
Sesuai dengan rencana, besok Bryan, Shea, Regan dan Selly. Shea dan Selly sudah merencanakan akan pergi ke mana. Mereka memutuskan untuk ke puncak saja, menginap di villa keluarga Adion.
Namun, tiba-tiba malam ini El demam. Suhu badan bayi kecil itu begitu panas. Hingga akhirnya membuat Bryan dan Shea semalaman berjaga karena El begitu rewel. El menangis hingga membuat Bryan kebingungan.
Berbeda dengan Bryan yang tampak bingung, Shea tampak tenang. Ibu muda itu tidak merasa panik, karena sudah banyak belajar. Dari yang dia pelajari, seorang ibu tidak boleh panik, karena anak pun akan merasakan akan semakin rewel.
Benar juga, El yang menangis tidak butuh waktu lama untuk kembali tenang. Apalagi setelah Shea memberikan obat penurun panas.
"Sepertinya kita tidak bisa pergi besok," ucap Shea sesaat setelah menidurkan El.
Bryan menghela napasnya berat. Saat ini dia di hadapkan dengan egonya. Perasaan ingin pergi begitu terasa, tetapi rasa cintanya pada sang buah hati lebih besar dari keinginannya. Hingga akhirnya dia memilih untuk setuju. "Iya, batalkan untuk pergi."
Shea tersenyum. Dia senang saat suaminya lebih memilih membatalkan keinginannya demi sang anak. "Kita bisa pergi lain waktu," ucap Shea membelai pipi Bryan.
"Iya, tidak masalah. Anak kita lebih penting dari segalanya."
Rasanya Shea begitu senang mendengar ucapan Bryan. Suaminya itu benar-benar berusaha menjadi ayah yang baik, melepas egonya demi sang anak.
"Sudah ayo tidur," ajak Bryan. Melihat anaknya yang sudah tertidur, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk istirahat.
Shea mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Menyusul sang buah hati yang sudah tertidur pulas.
Bryan yang tidur di samping El merasa tidak tega melihat anaknya yang demam. "Cepat sembuh ya Sayang," ucapnya. Dia ikut memejamkan matanya dan menyusul anak dan istrinya yang sudah lebih dulu tidur.
***
Suara El yang menangis, membangunkan Bryan dan Shea. Mereka dengan sigap mengecek keadaan El. Shea langsung meraih tubuh kecil El mendekat padanya, dan menyusuinya.
"Apa masih demam?" tanya Bryan melihat ke arah El yang sedang menyusu.
"Sudah reda," jawab Shea seraya mengecek suhu tubuh El dengan punggung tangannya.
"Syukurlah."
"Sayang, tolong kabari Kak Selly, beritahu jika kita tidak jadi pergi." Shea yang teringat dengan rencananya akhirinya meminta Bryan mengabari. Dia tidak mau kakak iparnya itu menunggunya.
"Baiklah." Bryan bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya.
"Sayang, bilang Kak Selly untuk menitipkan Al di sini saja. Lagipula kita tidak kemana-mana," tambah Shea.
"Iya, aku akan mengatakannya." Bryan mengusap layar ponselnya untuk memberitahu kakaknya.
Selly yang menerima kabar jika El demam, sangat terkejut. Dia pun tidak masalah jika Bryan dan Shea membatalkan liburannya. Apalagi alasan mereka adalah anak.
Mendengar jika Bryan memintanya menitipkan Al di rumah, Selly merasa tidak enak. Namun, Bryan menjelaskan jika ada dirinya yang akan menjaga. Akhirnya Selly setuju, dan akan mengantarkan Al ke rumah adiknya.
***
"Itu pasti Kak Selly dan Kak Regan," ucap Shea yang mendengar suara bel rumahnya.
"Aku akan membukanya." Bryan berdiri dan melangkah menuju ke pintu untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Shea yang sedang asik duduk di sofa ikut berdiri dan melangkah tepat di belakang saja.
"Gimana keadaan El?" Saat pintu dibuka satu pertanyaan pertama terlontar dari mulut Selly. Dia memandang adiknya yang berada di depan pintu. Namun, sesaat kemudian dia melihat El di belakang Bryan. "Anak mommy sakit?" tanya Selly melihat El yang berada di gendongan Shea.
Bayi kecil yang biasanya tersenyum saat Selly berbicara hanya terdiam. Wajahnya terlihat malas sekali untuk menjawab Selly dengan gumaman.
"Iya Mommy, acu atit," jawab Shea mengoyangkan tangan El.
"Sudah diberikan obat?" tanya Selly.
"Sudah, Kak, dan demamnya juga sudah reda."
"Syukur kalau begitu." Selly merasa lega saat mendengar keadaan keponakannya.
"Sini." Bryan meraih Al yang berada di gendongan Regan.
"Apa tidak apa Al di sini?" Regan kembali menanyakan pada Bryan dan Shea.
"Aku hari ini libur, dan selama jadi aku akan menjaganya," jawab Bryan.
