
Mata Shea membulat sempurna saat melihat judul berita yang semalam dibaca oleh Bryan. Matanya beralih pada Bryan yang masih tertidur pulas.
Berita seperti ini benar-benar bisa merusak pikiranmu tentang aku dan kak Regan.
Shea hanya bisa menggeleng melihat layar ponselnya yang berisi dengan laman berita pembunuhan suami yang melihat istri dan kakak iparnya selingkuh.
Tak ingin berlama-lama kesal, Shea langsung menghapus laman berita di ponselnya. Meletakkan kembali ke atas nakas, dia beralih untuk menyiapkan keperluan anak-anak.
Sepanjang menyiapkan keperluan anak-anak, pikiran Shea masih tertuju pada berita yang pasti akan merusak pikiran suaminya itu.
Aku akan tanyakan nanti dan meluruskan semua. Aku tidak mau pikiran Bryan menjadi kacau karena berita itu.
Selesai menyiapkan semua, Shea melanjutkan membangunkan Bryan. Bersamaan dengan Bryan yang bagun, ternyata baby Al dan El juga bangun.
Melihat dua jagoannya sudah bangun, Shea menganti popok dan menyiapkan kedua anaknya untuk pergi jalan-jalan pagi untuk merasakan suasana pagi di pegunungan.
***
Di luar hotel udara begitu segar. Udara yang begitu segar itu seraya mengganti oksigen di dalam paru-paru dan membuat kelegaan tersendiri saat indera penciuman menghirupnya.
Pohon-pohon begitu memanjakan mata, saat dipandang. Seakan menjernihkan mata yang selalu melihat hiruk pikuk keramaian di ibu kota.
Dengan mendorong stroller, Bryan, Shea dan babysitter menyusui jalanan di sekitar hotel.
"Sesekali kita harus kemarin untuk menghilangkan penat." Suara Bryan terdengar saat mereka melangkah bersama-sama.
"Iya, kamu benar. Jangan hanya melihat mal saja." Shea menimpali ucapan Bryan.
Bryan mengangguk dan mendorong stroller. Dua bayi yang berada di dalam stroller itu asik saling bergumam. Mereka seolah juga menikmati kenikmatan yang ada.
Saat di dalam perjalanan menikmati pemandangan, Shea teringat dengan berita yang dibaca Bryan, tetapi Shea urung menanyakannya saat melihat ada babysitter bersama dengan mereka. Dia tidak mau urusan rumah tangganya di dengar oleh siapa pun.
Sebaiknya aku tanyakan nanti saja.
Shea pun mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Bryan. Lagipula pembahasan akan panjang jika dibicarakan dan itu merusak kesenangan yang sedang mereka rasakan.
Saat menikmati pemandangan indah, tiba-tiba suara ponsel milik Shea berbunyi. Bryan dan Shea saling pandang saat suara ponsel itu terdengar. Mereka memikirkan siapa yang menghubungi Shea.
Pikiran Bryan pun tertuju pada Regan. Dia menduga jika kakak iparnya adalah orang yang menghubungi Shea pagi-pagi.
__ADS_1
Dengan alasan menanyakan anak pasti dia menghubungi Shea.
Bryan menggerutu dalam hatinya, menebak siapa yang menghubungi istrinya pagi-pagi.
Shea sedikit terkejut mendengar suara ponselnya pagi-pagi. Pikirannya menebak siapa yang menghubunginya. Namun, pikirannya itu teralihkan dengan tatapan Bryan yang seolah benar-benar tidak suka saat mendengar ponselnya berdering.
Pasti dia pikir kak Regan.
Melihat tatapan Bryan, Shea bisa menebak jika suaminya menebak jika Regan yang menghubunginya. Karena tidak mau berlama-lama dengan pikiran yang menerka-menerka, akhirnya tangan Shea meraih ponsel yang berada di dalam tasnya.
Mata Shea berbinar saat melihat layar ponselnya, karena ternyata mama mertuanya yang menghubunginya. Dia merasa lega, jika ternyata bukan Regan yang menghubunginya.
Shea buru-buru mengusap layar ponselnya dan menempelkan di telinganya. "Halo, Ma," sapa Shea.
Mendengar Shea memanggil mamanya, Bryan merasa lega karena ternyata bukan Regan yang menghubungi Shea.
