
Sampai di rumah Shea menggendong El yang tertidur masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bryan yang membawa barang-barang.
"Seperti istriku kerasukan jin belanja," ucap Bryan melihat paper bag yang cukup banyak. Dia yang tahu persis seperti apa istrinya yang suka berhemat dan sekarang mendapati istrinya yang tiba-tiba berbelanja begitu banyak barang.
Masuk ke dalam kamar, Bryan meletakkan belanjaan di samping tempat tidur. Shea yang bangkit dari tempat tidur setelah meletakkan El, menghampiri Bryan. "Terima kasih," ucapnya seraya mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Bryan tersenyum. Dia tidak masalah seberapa Shea menghabiskan uangnya. Karena untuk istri dan anaknya dia bekerja. Kadang Bryan heran Shea hemat sekali, tetapi untuk ada racun kakaknya yang membujuk membeli ini dan itu.
"Apa hanya terima kasih." Bryan menatap Shea penuh arti. Meminta bayaran untuk apa yang dibeli istrinya.
Shea langsung mendaratkan satu kecupan, tetapi belum selesai dia melepas kecupannya, tangan Bryan sudah menarik tengkuk Shea, memperdalam ciumannya. Shea yang berniat memberikan kecupan urung melakukannya karena kecupan berubah jadi ciuman panas.
Saat melepas ciuman, Shea menghirup banyak-banyak udara untuk mengisi kekosongan paru-parunya.
"Kamu seperti sudah terlalu lama tidak berciuman saja," celetuk Bryan melihat Shea kehabisan napas.
"Kamu saja yang terlalu rakus." Shea mencebikkan bibirnya kesal.
"Bibir ini sudah bagai candu untukku, jadi tidak akan aku biarkan begitu saja lepas." Tangan Bryan dengan lembut mengusap bibir istrinya yang masih basah sisa pertemuan dua bibir tadi.
Shea tersenyum. Suaminya memang selalu bisa membuatnya merona. Setiap kata selalu membuatnya melayang tinggi.
"Sudah ayo, kita bersiap untuk ke rumah Kak Regan dan Kak Selly, biarkan El nanti menyusul setelah dia bangun."
Bryan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Shea membuka beberapa belanjaannya. Beberapa gaun yang dibelinya, kembali dilihat lagi. Dia puas sekali membeli gaun-gaun cantik.
__ADS_1
Dua tas yang dibeli juga tak lepas dilihatnya. Baru ini Shea membeli tas mahal. Entah kenapa kali ini Shea lupa dengan kebiasaanya. "Jarang-jarang ini 'kan." Dia tersenyum mengingat aksinya.
"Sering-sering juga tidak apa-apa. Uang suamimu masih cukup untuk membeli banyak barang." Bryan yang keluar dari kamar mandi mendengar suara Shea.
"Jangan, aku ingin banyak menabung untuk El dan anak-anak kita nanti."
Bryan mengembuskan napas kasarnya. Seharunya dia bersyukur karena bisa membuat keuangannya aman terkendali. Biasanya wanita-wanita yang suaminya punya uang berlimpah menggunakannya untuk berfoya-foya, tetapi tidak dengan dirinya.
Setelah El bangun dan mereka semua sudah siap. Mereka semua pergi ke rumah keluarga Maxton untuk menghadiri pesta.
Di rumah keluarga Maxton, sudah tersedia banyak hidangan. Kedua keluarga merayakan keberhasilan mereka yang telah dapat menyelesaikan proyek.
"Semoga ke depan kita bisa membangun kembali kerja sama dengan baik dan kembali membangun apartemen-apartemen di tempat lain." Regan yang mengangkat minumannya mengajak keluarganya untuk bersulang.
Semua mengangkat gelas dan mengamini apa yang diharapkan oleh Regan. Suasana semakin semarak dengan alunan musik. Beberapa dari mereka bernyanyi untuk mengisi acara yang berlangsung.
**
Pagi-pagi sekali Shea sudah bangun. Merapikan baju dan beberapa barang ke dalam koper. Rencananya mereka akan kembali ke Indonesia malam ini.
"Kamu sudah bersiap saja," ucap Bryan yang mengerjap dan mendapati istrinya sedang asyik memasukan barang ke koper.
"Iya, aku takut ada yang sampai tertinggal, jadi aku siapkan jauh-jauh dari sekarang."
Bryan yang tidak tega akhirnya bangun dan membantu Shea untuk bersiap. Duduk tepat di depan Shea, tangannya sibuk memasukkan baju dan beberapa barang ke dalam koper.
__ADS_1
"Kamu tidur saja, aku tidak apa merapikan sendiri." Tangan Shea menghentikan Bryan yang membantunya. Merasa tidak tega karena suaminya harus bangun membantunya.
"Pekerjaan akan cepat selesai jika dilakukan bersama-sama. Jadi aku akan membantumu."
Shea tersenyum. Merasa bersyukur karena suaminya mau membantunya. Bersama dengan Bryan akhirnya, Shea merapikan barang-barang ke dalam koper.
Setelah rapi, Bryan mengajak anaknya yang sudah bangun untuk main di taman belakang. El main duduk di rerumputan tertawa senang. Beberapa mainan sengaja diberikan Bryan.
"Kapan kita akan di sini lagi?" tanya Shea pada Bryan.
"Kapanpun kamu mau, kita bisa di sini." Bryan tersenyum manis pada istrinya.
"Nanti saat El besar, aku mau dia kuliah di sini." Tangan Shea membelai wajah El.
"Iya, aku juga berharap begitu. Aku tidak bisa kuliah di sini, tetapi paling tidak anak aku bisa." Bryan menatap putranya. Tangannya ikut membelai lembut wajah El. "Aku ingin dia jadi pria baik yang akan selalu menghargai wanita." Mengembuskan napas yang terasa berat, mengingat seburuk apa dirinya. Dalam setiap kata terselip sebuah harapan dari Bryan jika anaknya tidak akan mengikuti jejaknya.
"Kita akan bimbing dia untuk selalu menjadi pria baik yang menghargai wanita." Tangan Shea yang memegang pipi El beralih menggenggam tangan suaminya. Dia tahu, jika ada ketakutan di hati suaminya.
"Iya, semoga kita bisa membimbing anak-anak kita dengan baik."
Seburuk apa orang tua di masa lalu, selalu berharap jika anaknya akan menjadi yang terbaik. Kesalahan di masa lalu yang terjadi pada mereka menjadi pelajaran untuk menjaga anak-anak mereka tidak terjerumus hal yang sama. Hingga bisa tercipta manusia yang lebih baik lagi.
Seperti yang selalu digaungkan Shea dalam hati. Jangan menyalahkan apa yang terjadi pada dirimu, karena di balik apa yang menimpa dirimu, akan ada keindahan yang menantimu. Sebuah pelajaran hidup yang menjadi sebuah keindahan yang tak ternilai harganya. Yang kelak akan mengantarkan mereka menjadi orang tua yang lebih baik.
.
__ADS_1
.
.