My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Pilihan Lain


__ADS_3

Matahari tampak kembali ke peraduannya. Menampilkan warna jingga yang begitu indah. Di bawah langit sore, Chika pulang dari kantornya. Dengan mengendarai mobil Felix, dia menuju ke apartemen pria itu sebelum dia kembali ke rumahnya.


Tadi siang Felix sudah memberikan alamat apartemennya lewat pesan aplikasi, jadi Chika langsung menuju ke unit apartemen Felix untuk menyerahkan kunci mobil.


Sampai di depan pintu apartemen, Chika menekan bel apartemen. Dia menuggu sejenak Felix membukakan pintu. Akhirnya pintu terbuka dan terlihat Felix dari balik pintu.


"Hai," sapa Felix sesaat membuka pintu.


"Hai." Chika membalas sapaan Felix.


Kali ini tampilan Felix lebih segar dari tadi pagi. Rambut klimis, dan mata yang berbinar menandakan jika dia tampak sudah cukup tidur.


"Aku ingin mengembalikan kunci," ucap Chika seraya menyerahkan kunci mobil milik Felix.


"Oh … iya," ucap Felix menerima kunci yang diberikan oleh Chika. "Ayo masuk dulu!" ajaknya pada Chika.


Mendapati ajakan Felix, Chika tersenyum kecut. Perasaan takut mulai menghinggapinya. Dia teringat dengan apa yang dilakukan Bryan pada Shea di apartemen, dan dia tidak mau itu juga terjadi pada dirinya.


"Kenapa?" tanya Felix, "apa kamu takut denganku?" lanjutnya bertanya.


Sebagai wanita Chika patut was-was pada Felix. Mengingat track record Felix di matanya buruk. Buktinya bagaimana dia minum kemarin, menunjukan seberapa buruknya dia. Bukan maksud hatinya menghakimi sifat orang, tetapi jika masih bisa memilih kenapa tidak dia memilih.


"Tidak, aku harus segera pulang, jadi lain kali saja aku mampir." Chika menolak dengan lembut tawaran Felix.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, kamu istirahat saja aku akan pulang sendiri saja."


"Aku akan mengantarmu." Satu kalimat tegas dari Felix terdengar dan membuat Chika akhirnya tidak bisa menolak. Chika pun mengangguk, dan membuat Felix kembali ke dalam apartemen untuk mengambil dompet dan ponselnya.


Menutup pintu apartemen Felix dan Chika menuju ke parkiran bersama-sama. "Maaf kamu tadi melihatku sekacau itu." Suara Felix terdengar saat mereka menunggu lift terbuka.


Chika tersenyum. "Tidak masalah." Baginya memang buka urusannya saat Felix minum.


"Apa kamu tidak suka dengan pria yang suka minum?" tanya Felix.


Chika tertawa mendengar pertanyaan Felix. "Lebih tepatnya aku tidak perduli orang itu minum atau tidak," jawab Chika.


Felix merasa lega mendengar jawaban Chika.


"Tetapi jika masih ada pilihan lain kenapa tidak," jawab Chika kembali. Bersama dengan jawaban Chika pintu lift terbuka dan dia melangkah masuk ke dalam.


Felix terkesiap mendengar jawaban Chika. Hatinya seketika remuk saat mengetahui jika ternyata dia di depak sebelum berjuang.


"Ayo masuk!" ajak Chika saat melihat Felix tidak masuk ke dalam lift dan justru terdiam di depan lift.

__ADS_1


"Iya," jawab Felix saat tersadar dari pikirannya. Dia masuk ke dalam lift dan menunggu lift di sampai di parkiran.


Chika tampak tenang saat menunggu lift, berbeda dengan Felix, dia tampak gugup bersama Chika.


"Shea saja mau menerima Bryan." Suara Felix memecah keheningan dalam lift.


Chika menoleh. Karena di dalam lift hanya mereka berdua, jadi ucapan Felix dia tujukan padanya. "Aku rasa jika Shea memiliki pilihan, mungkin dia akan melakukan hal yang sama, dan sayangnya dia tidak punya pilihan."


Felix membenarkan ucapan Chika jika Shea memang tidak punya pilihan karena sudah terlanjut hamil. "Tetapi Bryan berubah." Dia masih menyangga ucapan Chika.


"Itu semua karena Shea," jawab Chika, "tetapi jika aku jadi Shea, belum tentu aku bisa mengubah pria seperti Bryan." Chika tertawa membayangkan dirinya yang tidak akan sanggup melakukan hal seperti Shea.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Felix penasaran.


"Aku tidak yakin bisa sekuat Shea."


"Lalu jika kamu mendapatkan pria seperti itu, apa kamu akan mengubahnya?"


