
Bryan, Regan dan Felix menunggu para wanita di ruang keluarga. Bryan dan Regan minum air dingin yang dimintanya pada asisten rumah tangga. Mengajak main Al dan El cukup menguras tenaga.
"Apa Shea dan Kak Selly memintamu untuk membeli coat?" tanya Bryan. Bryan baru tahu tadi pagi saat Felix menghubungi untuk mengatakan jika pasti nanti Chika akan bertanya pada Shea. Jadi temannya itu meminta istrinya bersiap jika Chika bertanya.
"Iya, istri-istri CEO benar-benar licik," jawab Felix tersenyum. Kalimatnya sebenarnya tidak sungguh-sungguh karena diiringi dengan senyuman.
"Pasti ide Selly," timpal Regan.
"Siapa lagi jika bukan istri Kakak itu. Istriku mana ada kepikiran sampai sejauh itu." Bryan menjawab dengan nada menyindir pada Regan.
"Istriku itu juga kakakmu dan darahnya sama denganmu, artinya kamu juga sama dengannya." Telak Regan menjawab ucapan Bryan dan membuat Felix tergelak.
Bryan mendengus kesal mendengar ucapan Regan, tetapi sesat kemudian dia tertawa. Jika dia menjelekan kakaknya berarti sama juga menjelekan dirinya sendiri.
"Biar nanti aku ganti uang coat Shea," ucap Bryan.Dia tidak tega jika asistennya itu membelikan coat untuk istrinya.
"Punya Selly juga akan aku ganti," timpal Regan. Dia tak mau ulah istrinya membuat orang lain terbebani. Padahal istrinya sebenarnya bisa saja beli sendiri.
"Ya Tuhan, ternyata kalian masih lebih baik dari pad istri kalian. Semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Tuhan."
"Kamu pikir kami sudah meninggal," ucap Bryan seraya melempar bantal sofa pada Felix.
__ADS_1
Felix mengelak bantal yang dilempar Bryan. Tawanya terdengar sangat puas menggoda atasannya itu.
Bryan hanya bisa tersenyum. Tak perlu istrinya tahu masalah ini. Yang terpenting dia senang sudah membantu temannya.
Setelah para wanita keluar dari kamar, mereka melanjutkan makan siang. Sambil sesekali bercerita mengisi keheningan di meja makan.
Bryan dan Shea memilih memilih pulang setelah selesai makan siang. Mereka ingin beristirahat sebelum nanti melakukan perjalanan.
Bryan, Shea dan El berada di tempat tidur. Namun, tiba-tiba dia meminta Shea minyak pijat bayi. Dia ingin memijat kaki anaknya yang tadi main bola. Takut anaknya lelah dan rewel nanti di pesawat.
Shea berdiri untuk mengambil minyak dan kembali lagi sesaat kemudian. Memberikan minyak pijat pada Bryan dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur tepat di samping El.
Bayi kecil itu asik bergumam saat daddy-nya memijit. Selain Shea yang selalu belajar menjadi ibu yang baik, Bryan pun tak kalah juga. Dia ingin selalu bisa menjaga anaknya dan mendampingi tumbuh kembang sang anak.
Bryan yang sibuk memijat kaki El menoleh pada Shea. "Simpan tenagamu untuk di sana saja," ucapnya tersenyum penuh arti.
Kalimat Bryan mengandung arti lain dan Shea tahu itu. Padahal niatnya benar-benar memijit tanpa ada tambahan plus-plus. Namun, tetap saja Shea tersenyum manis pada suaminya itu.
El yang merasa nyaman dipijat terus saja bergumam dan membuat kedua orang tuanya gemas. Kecupan mendarat di pipi gembul El yang begitu kenyal.
"Dulu aku juga suka sekali dipijat," ucap Bryan bercerita. Bryan mengingat waktu kecil saat selesai main bola dia suka meminta mamanya memijat.
__ADS_1
"Sepertinya sekarang menurun pada El." Shea yang melihat anaknya menikmati hanya bisa menggeleng.
"Tidak apa jika untuk yang satu ini menurun, tetapi jangan yang lain." Sebagai orang tua, sekarang Bryan takut hal buruk akan menurun pada El.
"Kita akan pastikan El baik-baik saja." Shea memegangi tangan Bryan yang sedang memijat El. Meyakinkan suaminya jika kelak El akan jauh lebih baik dari Bryan.
"Aku bisa bayangkan seberapa kecewanya mama papa saat aku berlaku buruk."
"Tenanglah, mama dan papa sudah menerima perubahan yang selama ini kamu lakukan. Apalagi kamu bisa menyelesaikan proyek ini dengan baik." Shea tahu sebesar apa usaha Bryan menyelesaikan proyek bersama Regan. Apalagi sempat ada korupsi yang dilakukan oleh Kevin.
Bryan tersenyum. Ini adalah proyek yang bisa Bryan banggakan. Dari proyek ini juga awal mula papanya menerimanya. Memaafkan dan meminta maaf padanya.
"Terima kasih selalu ada bersamaku."
"Aku akan selalu bersamamu, memangnya aku mau ke mana lagi," ucap Shea tersenyum. Walaupun sebenarnya ada sedikit luka di hatinya. Dia memang tidak punya tempat selain Bryan. Untung keluarga Bryan begitu baik, hingga tak ada waktu untuk dirinya bersedih mengingat kesendiriannya.
"Aku akan selalu menjadi rumahmu. Aku akan menguncimu dan tak akan melepaskanmu." Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea dan beralih pada El.
Ela yang bosan dicium menendang tubuh daddy-nya, hal itu membuat kedua orang tuanya tertawa dan semakin gemas.
.
__ADS_1
.
.