
Melihat nama Regan di layar ponsel Bryan, Shea langsung mengusapnya. Dia menempelkan ponsel di telinganya. "Halo, Kak," sapanya.
"Halo, kamu Se yang angkat?" tanya Regan yang mendengar suara Shea dari sambungan telepon.
"Iya, Bryan sedang mandi," jawab Shea, "apa Kak Regan ada perlu dengan Bryan?" tanyanya kembali.
"Tidak, aku hanya ingin tahu kabar Al saja."
"Oh … aku pikir kenapa," jawab Shea, "Al sedang tidur, Kak." Shea melanjutkan menjelaskan keadaan anak Regan.
"Dia sudah tidur ya. Padahal aku begitu merindukannya." Baru sehari Regan ditinggal oleh anaknya, tetapi dia sudah sangat merindukan anaknya itu.
Shea memahami perasaan Regan yang merindukan anaknya. Dia mengingat kembali ketika dia sering pergi dengan Bryan untuk menghabiskan waktu berdua dan dia juga merasakan kerinduan yang luar biasa juga.
"Apa mau aku hubungi lagi nanti saat Al terbangun?" Shea pun menawarkan pada Regan.
"Apa kamu tidak keberatan?" Regan merasa senang saat mendengar tawaran dari Shea.
"Iya, aku tidak masalah, tetapi Kak Regan tahu bukan, jika anak-anak sering terbangun di tengah malam." Shea sudah bisa menebak jam bangun anak-anaknya, jadi dia bertanya terlebih dahulu, karena takut akan menganggu Regan.
"Tentu tidak. Kamu bisa menghubungi aku kapan saja."
Shea tersenyum mendengar jawaban Regan. Bersamaan itu juga, Bryan keluar dari kamar mandi. Dengan handuk di pinggang, dia mengekspose dada bak roti robek miliknya.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Kak Regan nanti."
Mendengar nama Regan disebut, Bryan tahu jika istrinya sedang berbincang dengan kakak iparnya. Dengan mengusap rambut basahnya dia menatap terus pada istrinya.
"Terima kasih, Se," jawab Regan, "aku akan matikan telepon dan menunggu kamu menghubungi aku kembali."
"Baik, Kak." Shea langsung mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponsel di atas nakas.
"Siapa?" tanya Bryan memastikan seraya menggosok-gosokan rambutnya yang basah. Sebenarnya dia sudah mendengar, tetapi dia ingin mendengar dari bibir Shea.
"Kak Regan." Shea berdiri dan menghampiri suaminya.
"Ada apa dia menghubungi?" Walaupun dia tahu jika kakak iparnya itu menghubungi melalui ponselnya, tetapi melihat istrinya yang senyum-senyum saat bertukar suara membuatnya merasa kesal.
Tatapan mata yang begitu tajam menjelaskan ketidaksukaan dan Shea tahu akan hal itu. Sampai detik ini, dia tidak mengerti kenapa suaminya itu begitu cemburu dengan Regan.
__ADS_1
Namun, Shea tidak akan membiarkan kecemburuan suaminya itu bersemayam di hatinya terus. "Dia menanyakan Al, dan merindukan Al." Tangan Shea membelai wajah Bryan yang masih begitu basah.
Aku harap dia merindukan Al, bukan merindukan kamu!
Bryan mensyukuri karena kakak iparnya itu merindukan anaknya buka istrinya. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika sampai kakak iparnya itu merindukan istrinya.
"Kamu kebiasaan sekali, setiap mandi selalu tidak mengeringkan dengan benar." Shea meraih handuk kecil yang dipegang oleh Bryan. Tangannya pun langsung mengusap tubuh Bryan dan mengeringkan tubuh basah itu.
"Kata orang tetesan-tetesan air di tubuh itu sangat menggoda."
"Oh … ya?" tanya Shea seraya mendekatkan bibirnya di depan dada bidang Bryan. Dia mendaratkan kecupan manis di dada polos yang begitu menggoda.
Tubuh Shea yang lebih pendek dari Bryan membuat dia menunduk untuk menjangkau wajah istrinya. Mendapati istrinya sedang mengecupi tubuhnya, dia mendesah frustrasi.
"Jangan membangunkan macan tidur!" Suara Bryan sudah tampak berat saat merasakan sapuan hangat dari bibir Shea.
