My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Mengingatkan kamu


__ADS_3

Malam ini Bryan dan Shea sudah kembali ke rumah dengan baby El. Selly yang sudah sadar membuat mereka lega, karena sekarang baby Al sudah ada mommy-nya. Paling tidak kasih sayang untuknya sudah lengkap.


Shea keluar dari kamar mandi. Namun, dia menemukan anaknya yang berada di pojok tempat tidur. Padahal seingatnya anaknya berada di tengah-tengah tempat tidur. Dia sudah menduga jika itu adalah ulah suaminya.


Mengedarkan pandangan, Shea mencari Bryan. Akan tetapi dia tidak menemukan suaminya itu. "Mungkin dia mandi di kamar lain," gumam Shea. Akhirnya dia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Selang beberapa saat Bryan datang ke kamar. Dia yang selesai mandi di kamar tamu, mendapati Shea yang sudah tertidur saat ke kamar. Melangkah menuju tempat tidur, dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Shea.


Tubuh Shea yang menghadap baby El membuat Bryan dapat memeluknya dari belakang. "Apa kamu masih marah?" tanya Bryan berbisik tepat di telinga Shea.


Shea yang sebenarnya tidak tidur itu pun mendengar ucapan suaminya.


"Aku tahu kamu belum tidur."


"Aku sudah bilang aku tidak marah, tetapi aku kecewa."


"Aku ada di sini, jadi bicaralah dengan menatapku," ucap Bryan seraya memutar tubuh Shea.


Mau tidak mau Shea memutar tubuhnya. Pandangannya langsung tertuju pada mata Bryan. "Aku akan menjaga jarak dengan Kak Regan." Satu kalimat yang diucapkan Shea. Dia menyadari apa yang salah hingga membuat suaminya itu kesal. Walaupun akan terasa sulit dilakukan, karena mereka sudah menjadi bagian keluarga, tetapi Shea berusaha untuk keutuhan rumah tangganya.


Bryan tersenyum. Dia tidak menyangka jika istrinya tahu bagaimana posisinya. "Terima kasih sudah mengerti aku." Dia langsung memeluk Shea.


"Jangan merasa rendah diri, merasa diri tidak sempurna." Dalam pelukan Bryan, Shea mengatakan akan hal itu. Memberikan semangat pada suaminya yang merasa kecil hati. "Sebenarnya memang tidak ada yang sempurna, karena sempurna memang hanya milik Tuhan. Namun, kita bisa berusaha menjadi yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan."


"Aku pernah mengatakan, 'jika aku akan lebih menghargai seseorang yang berusaha menjadi lebih baik. Karena saat dia salah, aku akan mengingatkan seberapa besar dia sudah berjuang menjadi lebih baik' kalimat itu pernah aku ucapkan saat kita sedang makan di apartemen, apa kamu ingat?"


Bryan memutar memorinya dan menemukan kejadian di mana dia berbincang dengan Shea saat makan. "Aku ingat."


Shea memeluk erat suaminya. "Sekarang aku mengingatkan dirimu, jika kamu sudah berjuang sejauh ini untuk berubah, jadi lepaskan belenggu masa lalu itu." Shea mengeratkan pelukannya. Air matanya mengalir dia pipinya. "Jika ada pria yang lebih baik ataupun lebih sempurna, aku tidak akan tertarik, karena aku memilik satu pria yang lebih jauh sempurna dengan segala perjuangannya menjadi lebih baik."


Bryan berkaca-kaca. Dia tidak bisa berkata apapun jika sudah Shea yang berbicara. Wanita yang sedang berada diperlukannya itu selalu tahu cara membuatnya memiliki semangat. Satu kecupan mendarat di puncak kepala Shea. "Terima kasih."


"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa Bryan katakan lagi. Dia menjauhkan tubuh Shea untuk menjangkau wajah istrinya itu.


Shea masih menutup rapat mulutnya. Sejauh ini, dia masih merasa sangat kecewa. "Bisakah kamu memberikan waktu untukku, aku mau menerima maafmu tulus dari hatiku, bukan hanya di mulutku saja."

__ADS_1


Bryan menyadari jika Shea bukan tipe orang yang bermulut manis, menerima maaf, tapi dibelakang rasa kecewanya selalu selalu diungkit.


"Baiklah, tetapi jangan jauhi aku!" pintanya.