"Halo, Sayang," sapa Melisa, "kalian sedang apa? Apa dua cucu mama sudah bangun?"
"Sudah, Ma. Ini kami sedang menikmati suasana pagi di sini." Shea menjelaskan pada mamanya.
"Oh … pasti mereka senang ya?" Melisa bisa membayangkan bagaimana keseruan dua cucunya.
"Iya, dan kita hanya baby Al dan El yang senang, mommy dan daddy-nya juga senang," jawab Shea seraya melirik dan tersenyum pada Bryan.
"Ma … " panggil Shea yang tiba-tiba suara mama mertuanya hilang.
"I-ya … " jawab Melisa.
"Mama baik-baik saja?" tanya Shea.
"Iya, mama baik-baik saja," jawab Melisa, "oh ya, Se, hari ini dokter akan memeriksa keadaan Selly keseluruhan. Mama harap kamu doakan jika semua akan berjalan dengan baik dan hasilnya bagus."
"Oh … kak Selly akan diperiksa hari ini?" tanya Shea memastikan. Dia melihat Bryan seolah juga dia memberitahu pada Bryan tentang info yang dia dapat dari mama mertuanya.
"Iya, rencananya mungkin dokter akan datang siang."
"Oh … Shea hanya bisa berharap jika semua akan baik ya, Ma."
"Iya, kamu doakan saja," jawab Melisa, "ya sudah, Se, kamu lanjutkan jalan-jalannya. Jangan lupa kirimkan foto Al dan El ya!"
__ADS_1
"Iya, Ma, nanti Shea akan kirimkan."
Shea mematikan sambungan telepon setelah mengakhiri pembicaraan. Dia memasukan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Dokter akan memeriksa kak Selly?" tanya Bryan.
"Iya." Shea hanya menjawab singkat. Dia merasa sedih karena saat kakak iparnya diperiksa dia tidak ada di sana.
"Kenapa?" tanya Bryan yang melihat istrinya terdiam. Dia tahu jika Shea sedang memikirkan sesuatu.
"Aku … aku merasa sedih tidak bisa menemani kak Selly." Shea mengucapkan dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat istrinya, Bryan menyadari jika rasa sayang Shea pada kakaknya melebih dirinya sendiri sebagai adik.
Mungkin lebih pantas, kamu yang jadi adiknya.
Bryan menertawakan dirinya sendiri saat mengingat Shea begitu peduli dan menyayangi kakaknya.
"Setelah ini kita pulang."
Shea yang tadi tertunduk langsung menegakan pandangannya. Dia masih mencerna ucapan Bryan. "Benarkah?" Dia memastikan kembali pada suaminya.
"Iya, tetapi kita nikmati jalan-jalan sebentar. Setelah itu kita kembali ke hotel untuk bersiap pulang.
Senyum tertarik di bibir Shea saat mendengar ucapan Bryan. Dia bersyukur suaminya mengerti apa yang sedang dirasakannya. "Baiklah, kita jalan-jalan dulu." Dia menyetujui apa yang suaminya katakan.
Setelah keputusan pulang dibuat, mereka menikmati jalan-jalan mereka terlebih dahulu. Sesuai janji Shea pada mertuanya. Mereka mengabadikan foto saat jalan-jalan. Ini akan menjadi kenangan untuk mereka, yang akan Bryan dan Shea tunjukan pada anak-anak mereka kelak.
Puas menikmati pemandangan Bryan dan Shea kembali ke hotel. Bryan mengajak Shea dan babysitter untuk sarapan terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke ibu kota dan menemani Selly yang akan diperiksa.
Shea bersyukur karena dua bayi kecil itu justru tertidur saat kedua orang tuanya sedang sarapan. Hingga mereka hanya butuh waktu sebentar untuk sarapan.
Menyelesaikan sarapan, mereka melanjutkan dengan kegiatan berkemas. Barang-barang baby Al dan El yang cukup banyak membuat mereka harus saling membantu.
Shea memandikan anak-anak dibantu oleh Bryan, sedangkan babysitter membantu mengemas barang-barang. Dengan saling bekerja sama, mereka pun selesai dengan cepat dan dapat kembali ke ibu kota dengan segera
.
.
__ADS_1
.
.