
Sudah seminggu ini Shea bolak balik ke rumah Selly. Setiap hari Shea selalu mengajak baby Al untuk bertemu dengan Selly. Menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh anak kakak iparnya itu, agar merangsang pergerakan Selly. Sesekali Selly mengerakkan jarinya, seolah dia sedang merespon ucapan Shea.
Walaupun tinggal di rumah Selly jika siang, Shea selalu berusaha tidak terlaku sering bertemu dengan Regan, sesuai dengan permintaan Bryan. Dia akan datang saat Regan sudah berangkat dan akan pulang saat Regan belum pulang.
Shea selalu berusaha mengerjakan tanggung jawabnya dengan berhati-hati agar tidak membuat banyak orang terluka. Pertama dia harus menjaga hati Bryan yang sangat mudah cemburu. Kedua dia sudah terlanjut berjanji pada mamanya untuk menjaga Al di rumah Selly agar kakak iparnya itu cepat bangun. Semua dia kerjakan demi orang-orang yang begitu dia cintai.
Namun, pagi ini Bryan harus ikut turun dari mobilnya saat melihat kakak iparnya masih di rumah. Dia sudah bak bodyguard yang dengan setia mengawal Shea. Tidak memberikan celah sekali pada Regan untuk berdua dengan istrinya.
"Bry, kamu belum berangkat?" tanya Regan yang keluar dari kamarnya.
"Iya, Kak, sebentar lagi" jawab Bryan, "jam berapa penerbangannya?" Dia sudah tahu sebenarnya kakak iparnya masih di rumah karena akan pergi ke luar negeri bersama Felix. Namun, tetap saja rasa curiganya tak kunjung usai.
"Jam dua siang."
Hah … apa aku harus menunggu selama itu?
Bryan merasa bingung karena ternyata Regan berangkat sangat siang, dan dirinya tidak mungkin memantau kegiatan istri dan kakak iparnya itu.
"Nanti kalian jadi menginap di sini, bukan?" tanya Regan memastikan kembali. Kemarin dia memang sudah membahas dengan Bryan tentang rencana keluar negeri. Dia meminta Bryan dan Shea untuk tinggal di rumahnya saat dia keluar negeri.
"Iya, kami akan menginap nanti malam."
"Pagi." Suara mama Melisa terdengar Bryan, Shea dan Regan sedang berbincang.
"Pagi," jawab Bryan, Shea dan Regan serentak. Mereka saling pandang saat suara mereka terdengar bersama-sama.
Melisa langsung menautkan pipi pada Shea, dan meraih El dari pelukan Shea. Walaupun sudah bertemu setiap hari, tetapi dia selalu merindukan cucunya itu.
"Kamu belum berangkat, Bry?" Suara bass sang papa terdengar bertanya pada Bryan.
Mendengar pertanyaan papanya, bulu kudu Bryan langsung berdiri. Itu menandakan seberapa takutnya dia dengan sang papa. "Ini sudah akan berangkat," jawab Bryan. Dia tidak ada pilihan saat papanya bertanya. Apalagi jika papanya tahu di kantor tidak ada Felix yang sebagai penanggung jawab.
Shea yang mendengar jawaban Bryan, menahan tawanya. Tadi padahal suaminya memang sengaja turun dari mobil dan ikut masuk ke dalam rumah karena takut dirinya dekat-dekat dengan Regan. Namun, saat papa mertuanya bertanya, dia menduga jika suaminya lebih takut dengan papanya.
"Aku berangkat dulu, Sayang." Bryan menautkan pipi pada Shea. Dia pun berbisik pada istrinya. "Jangan dekat-dekat!" Dia memberikan peringatan penuh pada istrinya.
__ADS_1
Sebenarnya Shea terkejut. Namun, dia berusaha untuk tenang. Dia pun menjawab larangan Bryan dengan anggukan.
Dengan berat hati akhirnya Bryan berangkat ke kantor dan meninggalkan Shea di rumah kakaknya. Yang dia syukuri adalah kedatangan orang tuanya. Dia masih merasa tenang, karena ada orang tuanya, Shea dan Regan tidak akan berduaan.
***
Menjelang berangkat ke Bandara, Regan menyempatkan diri untuk menemui Selly terlebih dahulu.
