
Sembilang sudah Shea mengandung. Dokter sudah memperkirakan tanggal Shea melahirkan. Rencananya besok Shea akan menjalani operasi untuk melahirkan anaknya.
Malam ini Shea tidur bersama suami dan anaknya. Perasaanya begitu berdebar-debar menanti hari esok. Ada terselip perasaan takut berada di meja operasi. Kejadian bagaimana El tidak menangis melintas begitu saja di Ingatannya.
"Semua akan baik-baik saja." Bryan membelai perut Shea. Perut buncit itu sudah tampak turun.
"Iya." Perasaan Shea memang tidak keruan. Dia mengingat jika terakhir kali melahirkan El, anaknya itu tidak menangis.
"Mommy, apa dedek bayi akan lahir besok?" El yang berada di tengah-tengah Bryan dan Shea bertanya.
"Iya, Kakak doakan ya, agar dedek bayi cepat keluar dan berkumpul dengan kita."
"Iya, Mommy. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan dedek bayi." El yang hampir berusia lima tahun itu kini sudah mulai lancar berbicara. Huruf R yang biasanya jadi L, kini sudah jelas.
El sangat posesif sekali saat mommy-nya hamil. Dia selalu menjaga dan membantu mommy-nya sesuai dengan pesan daddy-nya.
Kalau daddy pergi, tanggung jawab mommy jadi tanggung jawab El, jadi El harus jadi anak baik untuk jaga mommy dan dedek bayi. Kalimat yang selalu diingat oleh El dan justru membuatnya begitu perhatian pada mommy-nya.
Bryan tersenyum. El tumbuh jadi anak kecil yang penuh tanggung jawab. Walaupun dulu dia adalah pria brengsek yang berusaha melepas tanggung jawabnya, tetapi dia tak mau anaknya melakukan hal itu.
Bryan juga bersyukur El tumbuh jadi anak yang baik. Sebagai orang tua dia berharap bisa anaknya akan jauh lebih baik darinya.
"Berarti aku akan punya tiga adik?" tanya El.
Dahi Bryan berkerut dalam. "Siapa saja?"
"Freya, dedek bayi mommy dan dedek bayi mama."
"Freya? Bukannya Freya pacar kamu?" goda Bryan.
"Sayang …." Shea melotot tanda kesal.
"Pacar itu apa mommy?"
__ADS_1
Shea merutuki kesalahan suaminya yang memancing pertanyaan anaknya. "Pacar itu sebutan teman dekat untuk orang dewasa, tetapi karena El masih kecil jadi teman dekat saja sebutannya."
"Berarti nanti Freya kalau sudah besar akan jadi pacar El?" Mata kecil El menanti jawaban mommy-nya.
"Nanti kalau El sudah besar akan tahu Freya masih dekat atau tidak. Kalau sudah begitu baru bisa dibilang pacar." Menjelaskan pada anak kecil memang tidak mudah dan sebagai orang tua baru, Shea kesulitan. Kadang dia harus mencari tahu info di laman internet untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Kalau begitu, nanti El akan selalu dekat dengan Freya sampai besar, biar nanti Freya jadi pacar El."
"Iya nanti dekatlah selalu, sekarang kamu tidur, sudah malam." Bryan mengakhiri pembicaraannya. Tak mau sampai berkepanjangan pertanyaan dari El.
Diminta daddy-nya tidur, El langsung tidur.
Bryan menatap Shea. "Tidurlah, agar besok tubuhmu sehat." Tangannya membelai wajah istrinya.Tak mau sampai istrinya tidur terlalu malam.
***
Sebelum ke Rumah sakit, Bryan dan Shea mengantarkan El ke rumah Selly dan Regan. Melisa dan Daniel juga sudah datang untuk ikut menemani Shea yang akan menjalani operasi pagi ini.
Dokter langsung mengecek keadaan Shea dan membawa ibu hamil itu ke ruang operasi.
Bryan menggenggam tangan Shea meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. "Kita akan segera bertemu dengan anak kita." Dia memberikan semangat pada istrinya agar tak takut lagi.
Shea mengangguk dan meyakini jika semua akan berjalan dengan baik.
Dokter mulai melakukan operasi caesar untuk mengeluarkan anak Shea dan Bryan. Dibantu perawat, dokter melakukan operasi
Suara anak terdengar mengisi ketegangan di dalam ruang operasi setelah sekitar lima belas menit proses berlangsung.
Perasaan lega tersirat pada wajah Bryan dan Shea. Jika dulu mereka harus tegang karena suara El tak menangis, kini hal itu tidak terjadi. Karena anaknya langsung menangis.
"Anak Bapak dan Ibu perempuan," ucap dokter.
Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat mendengar jika anak mereka adalah perempuan. Kini lengkap sudah, mereka memilki sepasang anak perempuan dan laki-laki.
__ADS_1
Perawat meletakkan bayi mungil itu di atas dada Shea.
Air mata Shea menetes melihat anak perempuannya. Kulit putih bersih dan terlihat cantik. Jika dulu Shea melihat tubuh El begitu kecil, sekarang dia melihat tubuh anak perempuannya jauh lebih besar.
Shea memeluk anaknya, memberikan kehangatan pada bayi mungil itu. "Selamat datang di dunia, Sayang."
Bryan tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia begitu bahagia melihat anaknya. Satu kecupan dia berikan pada anak dan istrinya. Merasa bersyukur semua prosesnya dilalui dengan lancar tanpa ada kendala.
***
Setelah proses melahirkan selesai, Shea dipindahkan ke ruang perawatan. Sudah ada Melisa dan Daniel yang menunggu anak dan menantunya. Mereka yang tadi juga ikut berdebar, merasa lega saat mendengar suara bayi menangis. Menandakan jika cucu ketiga mereka sudah lahir.
Saat perawat keluar, Melisa sempat bertanya pada perawat apa jenis kelamin anak Shea dan Bryan, hingga akhirnya mereka mendapatkan kabar jika bayi perempuan yang keluar dari rahim Shea.
"Selamat ya Sayang." Melisa mendaratkan kecupan di dahi Shea. Merasa senang sudah memberikan cucu perempuan untuknya.
"Terima kasih, Ma."
"Papa tidak menyangka akhirnya bisa punya cucu perempuan." Daniel menepuk bahu Bryan merasa senang.
"Siapa namanya?" Melisa menatap Shea dan Bryan bergantian.
"Alicia Ghea." Bryan menyebut nama yang telah siapkan.
"Alicia Ghea Adion." Daniel menambahkan nama keluarga di belakang nama anak Bryan dan Shea. Menandakan jika anak itu adalah anak dari keluarga Adion.
Shea dan Bryan tersenyum mendengar nama anaknya yang diimbuhi nama Adion.
Melisa dan Daniel yang tak sabar langsung pergi ke ruang bayi untuk melihat cucunya. Terlihat bayi perempuan yang cantik terdapat di dalam box bertuliskan nama Bryan Adion dan Olivia Shea di sana.
Cucu perempuan pertama dari keluarga Adion akhirnya lahir. Melengkapi kelurga Adion setelah Al dan El.
.
__ADS_1
.
.