
Aku masih hidup. Aku mohon jangan lepaskan semua ini alat ini.
Selly hanya bisa menjerit dalam hatinya saat mendengar ucapan dokter pada Regan. Namun, suaranya tidak keluar sama sekali. Dia berusaha keras untuk bergerak, tetapi tubuhnya seolah kaku. Sekuat tenaga dia lakukan untuk menggerakkan tubuhnya.
"Aku tidak akan melepas alat-alat itu!" ucap Regan dengan tegas. Regan benar-benar tidak rela jika dia harus kehilangan istrinya. Jika pun Selly hidup karena alat-alat yang terpasang, dia akan melakukannya.
Sayang ….
Selly tidak menyangka jika suaminya akan mempertahankan alat yang terpasang di tubuhnya, walaupun dokter sudah mengatakan jika bisa saja dia sudah mati.
Ternyata kamu benar-benar mencintaiku.
Ingin rasanya Selly bangun dan memeluk suaminya. Meluapkan rasa bahagianya memiliki suami seperti Regan.
"Kak … " panggil Bryan. Dia tahu kakak iparnya begitu mencintai istrinya, dan pasti akan berat melepas kepergian istrinya.
"Kalian bilang istriku hidup karena alat itu bukan? Jadi aku tidak akan melepas alat itu. Sampai benar-benar tidak ada harapan lagi."
Selly hanya bisa menangis mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Regan. Dia berusaha terus untuk menggerakkan tubuhnya, agar orang-orang menyadari jika dirinya masih hidup.
Dokter yang masih berada di samping Selly, merasa aneh saat melihat jari jemari Selly sedikit bergerak. Dia terdiam memastikan jika yang dilihatnya tidaklah salah.
Selly terus saja berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun, yang bergerak hanya jari jemarinya saja. Dia terus berusaha sekuat tenaganya untuk memberi respon jika dirinya masih hidup.
Dokter yang melihat gerakan jari dari Selly pun langsung menghampiri dokter yang sedang berbicara dengan Regan. "Dok, ada pergerakan dari tangan pasien."
Para dokter pun terkejut. Mereka langsung berbalik untuk mengecek keadaan Selly sesuai informasi yang diberikan oleh salah satu dokter.
Regan yang mendengar juga terkejut mendengar ucapan dokter. Dia tidak menyangka keajaiban datang secepat itu. Bryan yang berada di samping Daniel pun merasa sama terkejutnya. Padahal dokter baru saja mengatakan tentang tidak adanya harapan. Namun, kakaknya memberi respon seolah yang dikatakan dokter salah.
Regan, Bryan, dan Daniel akhirnya ikut menghampiri Selly, mereka ingin melihat keadaan Selly. Regan duduk di samping Selly, dia berusaha berbicara dengan istrinya. "Sayang … bangun! Gerakkan tubuhmu, agar mereka semua tahu jika kamu masih hidup." Regan terus saja berusaha memohon pada Selly.
Sayang … tubuhku begitu sulit untuk digerakkan.
Selly benar-benar bingung kenapa tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama. Dia ingin mengatakan pada suaminya jika dia masih hidup. Sekuat tenaga Selly berusaha, tetapi yang bisa dia gerakan hanyalah jari-jarinya saja.
Mata Regan membulat sempurna saat melihat jari jemari Selly bergerak. "Dok, istri saya bergerak!"
"Kak, biarkan dokter mengecek dahulu!" Erik pun meminta Regan untuk mundur agar dokter bisa memeriksa Selly.
__ADS_1
Regan pun menuruti ucapan Erik untuk mundur dan memberikan ruang untuk dokter memeriksa Selly.
Dokter mulai kembali mengecek keadaan Selly, dan mendapati keadaan ada perubahan detak jantungnya. Dokter merasa tidak percaya ternyata ada respon yang sangat bagus dari Selly.
Regan bersama Bryan dan Daniel berada di sudut kamar menunggu dokter memeriksa kembali. Regan benar-benar berharap jika istrinya akan sadar. Dia belum siap jika harus berpisah dengan Selly.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Regan.
"Dari yang kami lihat ada perubahan detak jantungnya dan dari respon yang diberiakna itu artinya pasien masih ada harapan hidup," jelas dokter.
Seperti mendapatkan angin segar, dada Regan yang tadi sesak kembali ringan, seolah napas yang masuk ke dalam paru-parunya berjalan dengan lancar.
