
Melina dan Devan memasuki ruang inkubator. Terdapat delapan inkubator yang berisi makhluk-makhluk kecil yang mungil, ia pun mencari cucunya diantara bayi-bayi tersebut yang lahir dihari yang sama. Sesampainya di sana mamah Melina takjub dengan banyak bayi di dalam inkubator tersebut. Sang perawat yang berjaga di ruangan tersebut pun mengajak mereka menunjukan letak bayi Alana.
"pah ternyata bukan hanya cucu kita yang lahir hari ini, melainkan ada delapan bayi di sini"
"benar mah, melihat bayi mungil ini, aku jadi menginginkan Aldric memiliki adik" celetuk papah
mamah pun mencubit kecil perut papah.
"papah ini!"
"aw... mah, kenapa mencubit papah"
"papah sudah tua, sudah saatnya menggendong cucu bukan anak lagi"
papah tertawa mendengar ucapan mamah.
"sudahlah, jangan berisik nanti mereka menangis" lanjutnya
"Tuan, nyonya. Di sana letak cucu anda" ucap sang perawat
"Masya Allah papah, lihat lah cucu kita tampan sekali" ujar mamah ketika melihat sang cucu dengan jelas
"cucu siapa dong, pasti tampan seperti kakeknya"
"kata siapa dia mirip papah, pastilah mirip mamah"
"papah"
__ADS_1
"mamah"
sang suster merasa pusing dengan kelakuan mereka yang memperebutkan kemiripan wajah sang cucu.
"nyonya, tuan, bolehkah kalian jangan bertengkar di sini, mereka akan terganggu dengan suara berisik kalian" ujar sang perawat
mamah dan papah merasa malu. Mereka pun meminta maaf.
"maafkan kami sus" ucap mereka serempak
"papah sih" ucap mamah
"kok papah sih"
"yah papah lah, papah yang duluan"
"iya, iya papah yang salah" ucap papah
sedangkan sang perawat menggelengkan kepalanya, heran dengan mereka yang masih ribut.
"Oh ya Sus, bolehkah saya menggendongnya" ujar mamah setelah mereka selesai ribut
sang suster mengangguk memperbolehkan.
Mamah pun dengan senang hati menggendong sang cucu.
*******
__ADS_1
Setelah Operasi selesai, kini Alana sudah di pindahkan ke ruang pemulihan (ruang recovery). Aldric dengan setia mendampingi Alana. Ia berjanji dalam hati setelah Alana pulang dan berkumpul lagi, ia akan memperlakukan Alana lebih baik lagi dan menjadikan ia Ratu di hati dan rumahnya.
"Tuan kami permisi dulu, jika ada apa-apa tinggal tekan bel ini" ujar sang Dokter
"baik, Dokter terimakasih sudah menyelamatkan istri dan anakku, aku akan memberi kalian bonus sebagai ungkapan terima kasihku" ucap Aldric menjabat tangan sang Dokter
"sudah menjadi kewajiban kami sebagai tenaga medis, bisa menyelamatkan nyawa pasien adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami" namun begitu Dokter dan para perawat yang membantu berjalannya Operasi tadi ikut senang dengan bonus yang diberikan Aldric pada mereka
Dokter dan para perawat pun tak lupa berterima kasih kepada Aldric.
"dan terima kasih atas hadiah yang tuan berikan, semoga nona Alana cepat sembuh dan kalian bisa kembali berkumpul bersama" doa sang Dokter
mereka pun pamit meninggalkan ruangan.
Sepeninggalnya Dokter dan Perawat tersebut, Aldric duduk di kursi samping Alana.
"Sayang..."
"anak kita sudah lahir, aku belum menggendongnya dan melihatnya lagi setelah sang suster membawanya ke ruang perawatan" ucapnya didepan Alana yang masih tertidur dan belum terbangun
Aldric yang juga merasa mengantuk pun ikut tertidur di kursi tanpa membersihkan noda darah di pakaiannya.
...----------------...
Oh sosweat, ada yang mau suami kaya Aldric š¤£.
skip......
__ADS_1
...----------------...
š·š·š·š·. Lanjut gak?