"Apa menyeramkan jika macan bangun?" Tangan Shea yang sedang mengusap tubuh Bryan, sampai di pinggang suaminya. Jari jemarinya memasuki celah handuk yang melekat di pinggang suaminya.
Mendapati sentuhan jemari lembut yang menerobos masuk ke dalam handuk, Bryan benar-benar merasakan gejolak di dalam tubuhnya. "Kamu memang benar-benar menggoda aku!" Dia mendaratkan bibirnya di leher Shea karena merasakan kesal.
Seketika tawa Shea terdengar saat merasakan geli dari kecupan Bryan. Apalagi tubuhnya sudah dikunci pergerakannya oleh Bryan dengan pelukan dari suaminya itu. "Ampun!" elak Shea.
"Biarkan." Bryan terus saja menghujani leher Shea dengan kecupan.
Tawa dan jeritan Shea yang mengelak pun membuat tidur nyenyak dua bayi terganggu dan membuat mereka menangis secara bersama-sama.
"Sayang, mereka menangis." Shea berusaha melepas pelukan dan kecupan dari Bryan.
Tidak adalagi yang bisa Bryan lakukan saat anak-anaknya bangun. Dia pun melepas tubuh Shea dan membiarkan istrinya itu.
Lepas dari pelukan suaminya, Shea buru-buru menghampiri baby Al dan El. Dia pun berusaha menenangkan anaknya dengan menepuk paha merek lembut.
Saat sedang sibuk menenangkan anaknya, mata Shea beralih kembali pada Bryan. "Kenapa belum memakai handuknya?" tanyanya saat melihat tubuh polos Bryan.
"Biarkan saja!" jawab Bryan mengabaikan ucapan Shea.
"Sayang, nanti anak-anak lihat!" Shea
"Biarkan saja, kalau mereka melihat!"
__ADS_1
"Pakai atau … " ucap Shea mengancam. Namun, dia menghentikan ucapannya karena bingung harus mengancam apa.
"Atau apa?" tanya Bryan seraya menaikan dagunya.
Sejenak Shea memikirkan apa yang akan membuat suaminya itu mendengarkan ucapannya. "Atau aku tidak akan memberimu jatah!"
Mendengar ancaman Shea, tangan Bryan langsung buru-buru meraih handuk yang tergeletak di lantai. Dia menutupi tubuh polosnya dengan handuk sesuai dengan permintaan Shea.
Shea merasa lega, suaminya mendengar ucapannya, walaupun harus dengan ancaman terlebih dahulu.
Untung anak-anak tidak melihat tubuhnya. Jika mereka melihat. Pasti mata suci mereka ternoda.
Dalam hatinya, dia bersyukur. Namun, seketika dia tertawa dalam hatinya saat mengingat ucapannya sendiri, karena berarti matanya sudahlah tidak suci.
Bryan yang melilitkan kembali handuknya, berlalu mencari baju. Memakai bajunya, matanya melirik ke arah Shea. Dia kesal saat mengingat ancaman dari istrinya itu, karena dirinya tidak bisa berkutik sama sekali.
Dia selalu tahu, jika aku tidak akan bisa tidak mendapatkan akan hal itu.
"Ternyata kalian tetap bangun juga." Suara Shea terdengar. Dia yang berusaha menepuk lembut tubuh anaknya tidak membuat mereka berdua tidur kembali.
"Biarkan saja mereka bangun, ini masih jam sepuluh," ucap Bryan seraya menghampiri Shea di tempat tidur.
Shea pun mengangguk. Dia membenarkan jika memang lebih baik mereka sekarang bangun. Jadi nanti saat malam, mereka akan tidur hingga pagi. "Baiklah mommy akan biarkan kalian bangun," ucap Shea mendaratkan kecupan pada baby Al dan El bergantian.
"Aku?" ucap Bryan yang merebahkan tubuhnya di samping baby Al dan El. Meminta kecupan seperti yang diberikan Shea pada dua anaknya.
Shea tersenyum melihat satu bayi yang belum mendapatkan kecupan itu. Dia pun mendaratkan satu kecupan pada Bryan agar bayi besar itu tidak iri.
"Terima kasih," ucap Bryan senang.
Setelah memberikan kecupan, Shea beralih kembali pada dua bayi kecilnya. "Kak Regan," ucap Shea saat mengingat suami kakak iparnya itu.
.
.
.
.
__ADS_1