My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Muntah


__ADS_3

Felix yang membaca artikel di ponselnya, mencoba menenangkan dengan cara memainkan rattle dan sambil mengajak dua bayi berbicara. "Anak pintar, jangan nangis," ucapnya. Namun, dua hanya baby Al yang akhirnya terdiam, karena ternyata baby El masih menangis kencang.


"Kenapa kamu tidak seperti Al yang langsung diam?" tanya Felix pada baby El. Dia benar-benar bingung karena tidak tahu harus apa.


Kembali pada ponselnya, Felix membaca cara menenangkan bayi. "Kemungkinan rasa tidak nyaman, akibat popok yang penuh." Sambil tetap terus membunyikan rattle di tangannya, dia mencari kemungkinan-kemungkinan anak Bryan itu masih menangis.


Buru-buru dia mengecek diapers yang dipakai El. Di pegang-pegang diapers, tetapi dia tidak menemukan seperti apa penuh itu. Akhirnya, dia memilih untuk membuka celana El dan mengecek diapers yang dipakai El.


Saat mengecek diapers, Felix justru menemukan jika ternyata El buang air besar. Aroma tak sedap langsung tercium dan seketika Felix menutup kembali diapers sambil menahan rasa mualnya. Dia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi di dalam ruangan Bryan, untuk muntah. Rasanya dia mual sekali saat melihat kotoran bayi.


Bryan yang selesai meeting masuk ke dalam ruangannya. Namun, dia tidak menemukan Felix. Dia hanya menemukan dua bayi yang menangis di dalam stroller sendiri.


"Kemana Felix? Aku minta menjaga Al dan El, dia justru pergi," gerutunya. Buru-buru menghampiri dua bayinya untuk mengecek keadaan mereka. "Kalian kenapa?" tanyanya tersenyum.


Melihat daddy-nya dua bayi itu langsung terdiam. Mereka mengulurkan tangan, berharap Bryan menggendongnya. "Karena daddy tidak bisa memilih kalian untuk digendong, jadi tidak ada yang digendong ya," ucapnya.


Saat sedang asik berbicara dengan dua bayi, Bryan melihat Felix yang baru saja keluar dari kamar yang berada di ruangannya. "Dari mana kamu? Aku meminta menjaga, tetapi kamu meninggalkan mereka sendiri!" Mengingat anak-anaknya sendiri, dia merasa sangat kesal.


"Aku muntah," jawabnya lemas.


"Kenapa muntah?" kedua alis Bryan saling bertautan merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh temannya.


"Anakmu buang air besar!" seru Felix memberitahu Bryan. Tubuhnya kembali bergidik membayangkan apa yang tadi dia lihat.


"Oh ya? Apa kamu sudah mengganti diapers-nya?" tanya Bryan seraya mengecek diapers yang dipakai oleh El.


"Aku baru saja melihat sudah muntah, bagaimana bisa aku menggantinya?" Felix menahan rasa mualnya saat mengingat bagaimana tadi dia mengecek diapers El.


Bryan mendengus kesal mendengar jawaban Felix. "Bagaimana kamu mau menjadi suami kalau begini saja kamu tidak bisa?" tanyanya dengan nada menyindir.


"Ada istriku yang nanti, kenapa aku harus bersusah payah." Felix tidak mau kalah dengan ucapan Bryan.


"Apa kamu tidak sadar, jika terkadang seorang istri butuh istirahat?" Bryan bertanya seraya membuka diapers El dan membersihkannya.


Felix yang merasa jijik memutar balik badannya, untuk tidak melihatnya. "Nanti, juga aku akan belajar, tetapi bukan sekarang," elaknya.


"Justru Kamu harus belajar dari sekarang, jadi ada yang bisa kamu pamerkan," ucap Bryan licik. Dia masih terus membersihkan tubuh bagian bawah El. Saat sudah bersih, dia memasukan diapers ke kantung sampah, dan mengingatnya. Kemudian dia membuangnya ke tempat sampah.


"Tunggu mereka sebentar, aku mau cuci tangan," ucap Bryan melewati Felix, untuk ke kamar mandi.


"Apa anakmu sudah bersih?" tanya Felix memastikan.

__ADS_1


"Apa kamu tadi tidak melihat aku sedang apa?" tanya Bryan mencibir.


"Iya, aku melihat." Felix berbalik menghampiri dua bayi kecil yang sudah tenang dan asik beri gumam. Dia merasa lega saat sudah tidak tercium aroma tidak sedap dari tubuh El.


Bryan keluar dari kamar mandi, dan ikut bergabung dengan Felix. Dia ikut duduk di sofa bersama dengan asistennya itu.


"Kamu hebat sekali bisa mengganti diapers seperti tadi." Felix tersenyum melihat seorang cassanova yang berubah jadi babysitter.


