
Shea terkesiap mendengar ucapan Felix. Dia sedikit bingung kenapa Felix mengatakan akan hal itu.
Bryan yang mendengar Felix to the poin pada Shea, menepuk dahinya. Dia merutuki apa yang dilakukan oleh Felix. Temannya itu benar-benar tidak sabaran.
"Maksud kamu apa?" tanya Shea memastikan.
"Sayang, maksud Felix adalah dia menyukai Chika, tetapi sampai sekarang Chika seperti belum membuka hati padanya, jadi bisakah kamu membantunya mendekatkan mereka." Bryan akhirnya membantu menjelaskan pada Shea.
Shea dan Chika sampai sekarang memang saling berkomunikasi, tetapi dia mendengarkan curhatan Chika yang membahas tentang Erix bukan Felix. "Aku tidak bisa memberikan harapan padamu, tetapi aku akan mencoba mendekatkanmu pada Chika."
"Terima kasih, Se," ucap Felix. Matanya berbinar saat Shea berniat membantunya.
"Baiklah, sekarang urusanmu sudah selesai, jadi sekarang lebih baik kamu pulang." Dengan tegas Bryan memerintahkan pada Felix.
Felix berdecih. Ingin dia marah pada atasannya yang mengusirnya itu, tetapi dia mengingat jika atasan sekaligus temannya itu sudah membantunya. "Baiklah." Felix berdiri dan berpamitan. Dia keluar dari rumah Bryan dan langsung pulang ke apartemennya.
Shea dan Bryan kembali ke kamar untuk mengecek anak-anak, dan ternyata dugaannya tepat. Dua bayi itu sudah bangun. Dengan sigap Bryan dan Shea mengangkat satu-satu bayi kecil itu.
Mereka memindahkan dua bayi kecil itu untuk ke kamar utama, karena mereka ingin bermain bersama-sama. Shea langsung mengajak kedua bayi kecil itu untuk bermain, sedangkan mengganti baju terlebih dahulu.
"Aku sebenarnya tidak yakin Chika akan menerima Felix." Shea yang mainkan rattle untuk anak-anak, berbicara pada Bryan.
"Kenapa?" tanya Bryan. Dia menghampiri istri dan anaknya. Ikut merebah tubuhnya bersama mereka.
"Setiap wanita punya impian mendapatkan pria yang baik," ucap Shea, "bukan aku bilang Felix tidak baik, tapi kamu tahu bukan ...." Shea tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu." Tanpa Shea jelaskan Bryan mengerti. "Tetapi aku bisa berubah." Bryan masih membela. Dia berkaca pada dirinya yang bisa berubah.
Shea semakin bingung menjelaskan, dia juga takut suaminya itu tersinggung. "Jadi begini, mungkin aku memilih untuk memberikan kamu kesempatan, karena kamu sudah berada di dalam hidupku dan kamu satu-satunya pria dalam hidupku, sedangkan Chika, wanita single yang masih bisa memilih banyak pria yang menurutnya cocok untuk pendamping hidup, mungkin tanpa harus bersusah payah mengubahnya."
Bryan mengerti penjelasan istrinya. "Apa jika kamu dulu masih single dan belum hamil duluan akan melakukan hal yang sama?" Satu pertanyaan lolos dari mulut Bryan.
Itulah yang ditakutkan Shea, suaminya itu akan menanyakan hal itu padanya. "Ini takdir yang digariskan Tuhan, aku bertemu denganmu dan menikah denganmu, terlepas karena apa kita menikah. Akan tetapi aku berhak menentukan pilihanku, dan aku memilih bersamamu." Dengan tatapan teduh Shea menjelaskan pada suaminya.
"Terima kasih sudah menerima dan memilih aku." Bryan mendaratkan satu kecupan di pipi Shea. Dia merasa beruntung mendapatkan Shea yang mau menemaninya berubah.
Kaki baby Al dan El menendang-nendang, membuat Bryan dan Shea tertawa. Dua bayi kecil itu seolah sedang minta diperhatikan. Satu kecupan mendarat bergantian dari Bryan dan Shea untuk dia jagoan kecil mereka.
Bryan dan Shea tidur mengapit baby Al dan El. Melanjutkan obrolannya mereka tadi.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Bryan. Dia tidak tega melihat temannya itu merana.
"Em ... aku akan coba," jawab Shea, "tetapi jelaskan kenapa Felix bisa seperti itu?" lanjutnya bertanya.
__ADS_1
Dahi Bryan berkerut dalam, mendapati pertanyaan Shea. "Seperti itu apa maksudnya?"
"Maksudnya, kamu dulu beralasan ingin membuktikan pada Helena. Jadi aku pikir Felix juga punya alasan kenapa dia begitu juga."
"Aku tidak tahu soal itu, dia tidak pernah menceritakan kenapa dia minum, kenapa dia meniduri kekasihnya."
Shea berdecih. "Sahabat macam apa kamu itu, tidak tahu."
"Bukan begitu, dia tidak suka bercerita." Sebagai teman, Bryan memang jarang sekali mendengar keluh kesah Felix. Berbeda dengan dirinya yang selalu mengeluhkan banyak hal pada temannya itu. Di balik sikapnya yang konyol, temannya itu bisa menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
Shea mengangguk. Dia berpikir Felix punya alasan seperti apa yang terjadi pada suaminya.
Saat mengingat alasan Bryan yang meniduri para wanita, Shea mengingat pembicaraan dengan Lisa. "Sayang, apa kamu ingat alasan kamu terjebak dalam kegelapan itu?" tanya Shea.
