
Aldric tengah berdiri di depan kaca seraya memperhatikan dirinya sendiri.
Setelah Alana dan Aldric selesai ber*****. Aldric langsung beranjak dari kasur dan langsung melihat cermin sementara Alana tertidur setelah kelelahan.
"Apa iya aku sudah tua" tanya nya sendiri sambil meraba dagunya yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus
"Honey, kau sedang apa?" tanya Alana setelah bangun dari tidurnya dan melihat Aldric yang berdiri di depan kaca
"Saat aku akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri tak sengaja melewati kaca ini dan melihat wajahku yang semakin tampan setiap harinya" jawab Aldric narsis
Alana berdecih mendengar jawaban narsis Aldric.
"Kalau begitu cepatlah mandi, aku takut Edbert menangis dan mencariku"
"Kenapa kita tidak mandi bersama saja? agar cepat selesai?" ajak Aldric dengan tatapan mesumnya
"Bukan cepat selesai tapi akan lebih lama" jawab Alana
dirinya tahu bahwa suaminya itu bukan hanya mengajak mandi namun dari ajakannya seperti akan bermain kembali dikamar mandi. Dan ia tidak mau.
"Honey..." teriak Alana ketika Aldric membawa paksa dirinya
****
__ADS_1
Aldric dan Alana telah selesai membersihkan diri. Seperti yang Aldric bilang mereka hanya mandi bersama dan tidak ada hal lain lagi.
"Sini biar ku bantu" Aldric membantu Alana mengeringkan rambut nya dengan hair dryer
Ia juga menyiapkan baju untuk dirinya dan Alana pakai. Aldric mengambil kaos hitam dan celana pendek untuknya, sementara Alana ia ambilkan dres dengan panjang di bawah lutut berwarna kuning dengan motif bunga Daisy.
"Selesai" ujar Aldric setelah selesai
Mereka pun turun ke bawah untuk makan malam karena sekarang sudah pukul tujuh malam.
Sesampainya di bawah benar saja, Edbert langsung menyodorkan tangannya meminta untuk di gendong. Edbert langsung membawa Edbert kedalam pelukannya.
"Tadi Tuan Muda sempat menangis mencari keberadaan Nyonya, namun bibi segera membawanya ke taman sambil memberikannya susu setelah itu ia tertidur" ujar Bi Lita
"Oh iya bi terima kasih ya, Edbert biar aku saja" kata Alana
"Sayang" Alana melototkan matanya ketika Aldric hendak protes karena ia masih ingin bermanja-manja dengan istrinya
"Honey..." Aldric langsung terdiam mendengar kata yang keluar dari mulut Alana
Bi Lita dan Bi Nani yang sudah menyiapkan makan malam pun pamit undur diri ke belakang. Padahal Alana dan Aldric sudah meminta mereka makan malam bersama di meja makan namun Bi Lita dan Bi Nani menolaknya. Jadilah mereka tidak bisa memaksa.
Mereka pun makan dengan romantis dimana Aldric sesekali menyuapi Alana, sebab Alana makan sambil menyuapi Edbert yang duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya.
__ADS_1
Sementara di rumah peninggalan kedua orang tua Alana. Ema hanya tinggal bersama beberapa pelayan dan supir yang di siapkan oleh Aldric dan kedua mertua Alana untuk menemani Ema. Untung saja rumahnya cukup luas untuk dirinya dan para pelayan tinggal.
Ya. Ema sudah pindah kerumah kedua orangtuanya. Dan ia juga sudah masuk sekolah di sekolah SMA. Seperti saat ini Ema tengah belajar dengan giat agar nanti bisa masuk ke Universitas impiannya.
"Ema sayang lihat Ibu bawakan apa" ujar Bi Lili sambil membawakan susu dan cemilan untuk menemani Ema belajar
Bi Lili adalah salah satu pelayan yang di tugaskan untuk menjaga Ema. Meski Ema dekat dengan para pelayan lain namun kedekatannya denga Bi Lili seperti ibu dan anak, Bi Lili adalah seorang janda dan seusia bunda Mira ( mamah kandung Ema dan Alana) suami dan anaknya sudah meninggal dan mungkin karena itulah mereka menjadi dekat karena sama sama di tinggal orang tersayang. Ema yang mempunyai sifat ramah pun merasa nyaman dengan Bi Lili dan memintanya di panggil dengan sebutan Ibu. Bi Lili dengan senang hati mengiyakan.
"Jangan terlalu di paksakan, jika sudah lelah lekaslah tidur. Bukannya tidak boleh belajar tapi jika kau mengantuk, kau bisa menyudahinya dan melanjutkan besok malam" kata Bi Lili setelah Ema menghabiskan susunya dan melihat jam sudah pukul 10 malam
Ema bercerita padanya, jika ia ingin sekali kuliah di universitas impiannya dengan jalur beasiswa. Meski kakak iparnya sangat sanggup untuk membiayai pendidikannya sampai tinggi atau bahkan di universitas yang sangat mahal sekalipun. Apa salahnya jika ia juga berjuang atas keinginan nya itu. Lili mendukung impian anak angkatnya dan selalu mendoakan dan mendukung apapun yang Ema inginkan selagi hal itu positif. Tapi ia juga khawatir jika Ema kelelahan dan terlalu di porsir dalam belajar. Siangnya sekolah berangkat pagi pulang sore dan ia belajar lagi di malam hari.Terkadang ia juga menemani putri angkatnya belajar.
"Baiklah Bu. Aku sudah selesai" jawab Ema patuh
Bi Lili senang karena Ema adalah gadis yang baik dan selalu patuh. Ia pun membantu Ema merapikan buku bukunya dan memasukkan ke dalam tas untuk di bawa besok
Sedangkan Ema pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi. Setelah selesai Ema pun langsung naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya.
"Tidur yang nyenyak putrinya ibu" Bi Lili menyelimuti Ema dan mengecup keningnya
Ema pun tersenyum dan mengangguk serta memberikan kecupan di pipi sang ibu. Bi Lili pun tersenyum dan pamit keluar.Tak lupa mematikan lampu kamar Ema dan digantikan lampu tidur tamaram.
š·š·š·.
__ADS_1