"Cinta." Satu kata yang menjawab pertanyaan dari Felix. Dia menatap Felix. "Aku mencintai anak dan istriku, jadi aku akan melakukan apapun untuk mereka."


Felix tersenyum. Melihat Bryan menyebut satu kata untuk alasannya melakukannya dia merasa sangat takjub. Sejauh dia mengenal Bryan, banyak hal yang berubah.


"Suatu saat kamu akan merasakan apa yang aku rasakan," ucap Bryan menatap Felix.


"Ya, kita lihat saja, apa benar-benar aku akan seperti dirimu yang berubah."


"Baiklah. Tolong kamu ajak main mereka, aku harus mengubah data hasil meeting tadi." Bryan berdiri dan menuju ke meja kerjanya.


"Aku lagi?" tanya Felix seraya menunjuk dirinya.


"Iya, memangnya siapa lagi? Bukankah kamu ingin mendapatkan maaf dari Shea?" tanya Bryan tersenyum licik.


"Mereka suka mendengar menyanyi, jadi coba kamu menyanyi saja." Bryan mulai membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa data.


Felix dengan polosnya akhirnya bernyanyi. Dia menyanyikan lagu pop. Suara Felix memang bagus, tetapi dua bayi kecil itu tidak mengerti.


"Jika kamu menyanyi lagu dewasa seperti itu, kamu membuat anak-anakku menjadi dewasa sebelum waktunya," keluh Bryan. Dia berbicara tanpa melihat ke arah Felix, dan memilih tetap fokus dengan layar laptopnya.


"Aku tidak bisa menyanyi lagu anak-anak selain lagu ulang tahun."


"Ya sudah nyanyi saja lagu ulang tahun."


Felix pun menyanyi lagu ulang tahun untuk kedua bayi kecil itu. Mendengarkan Felix bernyanyi, dua bayi itu tertawa. "Mereka tertawa Bry," ucapnya senang. "Lagu apa lagi yang bisa aku nyanyikan?" tanyanya kembali dengan semangat.


Bryan menghentikan tangannya yang sedang menari di atas keyboard. "twingkle twingkle little star," ucap Bryan.


Felix pun mengingat lagu itu. Saat ingatnya menemukan lirik dari lagu itu, dia langsung bernyanyi.


Suara di ruangan Bryan seketika riuh. Dua bayi kecil itu memang sangat suka mendengarkan orang menyanyi, jadi mereka sangat antusias saat mendengar Felix bernyanyi.


Bryan yang di sedang mengerjakan pekerjaannya, diam-diam merekam aksi Felix dan mengirimkannya pada Shea. Dia berharap istrinya bisa memaafkan temannya itu.

__ADS_1


***


Waktu menunjukan pukul tiga. Bryan memutuskan untuk pulang lebih awal karena dia membawa baby Al dan El. Mereka berdua saling membantu merapikan barang-barang milik baby Al dan El.


Menuju rumah Bryan, Felix kembali yang menyetir. Dua bayi yang duduk di kursi belakang terus saja bergumam. Sampai akhirnya gumaman mereka berhenti karena ternyata mereka mengantuk. Baby Al dan El yang merasa sangat nyaman dalam perjalanan, membuat mereka tertidur.


Sesampainya di rumah, mereka sudah disambut oleh Shea. Shea membantu Bryan untuk memindahkan dua bayi ke dalam kamar mereka, agar dua bayi itu melanjutkan tidur mereka.


Bryan dan Shea yang keluar dari kamar bayi, kembali menemui Felix. Mereka ikut bergabung duduk dengan Felix.


"Terima kasih," ucap Shea pada Felix. Tadi dia sudah melihat bagaimana anak-anaknya dijaga oleh Felix dan tampak kedua bayi kecil itu tertawa bersama Felix.


"Sama-sama," jawab Felix tersenyum. "Se, masalah …."


"Aku sudah memaafkanmu," potong Shea saat Felix belum selesai berbicara.


Felix merasa lega saat Shea sudah memaafkannya.


"Akan tetapi aku mohon jangan ulangi lagi. Selain karena itu tidak baik untuk kesehatan. Kalian sudah seharusnya menjadi pribadi yang baik."


"Iya, aku akan usahakan tidak akan mengajak Bryan untuk minum lagi."


"Aku harap bukan hanya Bryan saja yang berhenti, tetapi dirimu juga." Shea menyadari tidak semudah itu berubah, tetapi dia yakin suaminya dan Felix bisa berubah."


"Aku usahakan." Satu janji yang akan benar-benar Felix penuhi. Bukan karena Shea, tetapi karena dirinya sendiri.


"Baguslah." Shea tersenyum menatap Bryan. Melihat Felix berusaha juga seperti suaminya, dia merasa senang.


"Jadi apa kamu akan membantuku mendekati Chika?" Felix menanyakan pertanyaan yang sudah dari tadi dipendamnya.


.


Bersambung


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2