
Alana sudah Standby di dapur, sembari menunggu Edbert membersihkan diri ia menyiapkan bahan-bahan Kue nya, untung saja bahan-bahan tersebut ada di dapur.
"Nyonya apa perlu kami bantu?" tanya para pelayan melihat majikannya berada di dapur yang sedang menyiapkan bahan-bahan Kue
Alana menoleh. "Tidak usah Bi, kalian kerjakan pekerjaan kalian saja"
"oh iya, Bi Lita. Tolong lihat Flo di kamarnya ya, jika ia sudah bangun langsung saja di mandikan dan jika ia ingin minum susu tinggal ambil di tempat penyimpanan ASI dan hangatkan. Hari ini aku akan membuat Kue dulu bersama Edbert" ujar Alana tersenyum
Alana selalu memompa ASI nya dan menyimpan Asi perah tersebut di dalam lemari pendingin jikalau saat mereka keluar atau Alana sedang sibuk barulah Flo minum ASI di dalam botol. Jika tidak Alana selalu minum langsung dari sumbernya.
"baik Nyonya Alana"
Mereka pun pergi dan mengerjakan pekerjaan masing-masing.
"Mamah..." ujar Edbert dari arah tangga
"iya sayang"
"bagaimana? Apa kau sudah siap" tanya Alana
Edbert mengangguk senang, Alana pun memakaikan Apron untuk Edbert.
"Siap dong ma"
mereka pun memulai acara membuat Kue Coklat kesukaan Edbert dan Aldric.
Di Kantor entah mengapa Aldric merasakan kejenuhan. Sejenak ia menghentikan aktivitas nya dan mengambil ponsel pintar miliknya.
Dreet Dreet Dreet.
Panggilan ketiga baru terangkat.
__ADS_1
"Halo Pah" terlihat wajah Edbert yang penuh tepung memenuhi layar ponsel
"Astaga Boy, apa yang kau lakukan" Aldric mengerutkan dahinya heran
Edbert terlihat senang dan menunjukkan apa yang ia lakukan bersama sang Bunda. "Aku sedang membuat Kue Coklat bersama Mamah, pah."
terlihat oleh Aldric Alana yang sedang mengaduk adonan terlihat cantik memakai Apron dan rambut yang di gulung ke atas.
"Edbert sayang bisakah kau berikan ponselnya pada mamah" Pinta Aldric
Edbert pun mengiyakannya. "Mah, papah ingin berbicara dengan mamah"
"sebentar sayang" terlihat Alana memasukan Adonan Kue tersebut ke dalam Loyang
"sayang kau taburi kacang Almond di atasnya ya" ucapnya
Edbert pun melaksanakan perintah sang Bunda. Setelah itu Alana memasukan nya ke dalam Oven. Barulah ia mengambil ponselnya dan menjawab panggilan vidio dari sang suami.
"gombal, mana ada orang di dapur terlihat cantik" ucapnya memperlihatkan wajahnya yang sedikit berkeringat dan rambut yang sedikit berantakan, namun terlihat cantik di mata Aldric
"aku serius sayang, lain kali aku ikut membuat Kue bersama mu"
Alana memutar bola matanya malas.
"Apa honey tidak ada kerjaan sehingga menggombaliku. Bukankah jam istirahat masih lama?" tanyanya mengabaikan gombalan Aldric
seketika wajah Aldric terlihat memelas. "Sayang entah mengapa hari ini aku terasa lelah dan ingin segera pulang memelukmu, rasanya untuk sekarang tidak ada tempat ternyaman selain pelukanmu"
"Honey... berhentilah bercanda"
"aku serius sayang, aku merasa lelah dan ingin segera pulang"
__ADS_1
"apa kau sakit?, apa perlu aku ke sana membawakan makan siang?" terdengar nada khawatir di dalamnya
Aldric yang mendengarnya pun tersenyum senang. "Aku tidak papa. Tapi jika kau kesini dengan senang hati aku menunggumu sayang"
"*baiklah, kalau begitu setelah membuat Kue aku akan bersiap-siap ke kantor mu"
"baiklah sayang aku tunggu kedatangan mu, muaccchhh..."
"muach*" Alana membalas ciuman jauh Aldric
"sayang..." panggil Alana pada Edbert
"iya mah..."
"Edbert papah tutup dulu ponselnya ya, sampai jumpa di kantor" ucap Aldric
"baik pah... cup" Edbert mencium layar ponsel, Alana dan Aldric terkekeh di buatnya
Kemudian sambungan vidio call pun mati.
Setelah menelpon sang pujaan hati, Aldric merasakan semangat lagi dalam dirinya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
"Ting"
Pertanda Kue telah matang.
"Edbert sepertinya itu sudah matang" Alana pun mengambilnya dari dalam Oven
"Wah... Mamah ini harum sekali" Edbert tampak berbinar ketika kue hasil buatannya dengan sang Bunda tercium harum dan terlihat lezat
"tentulah, siapa dulu dong yang buat" ucap Alana sambil mencolek hidung Edbert
__ADS_1