
"Tutup mulutmu Jessie!" Darah Shea benar-benar mendidih saat mendengar ucapan Jessie. Dia merasa tidak terima dengan ucapan Jessie.
Jessie memegangi pipinya yang baru saja mendapatkan tamparan dari Shea. Rasa panas yang dirasakannya memang membuatnya meringis kesakitan. Namun, sakit yang dirasakan tidak akan sebanding dengan penghinaan yang dia terima akibat ditampar.
"Apa kamu sedang merasa tidak terima karena aku akan mendapatkan Pak Regan dan kamu tidak?" tanya Jessie menatap tajam Shea.
Dua alis Shea saling bertautan diikuti dahinya yang berkerut dalam. Dia tidak mengerti apa yang sedang Jessie bicarakan. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, Se!" ucap Jessie dengan senyum mencibir. "Semua karyawan kantor juga tahu jika kamu menyukai Pak Regan. Semua tahu jika kamu sering memperhatikan Pak Regan." Jessie seolah melemparkan perlawanan telak.
"Apa?" Shea menggeleng mendengar semua yang dikatakan Jessie. "Jangan asal bicara kamu!"
Jessie langsung tertawa. "Aku asal bicara?" Dia bertanya dengan penuh sindiran. "Semua orang tahu akan hal itu. Di kantor semua tahu jika istri dari adik ipar Pak Regan mencuri pandang pada Pak Regan. Jika istri adik ipar Pak Regan akan menikah dengan Pak Regan saat nanti bercerai dengan suaminya yang seoang cassanova yang akan siap meninggalkannya kapan pun."
Mulut Shea tertutup rapat. Dia buka tidak bisa menjawab, tetapi dia tidak mengerti kenapa gosip murahan itu bisa tersebar luas.
"Jangan munafik jika sebenarnya kamu juga menunggu kakak iparmu itu meninggal!"
Jantung Shea serasa dihimpit batu keras, dan membuat dia merasakan sesak. "Pergi kamu dari sini!" ucap Shea. Dia sudah tidak mau menanggapi ucapan sampah yang keluar dari mulut Jessie.
"Kenapa? Apa yang aku katakan semuanya benar?" Tatapan Jessie yang seakan merendahkan Shea pun terlihat jelas. Dia sudah sering mendengar cerita Shea di kantor. Jadi dia bisa dengan mudah melawan Shea.
"Terserah dengan pikiran kotormu itu. Yang tahu hanyalah aku dan keluargaku, jadi ocehanmu itu tidak akan berarti apa pun."
"Oh ya?" Jessie tersenyum tipis. "Kita akan lihat saat kakak iparmu itu tidak ada, aku yakin ular seperti dirimu akan dengan muda menggantikannya. Apalagi yang Pak Regan lebih baik dari pada suamimu itu."
"Kamu!" Shea yang geram melayangkan satu tamparan lagi pada Jessie. Namun, Jessie dengan cepat menangkisnya. Dengan satu gerakan, Jessie memutar tangan Shea dan memelintirnya.
"Auch … " teriak Shea yang kesakitan tangannya di pelintir.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan Pak Regan."
Shea yang mendengar akan ucapan Jessie langsung mengerahkan tangannya sikunya untuk mengenai perut Jessie. Gerakannya dia lakukan dengan sekuat tenaganya dan itu akan membuat Jessie sakit.
Merasakan rasa sakit di perutnya karena hantaman siku Shea, Jessie langsung melepas Shea dan memundurkan tubuhnya. Saat mundur tubuhnya, dia sedikit terhuyung dan membuatnya terjatuh.
__ADS_1
Namun, belum sempat dia benar-benar jatuh, tangan Melisa langsung menahannya. "Ada apa ini?" tanyanya bingung.
Shea yang melihat mama mertuanya datang benar-benar terkejut. Dia mengingat, jika mamanya mertuanya sudah mengatakan jika dia akan datang terlambat karena sedang ada urusan. Akan tetapi dia tidak menyangka jika mama mertuanya datang di saat dirinya sedang berkelahi dengan Jessie.
Jessie menegakkan tubuhnya yang ditahan oleh Melisa. "Lihatlah menantu Ibu itu, dia menyerang saya!"
"Apa kamu bilang?" Shea membelalak kaget dengan ucapan Jessie. Dia yang merasa tidak terima langsung menghampiri Jessie untuk dihajar kembali.
Jessie yang melihat Shea menghampirinya langsung bersembunyi di belakang tubuh Melisa. "Lihatlah menantu bar-bar Ibu ini!" ucap Jessie pada Melisa.