Shea mengangguk. Rasa kecewanya memanglah masih dirasa oleh Shea, dan dia ingin menghilangkan dulu perlahan perasaan itu, sebelum kata maaf benar-benar keluar dari mulutnya.


Egois mungkin terdengarnya, tapi itulah Shea. Dia tidak suka bermanis-manis tapi di dalam hatinya masih ada dendam, kesal, ataupun kecewa. Seperti yang dulu dia lakukan. Mencintai Bryan benar-benar dari hatinya dan itu memang butuh waktu panjang.


"Apa Jessie melukaimu waktu itu?" tanya Bryan saat mengingat apa yang diucapkan Regan tadi.


"Dari mana kamu tahu?"


"Dari Kak Regan."


"Iya, waktu itu dia datang, untuk mengambil berkas, dan dia mengatakan hal buruk. Aku yang kesal menamparnya, tapi dia membalas dengan mencengkram tanganku."


"Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"


"Waktu itu kamu sedang sibuk dengan pekerjaan, dan lagi pula alasan dia melakukannya adalah Kak Regan. Jadi aku memilih untuk tidak mengatakannya takut kamu terpancing dengan masalah Kak Regan."


"Iya, dan akhirnya kamu menuduhku, 'kan?" Shea justru membalas ucapan Bryan.


Bryan menyadari jika memang perasaaan kecewa Shea masih terlihat jelas dari ucapannya. Jadi wajar saja jika istrinya itu belum mau memberikan maaf, karena di dalam hatinya masih menyimpan rasa kecewa itu.


"Sudahlah, semua sudah berlalu." Bryan tidak mau memperpanjang masalah lagi dengan sesuatu yang sudah terjadi, karena itu hanya akan menimbulkan perdebatan dengan Shea. "Sudah ayo tidur!" Dia mengeratkan pelukannya pada Shea.


Ya … Tuhan, kenapa perasaan ini masih begitu menyesakkan?


Shea menyadari jika rasa kesalnya dirasakannya lagi, saat Bryan mengungkit lagi. Shea mendesah frustrasi, perasaannya memang masih diliputi rasa kecewa saat Bryan tidak percaya jika dirinya begitu mencintai suaminya itu. Dia hanya bisa berharap, perlahan perasaanya akan kembali normal.


***


Semalam, Shea tidur dengan nyenyaknya. Baby El hanya bangun sekali untuk menyusu. Membuka matanya, Shea mendapati anaknya tidak ada di sampingnya.


Kemana El?

__ADS_1


Shea menyibak selimutnya, dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia keluar dari kamarnya, untuk mencari anak dan suaminya.


Menuruni anak tangga, dia melihat dari kejauhan anak dan suaminya sedang di samping kolam renang. Melangkah menghampiri mereka, dia melihat meja makan yang sudah tersusun makanan di sana.


"Pagi," sapa Bryan.


"Pagi." Shea membalas sapaan Bryan.


Bryan menarik kursi tepat di samping baby Al dan meminta Shea untuk duduk. Shea pun duduk, dengan keadaan bingung. "Dalam rangka apa ini?" tanyanya.


"Dalam rangka mendapatkan maaf," ucap Bryan dengan percaya diri.


Shea tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Bryan. Dia beralih menatap baby El yang sedang bermain dengan mainan gigitan di tangannya. "Apa kamu juga membantu Daddy?" tanyanya pada baby El.


"Dia bagian dari team aku, jadi dia pasti membantu." Bryan mengolesi roti tawar dan memberikannya pada Shea.


"Wah ... jadi kamu mencari dukungan?" tanya Shea seraya menerima roti dari Bryan.


"Sesama lelaki harus saling membantu," ucapnya pada Shea. Dia pun beralih pada baby El. "Benar bukan, Boy?" tanya Bryan pada baby El.


Shea hanya bisa menggeleng. Aku rasa aku tidak akan lama kesal dengannya, batin Shea. Dia pun memakan roti yang diberikan oleh Bryan.


"Tadi Kak Regan mengabari, jika Al akan dia antar kemari, karena Kak Regan akan mengurusi terapy Kak Selly pagi ini, karena mama sedang tidak bisa datang ke rumah mereka,


Shea pun mengangguk, dan akan menunggu keponakannya itu datang ke rumah.


.


.


.


.


...Jangan lupa like, koment dan vote...

__ADS_1


__ADS_2