapa?"
"Ini mamah sayang"
Terlihat mamah membawakan minuman berwarna kuning.
"Apa yanng mamah bawa" tanya Aldric
"Mamah membawakan Alana jamu agar lebih cepat pemulihannya"
"Bukankah pahit"
"Meski pahit ini sangat bermanfaat bagi tubuh"
__ADS_1
Alana pun menurut dan meminumnya hingga habis.