
Hari ini adalah hari ketiga Regan dan Selly berlibur. Mereka merasakan sangat bahagia saat bisa menghabiskan waktu berdua.
Dua hari kemarin mereka manfaatkan untuk di villa. Melepaskan semua kerinduan yang sudah lama terpendam.
Hari terakhir di villa, mereka manfaatkan untuk keluar dari Villa, melihat pemandangan villa, sekaligus untuk Selly belajar jalan.
Di sebuah taman di villa, Selly belajar berjalan tanpa mengunakan tongkat. Dia bertumpu pada Regan sebagai pegangan.
Perlahan-lahan Selly bisa melangkah. Walaupun Regan masih tetap menjaga tubuh Selly.
"Coba lepaskan aku," pinta Selly.
"Apa kamu yakin?" tanya Regan memastikan.
Selly mengangguk.
Sebenarnya Regan tidak tega, tetapi istrinya tampak serius saat memintanya. Dia pun melepaskan tubuh istrinya, dan membiarkan istrinya itu.
Perlahan Selly melangkahkan kakinya. Menyeimbangkan tubuhnya, karena kakinya yang belum kuat untuk menopang. Setapak demi setapak, Selly gerakan, hingga akhirnya dia benar-benar bisa berjalan.
Tangan Regan berjaga-jaga, di belakang tubuh istrinya, karena takut tiba-tiba istrinya itu terjatuh.
Namun, ternyata dugaannya salah, karena istrinya tidak terjatuh sama sekali. Dia justru bisa berjalan sendiri dengan tegak.
Regan yang melihat istrinya benar-benar bisa berjalan, merasa sangat senang. Dia tidak menyangka jika ternyata istrinya itu dapat berjalan secepat itu.
"Sayang … " panggil Regan.
"Aku bisa," ucap Selly seraya melangkah terus.
Regan langsung memeluk istrinya. Tak ada kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan mereka. Penantian panjang, kini berakhir dengan indah.
Selesai belajar berjalan, Regan mengajak untuk kembali ke dalam villa. Mereka akan bersiap untuk pulang lebih awal.
"Apa kita harus pulang?" tanya Regan. Dia memeluk Selly dari belakang, seakan tidak mau kehilangan moment berdua yang begitu cepat.
"Iya, Bryan meminta kita untuk pulang."
Regan hanya bisa pasrah. Lagipula mungkin sudah waktunya dia dan Selly bergantian dengan Bryan dan Shea.
"Baiklah, tetapi sebelum pulang berikan aku satu lagi." Regan menarik tubuh Selly ke atas tempat tidur.
Selly hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia sadar suaminya sudah terlalu lama berpuasa, hingga makan sekali pun tak akan cukup.
Pertemuan dua tubuh yang memberikan kehangatan. Menghalau hawa dingin puncak yang begitu menusuk ke dalam tulang. Suara erangan dari keduanya pun mengisi keheningan di dalam kamar.
Kegiatan olah raga yang begitu melelahkan membuat mereka begitu tertidur sebenatar. Hingga siang hari, akhirnya mereka baru bangun dan bersiap untuk pulang.
__ADS_1
Di dalam perjalanan pulang, senyum Regan dan Selly mengembang sempurna. Mereka merasakan bahagia bisa melepaskan rindu. Mereka berencana untuk menjemput baby Al terlebih dahulu.
***
Bryan dan Shea bersiap untuk makan malam, setelah mereka menidurkan baby Al dan El. Mereka menuju ke meja makan untuk menikmati makan malam.
Namun, suara bel rumah yang terdengar, membuat mereka menghentikan langkah mereka yang sedang menuju meja makan.
"Aku akan buka," ucap Bryan. Dia berbelok ke pintu untuk mengecek siapa yang datang malam-malam.
Shea yang penasaran ikut berjalan di belakang Bryan. Dia juga ingin tahu siapa yang malam-malam berkunjung.
"Kakak," ucap Bryan saat melihat kakaknya yang datang. Dia memang meminta kakaknya untuk pulang, tetapi tidak menyangka jika ternyata kakaknya benar-benar langsung pulang.
Akan tetapi bukan itu saja yang membuat Bryan terkejut. Yang membuatnya terkejut adalah melihat kakaknya berdiri tegak tanpa mengunakan tongkat.
"Kak Selly." Shea menerobos Bryan yang di depan pintu. "Kakak sudah bisa jalan?" tanya Shea melihat kakak iparnya tidak mengunakan tongkat lagi.