"Kegelapan apa? Memangnya mati lampu, kegelapan." Bryan tidak mengerti istilah yang dipakai oleh Shea.
"Iya sudah pokok itu," elak Shea. Dia malas harus membahas persolan Bryan yang pernah tidur dengan banyak wanita.
"Iya, karena aku ingin membuktikan pada Helena, jika aku lebih hebat dan lebih kuat dari Farhan." Bryan dengan malas menjelaskan kembali alasannya.
"Nah ... Farhan," ucap Shea dengan semangat.
Bryan terkejut saat Shea menyebut nama temannya itu dengan semangat. "Kenapa dengan Farhan."
"Apa kamu ingat waktu Farhan dan istrinya kemari?" tanya Shea memastikan.
"Istrinya menceritakan jika suaminya hanya bertahan selama tiga menit saat melakukan hubungan suami istri." Dengan semangat Shea menjelaskan pada Bryan, apa yang diceritakan oleh Lisa.
Mata Bryan membulat sempurna mendengar ucapan Shea. "Tiga menit?" tanya Bryan memastikan.
"Iya."
Bryan yang dalam posisi miring, langsung merebahkan tubuhnya memandangi langit-langit kamar. Dia memikirkan kembali alasannya dulu melakukan hal itu. Seketika dia memijat dahinya, saat merasakan kepalanya yang pening.
"Kamu kenapa?" Shea yang melihat Bryan yang tampak berubah saat dia menceritakan semua.
"Rasanya aku mau bunuh diri, saat mengetahui jika ternyata lawan yang membuatku meniduri para wanita hanya bertahan selama tiga menit." Bryan menghela napasnya berat, saat mengetahui kenyataan sebenarnya.
Shea yang mendengar ucapan Bryan langsung mendaratkan satu pukulan di lengan Bryan.
"Auch ... " teriak Bryan yang terkejut saat Shea memukulnya. "Sayang, kenapa kamu memukulku?" tanyanya.
"Kamu tadi bilang apa? Mau bunuh diri? Apa kamu mau aku menjadi janda dan El menjadi anak yatim?" Shea mencecar Bryan dengan banyak pertanyaan. Matanya menatap tajam pada suaminya karena merasakan kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud aku," elak Bryan. Nyalinya langsung ciut saat mendapat tatapan tajam dari Shea. "Itu hanya kiasan, Sayang." Bryan mencoba menjelaskan pada Shea. Bangun dari tempat tidurnya, dia berpindah di samping Shea.
Tangan Bryan membelai lembut lengan Shea, yang membelakanginya. "Kamu tahu, itu hanya kiasan untuk mengungkapkan rasa menyesalku, saat tahu ternyata pria yang menjadi lawanku, tidak ada apa-apanya."
Shea seketika tertawa. Merebahkan tubuhnya, dia memandangi langit-langit kamar. "Apa kamu tahu, pertama kali aku mendengar cerita Lisa, aku ingin tertawa, karena aku tidak bisa membayangkan bagaimana tiga menit itu terjadi."
Bryan mendengus kesal. "Kamu tertawa, aku merana," ucapnya kesal.
"Sudahlah, semua sudah terjadi, dan untuk apa disesali." Shea tahu apa yang membuatnya suaminya kesal.
"Jika aku tahu batu bernapas itu hanya tiga menit, aku tidak perlu susah payah membuktikannya." Bryan memanyunkan bibirnya, merasakan penyesalan paling dalam.
"Sudah, semua sudah berlalu," ucap Shea seraya mendaratkan kecupan di pipi suaminya. "Terkadang orang harus menjalani fase hidup seperti itu, untuk belajar banyak hal." Dia berusaha untuk menenangkan suaminya.
Satu hal yang tidak pernah Bryan sesali adalah memperkosa istrinya. Karena jika tidak, dia tidak akan mendapatkan wanita cantik yang sangat luar biasa itu. "Iya." Memeluk Shea, dia merasakan rasa bahagianya.
Dua bayi yang dari tahu diabaikan tiba-tiba menangis. Mereka merasa daddy dan mommy-nya sibuk sendiri.
Shea langsung memiringkan tubuhnya, untuk menjangkau wajah baby Al dan El. "Anak mommy Sayang, jangan nangis." Shea kembali membunyikan rattle untuk mengalihkan tangisan mereka.
Tangan Bryan masih memeluk tubuh Shea. "Aku harap Felix tidak akan tahu jika batu bernapas itu hanya bertahan tiga menit, jika dia tahu pasti dia akan menertawakan aku," gerutu Bryan.
Shea bisa bayangkan, Felix akan seperti apa. Mungkin dia akan tertawa guling-guling mendengar semua itu.
Bryan berpindah kembali mengapit baby Al dan El. Membantu Shea untuk menenangkan mereka.
"Oh ya, kemarin aku sudah menghubungi Kak Selly dan Kak Regan, mereka akan pulang besok," ucap Bryan saat mengingat.
"Kamu menghubungi mereka?" tanya Shea memastikan.
"Iya," jawab Bryan polos.
"Kamu menganggu saja orang bulan madu," gerutu Shea melirik malas pada suaminya.
Bryan hanya menjawab dengan senyuman di wajahnya. Sebenarnya dia memiliki alasan khusus melakukannya, tetapi untuk saat ini biarkan menjadi rahasia.
.
.
.
.
__ADS_1
.
...Jangan lupa like, komentar dan berikan hadiah ...