My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Saling Membantu


__ADS_3

Pagi ini Bryan bagun dengan mata yang lesu. Semalam, Shea sendiri yang memintanya untuk tidur di kamar tamu, jadi mau tidak mau Bryan menurutinya. Namun, alhasil semalaman dia tidak bisa tidur karena tidak bisa memeluk istrinya itu.


Walaupun Shea marah, tetapi dia masih tetap menjalankan kewajibannya seperti menyiapkan baju untuk suaminya.


Bryan yang selesai bersiap menuju ke ruang makan. Di meja makan sudah terlihat Shea dan El yang sudah menunggu di meja makan. Satu kecupan mendarat di pipi gembul El yang sedang berada di stroller.


Beralih pada pada Shea, Bryan mendaratkan kecupan di pipi Shea. Namun, belum sampai bibirnya sampai di pipi Shea, istrinya itu menghindar.


Bryan hanya menghela napasnya yang terasa sesak saat melihat istrinya menghindar. Sejak kemarin mengatakan kekecewaannya, Shea hanya mengatakan satu kata yaitu 'aku mau tidur bersama El saja'. Kalimat itu diartikan Bryan jika dirinya diusir dari kamarnya.


Karena tidak mau berdebat akhirnya Bryan memilih mengalah. Menarik kursi, dia duduk tepat di depan Shea. Dia menikmati sarapan dengan keheningan.


"Kamu tidak akan kemana-keman, kan?" Suara Bryan terdengar setelah keheningan yang menemani sarapan mereka.


"Kalau aku punya orang tua, aku akan pulang ke rumah orang tuaku," jawab Shea ketus.


Bryan langsung menatap Shea. Entah kenapa kalimat itu begitu menyakitkan bagi Bryan. Harusnya dia bisa menjaga dan melindungi istrinya itu saat orang tuanya tidak ada. Namun, apa yang dilakukannya tidak mencerminkan sosok pelindung sama sekali.


"Aku minta maaf, Sayang," ucap Bryan dengan penuh pengharapan.


Shea hanya menatap sejenak pada Bryan dan beralih pada El agar tidak terbujuk rayu dengan wajah memelas Bryan. Dia sudah berniat akan memberikan pelajaran pada Bryan, memberikan efek jera pada suaminya itu.


Bryan benar-benar frustrasi karena ternyata Shea sebegitu marahnya padanya, dan kali ini dia tidak tahu bagaimana membujuk istrinya itu.


Selesai sarapan Bryan berangkat ke kantor. Shea tetap mengantar sampai ke depan, tetapi tanpa suara apapun yang keluar. Bryan yang sudah mendapatkan penolakan saat akan mengecup Shea, akhirnya hanya mengecup El yang berada di dalam gendongan Shea.


Bayi kecil itu tersenyum saat daddy-nya menciumnya. Wajah bahagianya begitu terlihat di wajahnya saat melepas daddy-nya berangkat bekerja.


Bryan masuk ke dalam mobil dan melakukannya menuju kantor. Membelah kemacetan ibu kota yang sudah menjadi hal wajar.


Sesampainya di kantor Bryan masuk ke dalam ruangannya. Hari ini dia benar-benar tidak bersemangat dalam berkerja. Pikirannya tertuju pada Shea yang masih begitu marah padanya.


Suara ketukan pintu terdengar saat Bryan sedang menyandarkan kepalanya di kursinya. "Masuk!" serunya.


Pintu terbuka dan tampak Felix di sana. Kali ini asistennya itu datang tanpa membawa dokumen apapun. Wajahnya juga sama kusutnya dengan Bryan karena kemarin dia mendapati kenyataan jika Erix juga sedang mendekati Chika.


"Ada apa?" tanya Bryan.


"Tidak, aku sedang tidak bersemangat bekerja."


Dahi Bryan berkerut dalam saat mendengar keluhan Felix. Dari wajah asisten sekaligus temannya itu terlihat jika dia sedang wajahnya sama galaunya dengannya. "Kenapa kamu?" tanyanya

__ADS_1


"Ternyata Erix juga sedang mendekati Chika," ucap Felix frustrasi.


"Erix … sepupu Kak Regan?" tanya Bryan memastikan.


"Iya, memangnya ada berapa Erix yang kamu kenal?" Felix memutar bola matanya malas.


