My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Rencana Reuni


__ADS_3

Bryan menghubungi Shea untuk pulang saja, karena dirinya akan turun di rumahnya karena baby El tertidur.


Shea pun menuruti keinginan Bryan. Dia pulang ke rumahnya dan menunggu suami dan anaknya di rumah.


Mobil Regan berhenti di depan rumah, membuat Shea menghampirinya. Shea melihat Bryan keluar dari mobil, dan membuka pintu. Melihat pintu mobil dibuka, Shea mengangkat anaknya perlahan-lahan.


"Aku titip carseat," ucap Bryan sebelum kembali menutup pintu mobil. Dia menurunkan intonasi suaranya agar tidak membangunkan keponakannya.


Regan mengangguk, dan melajukan mobilnya kembali menuju ke rumahnya.


Shea yang mengendong anaknya, membawanya ke dalam kamar bayi. Dia meletakkan tubuh mungil itu di dalam box bayi. "Dia tidur setelah dipijat tadi?" tanya Shea memastikan.


"Iya, anakmu benar-benar pulas tidurnya." jawab Bryan dengan menggelengkan kepalanya melihat aksi anaknya.


"Anakku?" tanya Shea melihat ke arah Bryan.


Bryan tertawa. "Anak kita maksudnya." Dia membenarkan ucapannya yang salah. Senyum lebar dengan deretan giginya pun menghiasi wajahnya.


Shea tersenyum. "Sudah, kita tinggalkan dia untuk melanjutkan tidurnya," ucap Shea. Dia melangkah ke kamarnya melewati pintu penghubung.


"Kenapa kamu tidak membangunkan aku tadi?" tanya Shea sesampainya di dalam kamar.


Bryan yang mengikuti Shea ke kamar, menutup pintunya. "Kamu begitu lelah, jadi aku tidak tega membangunkan kamu." Dia menghampiri Shea dan merengkuh pinggangnya.


"Kamu yang buat aku begitu lelah," ucap Shea mencebikan bibirnya.


"Aku tidak bisa menahan godaan." Bryan menatap Shea penuh damba. Dia memang tidak bisa melepas istrinya itu barang sebentar. Mendekatkan kepalanya, Bryan menuju ke bibir Shea.


Namun, belum sempat dia mencium bibir Shea yang sudah menjadi candu itu, dia harus menghentikannya, karena suara anaknya menangis.


"El menangis." Shea langsung mendorong Bryan dan berlari menuju ke tempat anaknya.


"Itulah alasanku benar-benar membuatmu lelah," gumam Bryan. Dia menyadari jika ada anaknya dia akan sangat sulit untuk melakukan dengan Shea. Jadi saat kesempatan emas datang, dia tidak akan menyianyiakan kesempatan.


Bryan melangkah ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya dia atas tempat tidur. Sebenarnya dia pun juga lelah. Namun, demi anaknya, dia tadi pagi bangun. Dia tidak mau anaknya terabaikan, apa lagi istrinya sedang begitu kelelahan.


Shea yang kembali ke kamar membawa anaknya dalam gendongan. Dia melihat Bryan yang tidur tengkurap dia atas tempat tidur.


"Lihat Daddy tidur," ucap Shea. Dia pun menurunkan tubuh anaknya di atas tubuh Bryan.


Merasakan tubuh anaknya di atas punggungnya, Brayan menggoyangkan sedikit tubuhnya, dan itu membuat El tertawa.


"Daddy, ayo di bawah," ajak Shea menirukan suara anak-anak. Dia mengangkat tubuh anaknya agar Bryan bisa bangkit dan mengikuti keinginannya.


Bryan menghela napasnya. Tadinya dia berniat untuk tidur sebentar, tetapi sepertinya itu hanya tinggal angan. "Ayo." Bryan bangkit dari tempat tidur. Dia pun menungging agar anaknya bisa naik di atas punggungnya.


Melihat posisi Bryan sudah siap, Shea kembali meletakan tubuh anaknya. Dia memegangi tubuh El agar terjaga dan tidak jatuh.


Bryan mulai merangkak dengan perlahan. El yang merasakan gerakan daddy-nya tertawa terbahak. Dia begitu senang saat tubuh Bryan bergerak.

__ADS_1


"Semalam aku yang main kuda-kudaan dengan mommy-nya, sekarang gantian dengan El," gumam Bryan.


Shea yang mendengar gumaman Bryan memukul bahu Bryan, dan itu membuat Bryan menoleh dan tersenyum memamerkan deretan giginya.


Bryan terus merangkak di lantai kamarnya. Mengelilingi kamarnya. Shea yang melihat Bryan kelelahan pun akhirnya menghentikan kegiatannya.


"Sayang sepertinya kamu harus memijat aku," ucap Bryan seraya bangkit. Dia memegangi pinggangnya yang begitu sakit.


"Iya." Shea pun tidak keberatan jika harus memijit jika apa yang dilakukan suaminya tadi membuat anaknya begitu senang.


Bryan menuju ke tempat tidur. Dia langsung merebahkan tubuhnya, menunggu Shea memijat tubuhnya.


Dengan menggendong El, Shea mengambil minyak pijat. Dia kemudian meletakkan El tepat di samping Bryan.


"Buka dulu bajumu!" perintah Shea.


Bryan bangkit lagi dan membuka bajunya. Kembali lagi merebahkan tubuhnya, dan tengkurap.


