
Tiga jam perjalanan membuat mereka lelah. Sampai di apartemen mereka disambut manager di sana. Manager mengantarkan keluarga Regan untuk ke apartemen mereka masing-masing.
Bryan, Regan dan Felix memiliki satu unit apartemen di tempat ini. Sengaja untuk tempat mereka singgah. Apartemen di desain dengan satu kamar atau dua kamar, karena memang apartemen ditujukan untuk anak-anak yang kuliah di universitas di seberang.
Karena ketiga pria memiliki apartemen, akhirnya mereka sengaja tinggal di apartemen masing-masing.
Lana dan Andrew ikut Regan di apartemen, Melisa dan Daniel ikut Bryan di apartemen, sedangkan Chika ikut Felix di apartemen Felix.
Mereka masuk ke dalam apartemen masing-masing. Pertama masuk mereka disuguhi desain klasik khas eropa begitu cantik.
"Mama sudah desainnya," ucap Melisa saat melihat apartemen yang dibangun Bryan. "Lihatlah anak kita hebat bukan?" tanyanya pada Daniel.
Daniel hanya tersenyum. Dia merasa sangat senang karena Bryan bisa menyelesaikan semuanya. Padahal hampir saja proyek ini berantakan karena keponakannya.
"Iya, sekarang dia anak yang hebat dan daddy yang hebat."
Senyum Bryan begitu mereka dipuji oleh papanya. Shea yang berada di samping Bryan juga ikut tersenyum senang. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain suaminya jadi kebanggan.
"Papa secepatnya akan menyerahkan seluruh perusahaan padamu," ucap Daniel menepuk bahu Bryan.
__ADS_1
Mata Bryan membulat. Selama ini dirinya hanya menjabat CEO saja. Kekuasaan masih hak penuh atas papanya dan ada hak kakaknya juga. Namun, jika papanya memberikan padanya itu artinya sepenuhnya perusahaan adalah miliknya karena 75% saham akan jadi miliknya.
"Apa Papa yakin?" tanya Bryan memastikan.
"Papa sudah tua. Sudah waktunya istirahat menikmati masa tua. Lagi pula searang kamu sudah hebat, untuk apa papa susah-susah mengurus."
Bryan menatap Shea dan mendapati anggukan dari Shea. Kemudian dia memeluk papanya. Merasakan kebahagiaannya. "Terima kasih, Pa."
"Bekerjalah lebih keras. Karena Papa yakin perusahaan akan lebih maju."
"Bryan janji, Pa." Janji yang akan Bryan pegang teguh kelak.
Melisa dan Shea tersenyum melihat anak dan ayah itu. Sebagai mama, Melisa senang suaminya sudah mempercayakan semuanya pada putranya, sedangkan Shea sebagai istri Bryan tak kalah senang karena memang itu impian suaminya-membuat papanya percaya padanya.
El yang sepanjang perjalanan tidur pun akhirnya terjaga dan mengajak daddy dan mommy-nya bermain.
"Aku senang papa begitu percaya padamu."
"Semua karena dirimu juga." Kamu tahu bukan aku tidak akan bisa berubah jika tidak ada dirimu," ucap Bryan, "Terima kasih, Sayang," imbuhnya seraya mendaratkan kecupan di dahi Shea.
__ADS_1
"Jangan berterima kasih. Karena aku melakukannya karena aku mencintaimu."
"Dan aku berubah karena cintamu." Bryan memeluk Shea.
El yang di dalam gendongan Shea mendorong tubuh daddy-nya karena terhimpit tubuh daddy-nya.
"Lihatlah. Aku sudah punya saingan memilikimu," ucap Bryan menggoda Shea. "Aku rasa dia akan sangat melindungi kamu jika sampai aku melukaimu."
"Tentu, karena anak laki-laki adalah pelindung untuk ibunya."
Tawa mereka berdua terdengar begitu bahagia. Tak ada kata lain selain rasa bahagia.
**
Shea dan Bryan beristirahat di atas tempat tidur. Perjalanan tadi cukup melelahkan. Dan mereka butuh istirahat.
"Kita akan berapa hari di sini?" tanya Shea.
"Sehari saja. Setelah itu kita kembali ke London ke rumah mama dan papa." Sebenarnya rencana awal mereka akan tinggal di rumah masing-masing dari orang tua mereka. Namun, karena tidak mau terpisah di awal kedatangan mereka memutuskan untuk bersatu di satu hotel.
__ADS_1
Shea tidak sabar akan mengunjungi rumah mertuanya besok. Apalagi dia juga belum puas berkeliling London.
"Sudah sekarang istirahatlah. Besok hari peresmian apartemen. Kita harus segar untuk acara besok." Bryan menepuk tempat tidur.