"Namun, kami tidak bisa pastikan kapan pasien akan bisa sadar."
"Tidak masalah, seberapa banyak waktu yang dibutuhkan, aku tida tidak perduli. Aku akan menunggu sampai dia benar-benar sadar."
"Baiklah, kami akan pantau setiap hari keadaan pasien untuk mengetahui perkembangannya."
Regan mengangguk. Dia merasakan jika dia benar-benar sudah cukup puas ada respon dari Selly. Dengan adanya respon Selly, dia masih punya harapan istrinya bisa selamat.
"Saya, harap ajak komunikasi terus ibu Selly, karena sepertinya dia mulai merespon."
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, dokter berpamitan dan akan kembali lagi besok, untuk mengecek. Akan ada satu dokter dan satu perawat yang akan tinggal di rumah Regan yang akan terus memantau keadaan Selly.
Dokter yang selesai melakukan pemeriksaan pun berpamitan dan di antar oleh Erik keluar dari kamar Selly.
Regan kembali menghampiri Selly, ditemani Daniel dan Bryan. Regan duduk di samping Selly.
"Terima kasih kamu sudah mau kembali." Air mata Regan yang dari tadi belum kering pun terus mengalir. Namun, kali ini air mata yang keluar adalah air mata bahagia. "Aku mencintaimu," ucap Regan mencium telapak tangan Selly
Aku juga mencintaimu. Terima kasih sudah menjagaku dan menunggu aku dan percaya jika aku masih hidup. Aku begitu mencintaimu Re ….
Selly hanya bisa mengatakan perasaannya dalam hatinya. Karena dia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali.
"Selly akan sadar bukan?" Suara Daniel tampak bergetar. Dia merasa senang tetapi juga merasa takut.
"Selly akan sadar, Pa, percayalah." Regan mencoba menguatkan papa mertuanya. Di tengah-tengah kesedihannya yang melihat istrinya masih koma, dia berusaha menguatkan hati orang-orang di sekitarnya.
Pa … Selly sudah sadar, Pa.
__ADS_1
Mendengar suara papanya, Selly ingin menjawab pertanyaan papanya, jika dia sudah sadar, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.
"Ya dibilang kak Regan benar, Pa. Kak Selly akan sadar." Bryan juga ikut menenangkan papanya.
Daniel mengangguk. Dia merasa sangat lega. Dia berharap anaknya akan segera bangun dari tidur panjangnya.
"Ayo, kita keluar, Pa, biarkan kak Regan bersama kak Selly." Bryan ingin memberikan ruang pada Regan dan Selly.
Daniel dan Bryan keluar dari kamar Selly dan menemui keluarga yang lain. Saat Daniel dan Bryan keluar Shea langsung mencecar dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Bagaimana keadaan kak Selly? Kenapa tadi suara kak Regan berteriak? Apa sebenarnya terjadi?"
"Bry, apa yang terjadi dengan kakakmu?" Melisa pun ikut bertanya. Dari luar tadi dia mendengar suara Regan dan dia begitu penasaran.
"Ayo duduk dulu!" ajak Bryan. Dia tahu jika semua orang begitu panik dan ingin tahu, tetapi dia berusaha untuk menenangkan semuanya.
Shea, Melisa dan Lana menuruti perintah Bryan untuk duduk. Mereka ingin mendengar cerita Bryan.
"Tadi dokter sempat mengatakan jika kak Selly tidak ada harapan." Bryan mulai menjelaskan.
Shea, Melisa dan Lana begitu terkejut. Mereka tidak tahu ternyata itu yang terjadi di dalam kamar Selly tadi.
"Bry, apa yang kamu katakan?" Melisa merasa tidak terima anaknya di katakan mati.
"Ma, dengarkan dulu," pinta Bryan, "awalnya begitu, tetapi tiba-tiba kak Selly menunjukan responnya dengan menggerakkan jari-jarinya." Bryan melanjutkan ceritanya.
Tiga wanita itu bernapas lega saat ternyata Selly masih punya harapan hidup dan memberikan respon dari gerakannya.
.
.
.
.
...Aku tahu pasti kalian kesel dan bilang kenapa ga langsung sadar, tapi emang ini proses....
...Ini udah sesuai yang aku buat dari awal. Jadi jangan minta buru2. ...
...mungkin kalian kesal kenapa ga sadar2. Aku cuma mau bilang sabar....
__ADS_1
...Jangan lupa like dan vote...