"Shea kamu ini apa-apaan?" Melisa terkejut melihat menantunya yang biasa tampil lembut berubah ganas dan beringas.
"Dia tidak suka saya mengatakan jika sebenarnya dia menunggu istri Pak Regan meninggal, dan menggantikan posisinya," ucap Jessie memutar fakta.
"Apa kamu bilang?" tanya Melisa menoleh ke belakang memperjelas ucapan Jessie.
"Ma, jangan percaya apa yang dikatakannya!" Shea mencoba membela dirinya.
Senyum licik tertarik di wajah Jessie. "Tadi saya mendengar jika Bu Shea sedang berbicara dengan Bu Selly dan menunggu putri Ibu itu meninggal agar bisa mengantikan posisinya." Jessie menjelaskan pada Melisa.
Mendengar penjelasan Jessie, Melisa melangkah maju menghampiri Shea. Tatapannya menajam bak pisau yang siap menajam tepat di jantung.
Jessie tersenyum puas melihat Melisa mempercayainya. Namun, tiba-tiba mendapatkan tamparan dari Melisa yang tanpa dia duga berbalik menghadapnya.
"Apa kamu pikir aku akan percaya denganmu? Aku sudah mengenal menantuku dengan baik! Jadi jangan coba-coba menghasut!" Suara Melisa terdengar penuh ancaman.
Dengan memegangi pipinya, Jessie merasakan sakit kedua kalinya di pipinya.
"Sekarang kamu pergi dari sini!" ucap Melisa.
Jessie yang kalah, memilih untuk pergi dari rumah atasannya itu. Dengan, menahan rasa sakitnya dia berlalu keluar.
Melisa berbalik saat melihat Jessie sudah pergi. Dia melihat menantunya yang sudah menangis. Jika tadi dia melihat menantunya yang bar-bar, kini dia melihat menantunya yang rapuh.
"Ma … " panggil Shea.
__ADS_1
Melisa langsung memeluk Shea. Dia tahu jika yang dikatakan oleh Jessie pasti adalah bualan. Mengenal Shea sudah cukup membuat Melisa tahu isi hati menantunya itu.
"Sudah, mama tidak akan semudah itu percaya." Melisa membawa Shea duduk di sofa. Dia menenangkan menantunya yang terus menangis.
Selly yang dari tadi mendengar percakapan Shea dan Jessie merasa senang dan bercampur sedih. Dia mendengar jelas bagaimana Shea melawan Jessie, dan bagaimana wanita iblis itu berharap dirinya mati.
Aku sudah tahu kamu, Se. Seburuk apa orang mengatakan tentangmu, aku tidak akan percaya.
Dari dalam hati Selly, dia mengungkapkan perasaanya pada Shea. Dari tadi dia sudah berusaha keras untuk bisa mengerakkan tubuhnya atau mungkin membuka matanya agar bisa membantu adik iparnya itu. Namun, sayangnya tidak ada yang berhasil. Akan tetapi saat mendengar mamanya datang, dia merasa lega, karena ada yang membantu Shea.
Melisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dan Shea menceritakan semua pada mama mertuanya itu. Melisa terkejut saat mendengar cerita Shea. Dia tidak menyangka sekertaris menantunya itu mengatakan akan hal itu. Akhirnya dia pun menghubungi Regan yang berada di luar negeri dan menceritakan semua itu pada menantunya.
Regan yang mendengar benar-benar dibuat terkejut. Mendengar cerita sang mama mertua pun akhirnya membuat darah Regan mendidih. Dia tidak terima ada orang yang mendoakan istrinya meninggal.
Dia sudah bisa menduga pertarungan seperti apa yang dilakukan Shea dan Jessie, mengingat Shea akan berubah garang saat diusik.
Akhirnya Regan pun memutuskan untuk menghubungi HRD di kantor untuk memecat Jessie. Dia tidak akan membiarkan orang seperti Jessie berada di dalam kantornya.
Melisa yang selesai menghubungi Regan, langsung beralih mengobati tangan Shea yang terluka karena cengkraman yang dilakukan oleh Jessie. Luka memar di tangan Shea menandakan jika wanita iblis itu melakukan dengan sekuat tenaga.
Akan tetapi Shea menangkan mama mertuanya jika dia sudah membalas dengan kuat di perut Jessie. Belum lagi tamparan yang dilakukan dirinya dan mama mertuanya itu akan membuat Jessie benar-benar lebih terluka.
...Bersambung ...
.
.
.
.
...akhirnya menjelang detik-detik.....
...detik-detik apa?...
__ADS_1
...harus banget ditunggu ...
...Ayo like dan vote, biar semangat ni......