"Kejutan," ucap Selly senang. Dia merentangkan tangannya untuk memeluk Shea.
"Aku senang sekali, Kakak bisa jalan," ucap Shea seraya memeluk tubuh Selly.
Selly pun tersenyum. Kebahagiaan ternyata tidak hanya miliknya saja, tetapi juga milik semua keluarganya.
"Kak Regan pakai gaya apa sampai bisa membuat Kak Selly bisa jalan?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Bryan. Dia heran karena setelah bulan madu kakaknya itu justru bisa jalan.
"Apa gaya bermain ketapel?" Bryan masih bertanya pada Regan.
Regan dan Selly saling menatap. Mereka memikirkan gaya bermain ketapel seperti apa. Memutar ingat mereka, akhirnya mereka mendapatkan jawabannya. Tawa mereka berdua langsung pecah mendengar istilah yang diberikan oleh Bryan.
Shea yang awalnya tidak enak karena pertanyaan Bryan, akhirnya ikut tertawa. Dia pun mengerti gaya seperti apa yang dimaksud oleh Bryan.
"Apa Al sudah tidur?" Regan yang berhenti tertawa, menanyakan anaknya.
"Iya, dia sudah tidur," jawab Bryan.
"Sepertinya kita tidak bisa membawanya pulang," ucap Selly menatap Regan. Dia tidak tega menganggu tidur nyenyak anaknya.
"Tunggu saja, biasanya Al dan El akan bangun di jam sembilan atau sepuluh," ucap Bryan.
"Iya, kalian bisa menunggu sambil makan malam dengan kami terlebih dahulu." Shea ikut menimpali ucapan Bryan.
Regan dan Selly pun tidak keberatan. Mereka langsung menerima tawaran adik-adiknya.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, dan menuju ke meja makan. Bersama-sama, mereka menikmati makan malam.
"Sayang, besok kita ada undangan pernikahan," ucap Bryan di sela-sela makan.
__ADS_1
"Kenapa kamu baru memberitahu aku? Aku tidak ada gaun untuk ke pesta." Shea yang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bryan.
"Besok aku akan menemanimu, Se, tenang saja," ucap Selly yang ikut berbicara.
"Lalu anak-anak?" Shea memikirkan anak-anak yang akan ditinggal untuk pergi ke butik.
"Biar aku dan Kak Regan yang jaga," jawab Bryan seraya menatap pada Regan. "Bukan begitu, Kak?"
"Iya, kalian pergi saja." Regan hanya pasrah dengan ide adik iparnya menjaga dua bayi.
"Baiklah," ucap Shea disertai anggukan
Mereka melanjutkan makan malam bersama, dan saling bercerita tentang keseruan anak-anak selama ditinggal bulan madu.
***
Sekitar jam delapan Al sudah bangun. Dia seolah bisa merasakan kedatangan kedua orang tuanya. Akhirnya, Regan dan Selly membawa anak mereka untuk pulang.
Shea dan Bryan melanjutkan menemani anaknya bermain. Di atas tempat tidur, mereka bertiga asik bercanda. Suara tawa El yang terdengar saat daddy-nya menggoda membuat suasana menjadi sangat riuh.
"Memang besok acara pernikahan siapa?" tanya Shea.
"Kerabat."
"Dimana di acaranya?" Shea begitu penasaran. Seingatnya terakhir kali datang ke acara kerabat Bryan adalah acara pernikahan Kevin.
"Aku lupa di mana, nanti aku cek lagi."
Shea hanya bisa ikut saja. Dia akan mendampingi suaminya datang ke acara. Dia pun melanjutkan bermain dengan anaknya yang baru saja bangun dan akan tidur lebih malam, karena amunisi sudah diisi.
***
Pagi ini rencananya Selly dan Shea akan pergi ke butik, sedangkan Regan dan Bryan akan menjaga anak-anaknya.
Diantar oleh supir Shea dan Selly menuju butik. Mereka berdua akan membeli gaun yang akan dipakai untuk acara pesta kerabat mereka.
Melihat mobil yang mengantarkan Shea dan Selly, Regan pun menatap Bryan. "Apa yang akan kita kerjakan?"
"Ayo," ajak Bryan seraya tersenyum.
Regan hanya bisa pasrah menuruti Bryan. Entah apa yang akan dilakukan oleh adik iparnya itu.
.
.
.
__ADS_1
.