My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Apa kamu tega?


__ADS_3

"Berhentilah membahas kematian Kak Selly, karena dia akan tetap hidup dan tidak akan pernah meninggalkan kita," ucap Shea dengan suara meninggi. Air matanya sudah mengalir di pipi mulusnya. Wajahnya yang putih seketika memerah menahan amarah dan kekesalan yang luar biasa.


Satu hal yang paling dia rasakan adalah kecewa. Kecewa terhadap Bryan yang dengan mudah mengatakan jika kakaknya akan meninggal.


Orang yang harusnya menjadi penyemangat kakaknya sendiri, justru berpikir jika kakaknya akan meninggal.


"Aku sudah berkali-kali memperingatkan kamu untuk tidak larut dalam pikiran kamu itu, tetapi sepertinya kamu tidak mendengarkan aku!"


Shea benar-benar geram dengan Bryan. Terakhir kali dia sudah meminta Bryan untuk percaya padanya. Namun, kenyataannya justru pikirannya semakin tidak keruan.


Bryan memegangi pipinya. Sebenarnya dia amat terkejut saat istrinya menamparnya. Walaupun tidak sakit, tetapi ini adalah hal kasar yang baru pertama kali dilakukan oleh Shea, dan itu menandakan jika dia benar-benar marah.


Tubuh Shea lemas. Dia menjatuhkan tubuhnya di samping tempat tidur. "Apa Kakak dengar apa yang dikatakan adik Kakak itu?" tanya Shea pada Selly. Air matanya terus mengalir. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati.


"Jangan dengarkan ucapannya! Aku yakin Kakak akan sadar." Shea benar-benar terluka. Jika kemarin dia mendengar Jessie yang membahas kematian Selly saja dia terluka, apalagi sekarang, dan lebih parahnya lagi suaminya sendiri yang mengatakannya.


Se ….


Selly yang mendengar semuanya merasa sangat sedih. Akan tetapi dia tidak bisa menyalahkan adiknya. Curhatan adiknya beberapa waktu lalu sudah menunjukan sebesar apa ketakutan yang dirasakannya.


Regan yang di mata orang baik, memang membuat adiknya itu merasa kecil hati. Merasa takut jika dia yang tidak sempurna akan tergantikan.


Ingin rasanya Selly cepat bangun, tetapi rasanya tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.


Melihat istrinya menangis Bryan merasa tidak tega, tetapi perasaanya masih terus terbayang apa yang dilihatnya tadi antara Regan dan Shea. Belum lagi ketakutan-ketakutannya yang sudah bersemayam di hatinya beberapa hari ini, terus meracuni hatinya.


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengatakan akan hal itu, karena aku yakin Kakak akan sadar. Kakak akan bersama kami lagi." Satu hal yang ingin Shea lakukan. Jika Selly mendengar semua ucapan Bryan, dia harap kakak iparnya itu tidak sedih.


Mendengar ucapan Shea, Bryan memikirkan ucapannya tadi. Yang sebenarnya dia sadar jika dia salah mengatakan akan hal itu. Namun, egonya masihlah berkuasa. Dia merasa apa yang dikatakannya ada benarnya. Kemungkinan-kemungkinan apa yang dia ucapkan bisa saja terjadi.


"Bry, semua tidak seperti yang kamu tuduhkan." Regan yang melihat adik iparnya salah sangka, berusaha untuk menjelaskan. Dia merasa masalah ini hanyalah kesalahpahaman, dan dia harus meluruskan.

__ADS_1


Namun, sepertinya Bryan tidak ingin mendengar ucapan Regan. Dengan isyarat tangan, dia meminta kakak iparnya itu berhenti bicara.


Regan terkesiap melihat sikap Bryan. Dia tidak menyangka adik iparnya seperti itu, tidak mau mendengarkan dirinya sama sekali.


"Ayo pulang!" ajak Bryan pada Shea. Dia lebih ingin menyelesaikan masalahnya di rumah saja.


Mendengar suara Bryan yang mengajaknya untuk pulang, hanya bisa membuat Shea tersenyum mencibir. Dia tidak menyangka jika ternyata Bryan masih tetap egois.


