
Pagi suara tangisan dua bayi yang saling bersautan membuat ketenangan seketika menghilang. Mata yang masih terpejam, terasa begitu berat untuk terbuka. Namun, suara yang terus memanggil, mau tak mau harus membuat mata terbuka.
"Sayang, kalian kenapa?" ucap Bryan seraya memeluk dua bayi di sampingnya. Semalam Shea dan Bryan memang tidur dengan dua baby Al dan El. Mereka berdua sudah lama tidak tidur dengan dua bayi bersamaan, karena baby Al tinggal di rumahnya sendiri, jadi mereka memanfaatkan waktu selama Regan pergi.
Tangan kecil baby Al dan El yang terhimpit tangan Bryan, berusaha mendorong lengan kokoh milik Bryan. Kaki kecil mereka pun tak tinggal diam, menendang-nendang seolah melayangkan protes jika mereka tidak mau di peluk.
"Sayang!" Suara Shea terkejut terdengar saat dia membuka pintu. Dengan langkah cepat dia menghampiri tempat tidur. Mengangkat tangan Bryan yang memeluk baby Al dan El. "Kenapa memeluk mereka seperti itu?" protes Shea.
"Emm … mereka menangis, jadi aku pikir mereka perlu pelukan." Dengan yang kembali terpejam, dia menjawab.
Kedua alis Shea saling bertautan. Gelengan kepala yang menyertai pun hanya bisa menjawab ucapan Bryan. Dia beralih pada dua bayi yang dari tadi menangis itu.
Karena yang menangis itu adalah keduanya, dia berusaha untuk membangunkan Bryan. "Sayang, bangun," ucapnya, "tenangkan mereka!" pintanya pada Bryan.
Bryan yang mendengar suara Shea langsung membuka matanya. Bangkit dari tempat tidur, dan meraih baby El ke dalam gendongannya.
Shea membuka kancing piyamanya dan menyusu baby Al yang berada di dalam pelukannya. Bayi kecil itu pun menyusu dengan rakus, dan menandakan jika dia sangat kehausan.
Namun, ternyata satu bayi masih terus menangis. El yang berada di dalam gendongan Bryan pun ikut menangis. "Sayang, sepertinya El juga mau minum."
Shea pun menurunkan Al di atas tempat tidur, dan meraih El dari dekapan Bryan. Dia memeluk anaknya, dan menyusuinya. Namun, sayangnya Al yang belum puas menyusu justru menangis.
"Harus gantian ya!" ucap Bryan seraya menggendong tubuh mungil baby Al. Dia menepuk lembut Al agar tenang.
Sejenak dua bayi itu pun tenang, setelah akhirnya Shea memberikan susu pada keduanya secara bergantian.
Saat mereka tenang, Bryan dan Shea membawa keduanya untuk berjemur. Bryan selalu tidak mau kehilangan kesempatan untuk menemani anaknya. Baginya moment itu tidak akan terulang.
Sampai saat baby Al dan El mandi pun Bryan setia membantu Shea, memakaikan baju pada baby Al dan El.
__ADS_1
***
Selepas Bryan berangkat ke kantor, Shea menunggui baby Al dan El yang sedang bermain, berguling-guling dan mendengarkan musik.
Shea juga membuka kamar Selly, agar kakak iparnya itu dapat mendengar suara tawa anak-anak. Sesekali Shea menyanyi untuk kedua bayi kecil itu. Tangan mereka yang mencoba meraih bibir Shea, menandakan jika mereka ingin tahu kenapa suara itu bisa keluar dari bibir Shea.
Suara bel berbunyi membuat Shea menghentikan suaranya. Dia menatap ke arah pintu depan untuk melihat siapa yang datang. "Jessie," panggil Shea.
"Hai, Se." Jessie yang di persilakan masuk ke dalam rumah oleh asisten rumah tangga, bertemu Shea di rumah Regan.
Shea berdiri dan menghampiri Jessie. "Ada apa kamu kemari?" Shea merasa heran karena Jessie ke rumah saat Regan tidak ada.