"Dari mana kamu tahu?"


"Kemarin aku mengejarnya dan memintanya untuk mengantarkan aku. Setelah itu dia membawa mobilku. Sorenya aku mengantarkannya pulang setelah dia mengantarkan mobilku …."


"Bisakah dipersingkat?" Bryan malas sekali mendengar penjelasan Felix.


Felix mendengus kesal saat mendengar Bryan memotong penjelasannya. "Jadi aku melihatnya di rumah Chika saat aku mengantarnya."


Bryan hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Felix. Tanggapannya datar saja, dan itu membuat Felix kesal. "Bisakah kamu memberikan kata-kata yang memberiku semangat?" tanyanya.


"Memangnya kamu mengharapkan aku memberikan dukungan seperti apa?" tanya Bryan polos.


Felix mendesah frustrasi mendengar jawaban Bryan.


"Aku tidak bisa mengatakan apapun di saat aku sendiri saja sedang ada masalah," ucap Bryan.


"Shea masih marah?" tanya Felix memastikan.


Felix tersenyum mendengar hukuman yang diberikan Shea pada Bryan.


Melihat wajah Felix yang dihiasi senyuman, Bryan langsung meremas kertas dan melemparnya pada Felix. "Jangan menertawakan aku!" ancamnya, "kalau bukan karena dirimu juga, aku tidak akan dapat masalah."


"Lalu bagaimana rencanamu membujuk Shea?" Felix menyadari jika dirinya juga bersalah dalam hal ini.


Bryan menghela napasnya karena tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi Shea tampak benar-benar marah padanya.


Melihat temannya Felix memikirkan bagaimana membujuk Shea. "Bagaimana jika kita saling membantu?" ucap Felix.


"Maksudmu?" tanya Bryan bingung.


"Aku akan membantumu minta maaf, tetapi kamu membantuku untuk meminta Shea mendekatkan aku dengan Chika." Felix memberikan ide pada Bryan.


Bryan menimbang-nimbang ide Felix. "Baiklah, aku setuju." Akhirnya dia menyetujui ide Felix. Untuk Chika, Bryan berpikir pasti Shea punya cara untuk membuat temannya mau menerima Felix.


"Deal," ucap Felix mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Deal." Bryan menerima uluran tangan Felix.


***


Shea yang di rumah akhirnya memilih ke rumah kakak iparnya. Saat sampai di rumah Selly, ternyata hanya Selly sendiri di rumah dengan asisten rumah tangga, babysitter, dan perawat.


"Mama tidak kemari, Kak?" tanya Shea.


"Mama sedang tidak enak badan, jadi tidak kemari."


"Kenapa tidak memberitahu aku, jadi aku bisa kemari lebih awal."


Selly tersenyum. "Masih banyak orang disini kenapa harus memintamu datang awal," jawab Selly, "aku juga sudah lebih baik."


"Iya, tetapi sebaiknya kabari aku." Shea melipat bibirnya saat mendengar ucap Selly.


Sudah-sudah, berikan El padaku, aku merindukannya." Selly yang duduk di kursi roda meminta El untuk dibawa ke dalam pangkuannya.


Shea memberikan El pada Selly. Dia beralih melihat Al yang tertidur pulas. "Sudah lama dia tidur?" tanyanya.


"Sudah dari tadi," jawab Selly. Dia menatap El. "Kemana saja, mommy kangen," ucapnya menggoda El.


Bayi kecil itu pun tertawa. Tangan kecilnya meraih wajah Selly, dan tertawa terkekeh saat tangan kecilnya akan di terkam Selly.


Suara El pun membuat saudaranya terbangun. Al langsung menangis dan akhirnya membuat Shea mengangkatnya dan menggendongnya. "Kenapa menangis?" tanya Shea mendaratkan kecupan.


Dua mommy itu pun sedang bertukar anak dan saling mencurahkan kasih sayangnya melalui kecupan-kecupan.


Selly yang capek akhirnya memberikan El pada Shea untuk di letakan di atas playmat bersama dengan Al yang sudah lebih dulu tiduran di atas playmat.


"Bagaimana Bryan?" tanya Selly yang ingin tahu keadaan adiknya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


...Jangan lupa like dan vote....


__ADS_2