Shea masih berharap jika Bryan menyesali ucapannya yang mengatakan jika kakaknya akan meninggal, tetapi sayangnya, itu semua tidak terjadi, karena Bryan tampak tidak meminta maaf sama sekali.


Shea berdiri seraya menghapus air matanya. Tatapannya tajam saat kedua bola matanya menatap Bryan. Kilatan kemarahan bercampur kekecewaan terlihat jelas dari tatapannya. Melewati Bryan begitu saja, Shea keluar dari kamar Selly, dan menuju ke kamar di mana baby Al dan El tidur.


Dengan perlahan, dia mengangkat baby El dalam pelukannya. Dia melakukannya dengan hati-hati agar tidak membangunkan baby Al.


Keluar dari kamarnya, dia melihat Bryan yang sudah menunggunya. Tanpa berkata apa-apa dia berlalu keluar dari rumah Regan.


Bryan berada di belakang Shea. Mengikuti istrinya yang keluar dari rumah. Dia menuju ke mobil dan membukakan pintu mobil agar Shea dapat masuk.


Memastikan Shea sudah di dalam, dia menuju kursi kemudi. Masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobilnya.


Menyadari istrinya sedang menghindar, Bryan sadar jika istrinya benar-benar sedang marah. Dia memilih masuk ke dalam kamarnya. Duduk di sofa kamarnya, dia mengusap wajahnya.


Aku hanya takut, Se. Takut kamu akan meninggalkan aku dan memilih Kak Regan. Apalagi Al begitu dekat denganmu, dan kamu juga begitu menyayanginya.


Bryan masih terus diliputi rasa takutnya. Dia belum bisa menerima kedekatan antara kakak iparnya dan istrinya.


Di dalam kamar tamu, Shea mencoba menenangkan dirinya. Menempatkan diri di posisi suaminya. Agar dia tidak merasa egois melimpahkan kesalahan pada suaminya.


Aku tahu kamu takut, tetapi dengan menuduhku seperti itu berarti kamu meragukan cintaku.


Shea tidak menyangka jika Bryan bisa menuduhkanya seperti itu. Padahal dia sudah menjelaskan jika dia begitu mencintai suaminya itu. Namun, sepertinya, suaminya itu tidak percaya dengan ucapannya.

__ADS_1


***


Selepas Bryan dan Shea pergi Regan mendekati Selly. Duduk di kursi yang berada tepat di samping istrinya, dia menggenggam tangan istrinya.


"Apa kamu tidak mau bangun, Sayang?" Suaranya terdengar berat, karena menahan sesak di dadanya. Jujur saja, dia adalah orang yang paling terluka saat adik iparnya mengatakan akan kematian istrinya. Akan tetapi, dia menyadari jika Bryan sedang dalam kemarahannya.


Sayang ….


Selly mengerti perasaan suaminya. Mengenalnya cukup lama memang membuatnya sadar jika suaminya sekarang sedang terluka.


"Apa kamu tega membiarkan rumah tangga adikmu berantakan hanya karena kamu yang tak kunjung bangun, Sayang?" Ingin rasanya Regan melihat istrinya bangun, agar semua masalah ini terselesaikan.


Aku tahu, Sayang, tetapi semua terasa sangat berat.


Mata, tangan dan kakinya sulit sekali untuk Selly gerakkan. Padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga.


"Shea sudah banyak membantu kita. Menjaga Al dengan penuh kasih sayang. Merawatnya seperti anak sendiri. Apa kamu tega melihatnya menangis?"


Sebenarnya Regan tidak tega melihat Shea yang tadi menangis, tetapi dia tidak mau memperkeruh keadaan yang dapat membuat Bryan semakin berpikir dirinya dan Shea ada hubungan.


Selly hanya bisa menangis dalam hatinya, karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun merasakan tidak tega pada adik-adiknya. Karena dirinya semua orang harus bermasalah.


Aku akan berusaha bangun.


Dia menguatkan dirinya. Memberikan semangat dia akan bangun untuk keluarganya.


.


.


.

__ADS_1


.


...Jangan lupa like dan vote ...


__ADS_2