El yang melihat daddy-nya tengkurap pun mengikutinya. Dia seolah tidak mau kalah dengan daddy-nya. Apa yang dilakukan El itu membuat Bryan dan Shea tertawa.


"Kamu sudah dipijat ya, Sayang, sekarang gantian daddy," ucap Shea pada baby El.


Bayi kecil itu pun hanya bergumam, dan menunggu sang mommy yang sedang memijat daddy-nya.


Liburan sederhana yang begitu mengasikan, yang mereka lakukan di akhir pekan, menjadi kebahagiaan tersendiri untuk keluarga kecil mereka.


***


Setelah berpamitan dengan Shea pagi ini, Bryan berangkat ke kantor. Memulai pekerjaannya di hari pertama selalu membuat Bryan bersemangat, karena energinya sudah kembali. Penatnya dengan pekerjaan sudah berkurang karena menghabiskan waktu dengan keluarganya.


Sesampainya di kantor, Bryan mengerjakan beberapa laporan yang harus dia kerjakan.


Saat sedang sibuk suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" serunya.


Felix yang mengetuk pintu masuk ke dalam. "Ini laporan yang kamu minta," ucapnya seraya memberikan berkas pada Bryan.


"Terima kasih,"ucap Brayan meraih berkas di atas meja.


Felix duduk di kursi yang berada di depan Bryan. "Apa kamu tahu jika Regan mengangkat Chika sebagai sekretarisnya?" tanyanya.


"Mana aku tahu," ucap Bryan memutar bola matanya malas. Walaupun dia kemarin liburan selalu bersama dengan Regan, tetapi dia tidak bercerita tentang pekerjaan.


"Cih … aku tidak bertanya, tetapi memastikan padamu."


"Sama saja, jika dalam kalimatmu ada kata 'apa', berarti dirimu bertanya." Bryan mencibir ucapan Felix.


Felix mencerna ucapan Bryan. Dalam hatinya dia membernarkan ucapan temannya. "Apalagi bukan kata tanya." Dia masih tidak mau kalah.


"Kata 'apa' Felix, tidak ada imbuhan dibelakangnya." Bryan menatap tajam pada Felix.

__ADS_1


"Iya ... iya." Felix pun mengalah. Dia mengakui jika dirinya kali ini salah.


"Lalu kenapa jika Chika sekertaris Kaka Regan?"


"Iya, aku bisa lebih dekat saja."


Dahi Bryan berkerut diiringi matanya yang memicing. "Suka-suka kamu saja."


"Bilang Shea, untuk membantuku mendekatinya."


"Apa pesonamu sudah luntur, hingga meminta bantuan Shea."


"Jika perempuan di club aku bisa, tetapi ini lain," jawab Felix, "semenjak dari rumahmu aku sulit mendekatinya."


"Iya, nanti aku akan mengatakan pada Shea." Bryan tidak tega pada temannya. Jika temannya itu mendapatkan wanita baik-baik apa salahnya.


"Terima kasih," ucap Felix tersenyum.


Saat dia sedang bersama Bryan dia mengingat sesuatu. Sebuah kartu undangan bertema devil yang dia buat semalaman penuh, telah terkirim ke alamat asisten si batu bernapas, Farhan. Felix sengaja membuat undangan ulang tahun agar asisten Farhan yang posesif itu mengizinkan Farhan untuk menghadiri kegiatan rutin satu tahun sekali yang Felix adakan. Jika dipikir-pikir, sudah lebih dari setaun semuanya melupakan kegiatan ini. Farhan tidak akan ingat jika tidak diundang. Dan Bryan, tentu saja dia lupa karena sibuk mencintai istri kesayangannya. Sehingga Felix mulai mengkhawatirkan persahabatan mereka akan lenyap jika dia tidak bertindak.


"Aku akan mengadakan acara ulang tahun. Kamu harus ikut," ucapnya.


"Jangan gila. Kamu pikir aku tidak tahu kapan kamu ulang tahun?"


"Haissh ... kamu sungguh lupa ternyata. Ulang tahunku hanya kedok yang bertujuan untuk reunian kita. Bukankah setiap tahun aku selalu seperti itu?"


"Hmmm ... baiklah, tapi acaranya siang 'kan?" tanya Bryan memastikan.


"Mana seru siang hari. Kita ke club malam," jelasnya.


"Kamu mau aku dibunuh Shea?" tanya Bryan menatap tajam.


Felix mengumpat kesal dalam hati. Cinta benar-benar mampu membutakan seseorang. Sampai acara rutin saja Bryan menolak.


Dengan berat hati Felix bertanya, "Lalu, apa kamu tidak ikut?"


"Aku tidak bisa ke club dan apalagi malam hari." Bryan tidak mau dapat masalah jika harus keluar malam dan ke club.


Felix memutar otaknya. Acara reuni tidak akan seru jika Bryan tidak ada, tetapi dia tidak bisa memaksa temannya. "Bagaimana jika di rumahmu saja?" tanyanya, "kamu tidak perlu kemana-kemana, dan Shea tidak akan marah."


Bryan menimbang-nimbang tawaran Felix. "Baiklah, aku rasa di rumah saja, akan lebih aman. Kita juga bisa sampai pagi mengobrol."


"Baiklah, aku sudah mengirim undangan via email kepada asisten Farhan. Nanti akan aku suruh Farhan mengajak istrinya sekalian. Agar Shea tidak mengganggu acara kita." Felix berdiri dan keluar dari ruangan Bryan.


.


.


.

__ADS_1


.


...Jangan lupa like dan vote....


__ADS_2