"Bila aku punya pilihan lain, kenapa aku harus bersusah payah mengubah orang."


Felix terkesiap. Saat dia hendak menjawab, pintu lift terbuka. Beruntungnya Bryan mendapatkan Shea, batinnya.


Lift terbuka dan mereka keluar. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan Felix melajukan mobilnya menuju ke rumah Chika. Keheningan terasa saat di dalam mobil, karena dari mereka berdua tidak ada yang membuka mulutnya.


Saat masuk ke dalam rumah Chika dan Felix melihat Erik yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Tepat dugaan Felix jika mobil yang terparkir di depan rumah Chika adalah milik Erik.


"Kamu sudah lama?" tanya Chika saat melihat Erik berada di ruang tamu. Senyum mengembang di wajah Felix.


"Belum, aku baru sampai," jawab Erik. Dia beralih pada Felix. "Hai," ucapnya mengulurkan tangan.


"Hai." Felix menerima uluran tangan Erik. Dia masih terkejut dengan kehadiran Erik di rumah Chika. Sejauh ini, dia tidak tahu jika sepupu Regan itu mengenal Chika.


"Aku pikir setelah kamu mengembalikan mobil, kamu akan naik taxi," ucap Erik pada Chika.


"Felix mengantarku, jadi aku pikir tidak ada salahnya. Lagi pula tampaknya dia sudah sadar," jawab Chika disertai senyum.


"Kamu, masih saja minum," ucap Erik seraya menepuk bahu Felix.


"Biasa saat berkumpul kadang aku suka lupa," jawab Felix. Dia berusaha untuk biasa saja.


"Aku ke dalam sebentar, kalian tunggu di sini," ucap Chika. Dia berlalu dan meninggalkan dua pria itu di ruang tamu.


"Sejak kapan kamu mengenal Chika?" Felix yang mendengar jika Chika menceritakan jika dia ke apartemen miliknya, menduga jika Erik memiliki kedekatan dengan Chika.


"Aku mengenalnya sejak ulang tahun perusahaan Kak Regan. Waktu itu Shea memintaku mengantarkannya pulang."

__ADS_1


Felix memutar ingatannya, saat itu dia sibuk membawa wanita yang tiba-tiba mencium Bryan. "Oh …." Dia mengangguk mengerti. "Kalian berpacaran?" tanyanya memastikan.


"Tidak," jawab Erik.


Felix sedikit lega mendengar jawab Erik.


"Lebih tepatnya masih berteman." Erik membenarkan ucapannya.


Helaan napas yang terasa berat dirasakan oleh Felix. Sepertinya aku mempunyai saingan, batinnya. Melihat Erik yang lebih baik darinya, nyali Felix ciut, tetapi dia teringat dengan Bryan yang bisa menaklukan Shea walaupun temannya itu brengsek.


Jangan merasa kalah sebelum berjuang.


Dia menyemangati dirinya sendiri untuk bersaing dengan Erik.


Chika keluar dengan membawakan minuman untuk Felix. Mereka bertiga mengobrol menceritakan banyak hal. Felix tampak biasa saja agar Erik tidak curiga jika dia sebenarnya menaruh hati pada Chika.


Dari obrolan Erik dan Chika, Felix menyimpulkan jika mereka sudah cukup lama kenal.


Setelah selesai mengobrol, Erik dan Felix berpamitan pada Chika. Masuk ke dalam mobilnya masing-masing Felix dan Erik meninggalkan rumah Chika.


Di dalam perjalanan, Felix begitu frustrasi. Dia tidak menyangka jika harus berhadapan dengan Erik. Di saat suasana hatinya sedang kacau, dia menghubungi Bryan untuk bercerita.


Memasang earphone bluetooth di telinganya, dia menghubungi Bryan.


"Halo, Bry," ucap Felix saat sambungan tersambung.


"Halo, ada apa kamu menghubungiku?" Tanpa basa basi Bryan langsung menanyakan niat temennya menghubunginya.


"Aku sedang galau, dan mau bercerita denganmu."


"Kamu pikir dirimu saja yang galau?" tanyanya ketus. "Aku juga sedang galau, karena diusir dari kamar oleh Shea, jadi simpan ceritamu dulu." Bryan langsung mematikan sambungan telepon.


Felix hanya mendengus kesal mendapati penolakan Bryan. Niatnya untuk mengurangi bebannya sirna, karena temannya itu tidak mau menerima ceritanya.


"Sebaiknya aku cepat pulang dan tidur." Dia sedang berusaha untuk menghindari minuman di saat pikirannya sedang kacau, dan tidur adalah pilihan tepat untuknya.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote...

__ADS_1


__ADS_2