"Aku mau ambil berkas." Untung memang benar ada berkas yang dia ingin ambil, selain ada niat untuk melihat keadaan Selly.
"Berkas?" tanya Shea memastikan.
"Iya, berkas milik perusahaan Pak Bryan yang baru saja diserahkan ke Pak Regan kemarin. Ada data-data yang belum selesai disalin."
Jessie yang menunggu pun melihat dua bayi kecil sedang main dan di tunggui oleh babysitter. Matanya yang sedang melihat dua bayi beralih pada pintu yang terbuka. "Maaf, bolehkah saya izin menengok Bu Selly?" tanya Jessie pada babysitter.
"Silakan!" Karena tahu jika Jessie adalah sekertaris Pak Regan dan mengenal Shea, babysitter pun mengizinkannya untuk masuk.
Jessie masuk ke dalam kamar Selly. Dia melihat wanita yang berbaring di atas tempat tidur. Jika dulu dia melihat tubuh sexy dan kulit segar serta mulus dari Selly kini yang dilihat hanyalah tubuh kurus dan kulit yang tak pucat dari Selly.
"Hai, Bu Selly, apa Bu Selly ingat saya?" tanya Jessie seraya mendudukkan tubuhnya.
Selly yang mendengar suara wanita mencerna suara siapa yang sedang dia dengar. Sampai akhirnya dia mengingat jika yang didengarnya adalah suara sekertaris Regan.
"Sepertinya Ibu belum sadar? Atau mungkin tidak akan sadar?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Jessie, Selly terkejut. Dia merasa sekertaris Regan benar-benar tidak sopan.
"Saya berharap jika Ibu tidak perlu sadar, jadi saya bisa mendekati Pak Regan," ucap Jessie diiringi tawa kecil.
Jantung Selly seketika terasa sakit saat mendengar ucapan sekertaris Regan. Dia tidak menyangka jika sudah ada orang yang menunggu Regan saat dirinya akan meninggal.
"Apa Ibu tidak kasihan pada Pak Regan? Dia butuh belaian wanita, dan saya dengan suka rela akan mengantikan Ibu untuk Pak Regan," ucap Jessie, "masalah anak Ibu, tenang saja! nanti saya akan carikan babysitter untuk menjaganya." Jessie masih tertawa kecil saat mengatakan niatannya pada Selly.
"Pergi kamu dari sini!" ucap Shea seraya menarik tangan Jessie. Dia yang mencari Jessie menemukan Jessie berada di kamar Selly. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Jessie. Karena merasa geram dengan Jessie, tanpa menunggu lama, dia menarik paksa temannya sekaligus sekertaris Regan itu.
"Apa-apaan kamu Shea?" Suara Jessie terdengar meninggi saat melihat tangannya ditarik oleh Shea.
Shea menatap ke arah babysitter, memberikan kode agar membawa dua bayi ke kamar. Asisten rumah tangga yang keluar dari dapur untuk melihat keributan pun akhirnya membantu babysitter membawa baby Al dan El ke kamar.
"Harusnya aku yang bertanya pada kamu, apa maksud kamu mengatakan hal itu pada kak Selly?" Shea benar-benar kesal karena mendengar ucapan Jessie.
"Memangnya apa? Aku hanya mengatakan jika aku berharap Bu Selly tidak akan sadar." Dengan polos Jessie mengatakan akan hal itu.
"Jaga mulutmu Jessie!" Suara Shea yang biasnya terdengar lembut terdengar keras saat melontarkan ucapan yang penuh ancaman pada Jessie.
"Kenapa aku harus menjaga mulutku? Memang kenyataanya begitu." Tanpa merasa bersalah dia mengatakan pada Shea. "Apa kamu tidak sadar jika Bu Selly sudah hampir tiga bulan tidak sadarkan diri? Lagi pula Pak Regan adalah pria normal bukan? Dia juga butuh belaian lembut dari tangan wanita."
Satu tamparan langsung melayang di pipi lembut Jessie. Shea yang sudah benar-benar geram meluapkan kekesalannya.
.
.
.
__ADS_1
.
...Jangan lupa like dan vote...