"Sayang … aku harus pergi melihat proyek properti kita di luar negeri. Maafkan aku harus meninggalkan kamu beberapa hari di rumah. Akan ada Bryan dan Shea di rumah, jadi kamu tidak akan kesepian." Regan menjelaskan pada Selly.
Pergilah, Sayang! Aku akan baik-baik saja.
Selly mengerti, jika suaminya sangat berat untuk pergi. Karena dia pasti harus meninggalkan dirinya dan anaknya. Namun, Selly beruntung karena Bryan dan Shea ada di rumahnya.
"Baiklah, aku pergi dulu!" ucapnya seraya mendaratkan kecupan di dahi Selly.
Regan keluar dari kamar Selly dan menemui anaknya di kamar bayi. Memegang handle pintu, dia mendorong pintu. "Apa Al tidur?" tanya Regan pada Shea.
"Iya, dia baru saja tidur." Mata Shea yang dari tadi sedang fokus dengan dua bayi di hadapannya beralih pada Regan. "Kakak sudah akan berangkat?" tanya Shea.
"Iya, aku akan berangkat." Regan melangkah masuk lebih dalam. Dia menghampiri box bayi. Matanya melihat dua bayi kecil yang sedang asik tertidur.
"Iya, Kak, tenang saja, lakukan pekerjaan Kak Regan, aku akan menjaga Al dengan baik."
Regan mengangguk. Dia merasa senang ada orang-orang seperti Bryan dan Shea disekitarnya. Dia pun beralih pada anaknya. Mendaratkan satu kecupan di dahi baby Al, dan bergantian pada baby El.
Menyelesaikan menciumi anaknya, Regan keluar dari kamar dan berpamitan pada mertuanya. Tak lupa dia menitipkan anak dan istrinya juga pada mertuanya.
Melisa, Daniel dan Shea mengantarkan Regan sampai pintu depan. Diantar oleh supir, dia berangkat menuju Bandara.
***
Malam ini, Bryan dan Shea menginap di rumah Regan dan Selly. Mereka memilih kamar tamu tepat di sebelah kamar Selly, agar masih bisa memantau Selly. Walaupun sudah ada perawat yang berjaga mereka berdua tetap perlu untuk mengawasi.
"Aku akan mengecek kak Selly sebentar," ucap Bryan. Dia pun mengecup kening Shea yang sedang merebah bersama dua anaknya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Iya," jawab Shea.
Bryan keluar dari kamar dan menuju ke kamar Selly. Dia meminta di perawat yang berjaga untuk keluar. Dia duduk tepat di samping Selly. Jika kemarin Bryan sudah bicara juga dengan Selly, tetapi dia belum banyak bicara. Kini dia memanfaatkan waktu untuk sekedar berbincang dengan kakaknya, walaupun sebenarnya kakaknya tidak menjawab.
"Hai … Kak, kita belum banyak bicara semenjak kakak menunjukan pergerakan," ucap Bryan seraya meraih tangan Selly.
Selly tersenyum dalam hatinya. Mendengar suara bergetar Bryan, dia menyadari jika adiknya sama sedihnya dengan yang lain.
"Kak Selly kapan sadar?" tanya Bryan. Dia menghela napasnya. "Apa Kakak tahu, aku sedang sangat ingin segera Kakak bangun karena aku sedang sangat takut."
Takut? Selly bertanya pada dirinya sendiri, apa yang ditakutkan adiknya.
"Aku takut kedekatan kak Regan dan Shea, Kak," ucap Bryan, "aku takut Shea meninggalkan aku, Kak." Dada Bryan sedikit sesak saat merasakan takut yang begitu dirasanya.
Dasar bodoh! Apa kamu tidak bisa melihat jika Regan dan Shea adalah dua sosok setia.
"Aku tahu mereka setia, tetapi pertemuan mereka setiap hari akan menumbuhkan cinta seperti yang dulu terjadi padaku," ucap Bryan, "jadi bangunlah, Kak! Agar ketakutanku hilang."
Selly hanya tersenyum di dalam hatinya. Dia merasakan bagaimana perasaan adiknya. Dia begitu mencintai Shea, hingga dia takut kehilangan istrinya itu.
Aku akan segera bangun.
Bryan berdiri, dan merapatkan selimut Selly. "Selamat malam, Kak," ucap Bryan mendaratkan kecupan di dahi Selly.
Malam, Bry.
...Bersambung ...
.
.
.
.
__ADS_1
.
...Jangan lupa like dan vote....