Regan dan Selly pun mengangguk. Mereka lega karena Bryan dan Shea tidak keberatan dengan kehadiran Al. Selly juga menambahkan permintaan maaf karena babysitter tidak ada.
Kemarin, Selly mengizinkan babysitter untuk libur, karena dia pikir Al akan bersama mamanya.
Bryan dan Shea pun tak masalah. Lagipula dengan adanya Al, El lebih senang.
Usai mengantarkan Al, Regan dan Selly berpamitan. Mereka memilih segera berangkat, karena tidak ingin terjebak macet.
Regan yang sedang fokus menyetir, menoleh pada Selly. "Iya, kamu benar. Kita beri kesempatan Bryan dan Shea untuk berlibur berdua dan kita menjaga Al dan El."
Selly mengangguk dan kembali melihat jalanan. Saat melihat jalanan, dia teringat sesuatu. "Apa pembangunan properti kita yang ditangani Bryan sudah selesai?" Selama sembuh dia hampir saja tidak menanyakan hal itu pada Regan.
"Hampir rampung."
"Berarti akan ada peresmian?"
"Iya, mungkin satu atau dua bulan ini."
"Bagiamana jika kita ke sana berlibur sekaligus meresmikannya?" Dengan antusias Selly mengatakan pada Regan.
"Boleh." Regan hanya menjawab singkat karena sedang fokus pada jalanan.
"Kita akan ajak semua keluarga," ucap Selly, "pasti akan sangat menyenangkan," imbuhnya. Dia membayangkan betapa senangnya berlibur di luar negeri dengan keluarga.
Regan hanya mengangguk saja. Baginya ide seperti apapun yang diinginkan Selly, akan dia penuhi.
***
Setelah melalu perjalanan panjang, Regan dan Selly sampai di villa. Di Villa mereka sudah di sambut oleh penjaga villa. Penjaga membawa barang-barang Selly dan Regan ke dalam villa
Sudah sangat lama sekali Selly tidak ketempat ini. Lebih tepatnya sebelum dirinya hamil dan berlanjut koma.
__ADS_1
Menghirup udara pegunungan begitu membuatnya senang. Rasanya begitu menenangkan.
Masuk ke dalam villa. Selly dan Regan langsung masuk ke kamar. Kamar yang berada di lantai atas membuat Selly kesulitan karena memakai tongkat. Akhirnya Regan menggendong Selly ala bridal style.
Sampai di lantai atas, Selly meminta untuk ke balkon. Dia ingin melihat pemandangan yang terlihat dari atas villa.
Regan menurutinya. Menurunkannya di balkon, dan memegangi Selly dari belakang. "Apa kamu senang?"
Mendengar pertanyaan Regan Selly menoleh pada suaminya. "Aku benar-benar merindukan tempat ini," jawab Selly.
Regan tersenyum. Dia mengeratkan pelukannya. "Dan aku merindukanmu," ucapnya berbisik tepat di telinga Selly.
Mendengar Regan berbisik, rasanya Selly merasakan jantungnya berdebar. "Aku begitu berdebar seperti dulu pertama kali kita pergi berbulan madu."
"Tapi dulu aku belum secinta itu denganmu." Regan mengingat jika dulu dia masih biasa saja dengan Selly.
"Apa berarti kamu sekarang mencintaiku?" goda Selly.
Regan membalikan tubuh Selly agar bisa memandang wajah cantik istrinya. "Aku mencintaimu hingga aku begitu lemah saat kamu akan pergi meninggalkan aku."
Selly tersenyum. Dia mengerti lemah seperti apa yang dimaksud Regan. Suaminya itu menangis karena dirinya yang hampir saja meninggalkannya. Pertama meninggalkan ke luar negeri dan yang kedua, hampir saja meninggalkan untuk selamanya.
"Aku mencintaimu," ucap Regan membenamkan bibirnya pada bibir Selly. Tangan Regan melingkar di pinggang istrinya, mengeratkan pelukannya
Selly yang merasakan tangan Regan yang melingkar dan memeluknya, membalas melingkarkan tangannya di leher Regan, menarik tengkuk suaminya dan memperdalam ciuman mereka.
Menikmati ciumannya, Regan melepas saat merasakan napasnya mulai terengah-engah. Senyum tipis tertarik di bibirnya saat menatap istrinya. "Kita lanjutkan di kamar," ucapnya seraya menangkup tubuh Selly.
Selly yang terkejut berteriak. Tawanya pecah saat Regan menggendongnya ala bridal style. Agar tak terjatuh, dia melingkarkan tangannya di leher Regan.
Regan menuju ke kamar untuk melanjutkan kegiatannya.
Bersambung....
.
.
.
.
...Jangan lupa dukung...
...Beri Like...
...Beri Hadiah...
...Beri komentar...
...Hadiah ini berupa poin/ koin. Poin bisa diambil di pusat misi( gratis)....
__ADS_1
...Klik profil kalian ya....