My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Aksi Si Kembar


__ADS_3

Beruntung ada Rico yang datang membantu membereskan kekacauan yang disebabkan oleh tiga manusia gila itu. Jadi Lisa dan Shea bisa sedikit tenang. Setelah menaruh Bryan dan Felix di tempat yang aman, Rico pergi membawa Farhan. Sementara si kembar masih bermain dengan baby El di ruang bayi miliknya.


"Lis, maafkan sikapku yang tadi ya ... aku terlalu emosi, jadi tak sadar saat menyiram Bryan tadi. Suamimu ikut basah gara-gara aku." Shea menggenggam tangan Lisa. Merasa tidak enak dengan kelakuannya barusan.


"Tidak masalah. Wajar kamu marah, mungkin kamu jarang melihat Bryan mabuk. Kalau aku tidak kaget lagi, karena sudah sering melihat suamiku minum dengan patner bisnisnya. ... ya, walau baru pertama kali ini aku melihat dia sampai mabuk parah."


Mendengar kata mabuk parah membuat Shea murka kembali. Ia meremas tangannya dengan dada yang bergemuruh hebat. "Semua ini tidak akan terjadi kalau tidak ada Felix ... anak itu benar-benar menyebalkan," decak Shea jengkel.


Tiba-tiba, sebuah teriakan terdengar dari arah kamar bayi. Lisa dan Shea langsung berlari menuju kamar itu.


"Ada apa?" tanya Shea takut. Matanya langsung tertuju pada baby El yang masih aman di gendongan baby sitter.


"Ini Bu, si kembar ...." Baby sitter itu menatap Shea dan Lisa secara bergantian. Tidak enak mau menjelaskan duduk perkaranya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Lisa sedikit menghardik. Kamar bayi itu sangat acak-acak. Setara dengan taman belakang yang pakai untuk pesta tiga sejojo.


"Dia jahat, Bunda!" rengek Cello yang langsung mengadu pada Lisa. Cilla juga ikut merengek-rengek dengan air mata buaya khas anak kecil bermanja.


"Ngapain bawa ginian? Kalian mau apa?" Di tatapnya satu-persatu wajah polos itu. Cilla sedang memegang koper mainan milik El, sementara Cello membawa ransel besar yang tadinya berisi bola-bola mainan El.


"Cilla mau bauwa puyang dede ityuuh. Tapi tak bolee sama bibi sihil yang jahaat. Bunda ... ayo bawa si dedeknya pulang."


"Iya, nenek sihir itu jahat Bunda, padahal dedeknya mau main sama Ello dan Adek, tapi tidak boleh." Cello ikut menimpali.


"Ya ampun! Kalian ini. Memangnya dedek El boneka mau di bawa pulang? Cilla dan Ello kalau dibawa pulang orang asing mau tidak?"


Dua anak itu hanya menggeleng.


Shea yang melihatnya terkekeh geli, lalu mengambil baby El yang sedang digendong pengasuhnya. "Mereka lucu sekali Lisa, yang satu sudah lancar bicara, tapi yang satu masih sedikit cedal ya? Kenapa bisa begitu?" tanya Shea keheranan.


"Iya, yang perempuan memang belum lancar bicara, tapi dia sangat pandai menyerang orang dewasa."


Mendengar kata 'menyerang' rasanya Shea tidak bisa menyalahkan karena memang kadang anak-anak seperti itu. Tinggal peran orang tua yang mengarahkan mereka.

__ADS_1


Shea berjongkok agar bisa menjangkau wajah si kembar. "Adik bayi belum bisa ikut kalian, karena dia masih minum susu dari mommy-nya." Dengan lembut Shea menjelaskan pada dua anak kembar itu.


"Tapina Cilla mau main syaama dede ityuuh." Cilla menunjuk baby El dengan muka melas. Membuat Shea kasihan melihat ekspresi polos khas anak kecil


"Boleh main, tapi di sini. Jadi kalian bisa ke rumah dedek El kalau libur sekolah."


"Tante jahat!" teriak Cilla kesal. Anak perempuan itu memang sangat sensitif.


"Cilla ngga boleh begitu sama tantenya," hardik Lisa agak malu pada Shea.


"Bunda dan taante jahat. Jeyas-jeyas si dedek mau ikut Cilla. Tapi gak diboyehin syama tantenya. Cilla gak syuka syama tante yang tukang boong."


"Iya, bohong itu dosa loh," imbuh Cello dengan gaya menakut-nakuti seperti orang dewasa.


Shea menyerngit kebingungan. Ternyata ini yang dimaksud Lisa. Anak kecil berumur empat tahun itu memang pintar berbicara. Namun, Shea sadar bahwa logika anak kecil tidak sama dengan orang dewasa. Wajar mereka berpikir El ingin ikut dengan dua bocah itu, karena sedari tadi baby El terus berteriak sambil menggoyang-goyangkan tangan dan kakinya heboh—ingin ikut bermain dengan mereka.


"Lisa ... bagaimana caranya membujuk mereka?" Shea langsung pasrah saat menghadapi anak kecil yang sudah mulai bisa menjawab itu. Ia belum terlalu berpengalaman menghadapi logika anak kecil yang seperti ini.


"Aku juga bingung, Se. Masalahnya mata mereka tidak dapat dibohongi. El juga ingin sekali bermain dengan mereka, bukan?" balas Lisa kebingungan.


"Aha!" Wajah Shea berubah senang, saat satu ide terlintas


"Begini, Sayang-Sayang tante. Duduk dulu yuk, nanti tante ceritain." Shea mengambil posisi duduk. Di mana si kembar ikut duduk dan memperhatikan ibu muda beranak satu hendak bercerita. Lisa masih berdiri. Memperhatikan sehebat apa wanita itu dalam meluluhkan hati si kembar.


"Sebenarnya dedek El mau main sama kalian. Tapi karena dia belum bisa jalan-jalan. Jadi harus digendong terus."


"Cilla bisyaa gendong kuk Tante ... di lumah Cilla uga banyak susyu dan mainan," bantah anak itu tidak mau kalah.


"Betul ... betul ... betul," imbuh Cello juga.


Shea tersenyum geli melihat kegigihan mereka berdua. "Tante juga tahu kalian bisa gendong, tapi tante sayang banget sama El. Tante bisa nangis kalau El dibawa pergi sama kalian," ucap Shea sambil memasang wajah sedih agar kedua bocah itu kasihan padahanya.


"Kalau begitu Ello pinjam deh, nanti balikin lagi kalau dedeknya udah bosen main ama kita."

__ADS_1


"Iya benel, pinjam juga tidak papaa. Nantie kitaa bayikin agie ke Tantenaah." Cilla mengangguk setuju.


"Tidak bisa Sayang. Tante tidak mungkin meminjamkan dedek El pada kalian berdua. Tapi kalau kalian serius mau dedek ... kalian bisa kok, bikin dedek sendiri."


Bola mata Lisa membola seketika. Wanita itu mendadak kesal mendengar ucapan Shea yang tidak biasa. Shea mengedipkan matanya. Memberikan kode perminta maaf dengan raut terpaksa. Terpaksa memberi tahu hal ini demi kepentingan bersama.


"Gimana calanaa buat dedek syepelti itu, Tanteh? Kita uga mau tahu calanaa ...." Mata Cilla tak berkedip. Menunggu jawaban Shea dengan tidak sabaran.


"Iyups, Ello mau buat tiga, untuk Ello dua, untuk adik satu," ucap Cello antusias. Wajah mereka berdua mendadak senang. Hanya Lisa yang mendengkus kesal mendengar ucapan Cello.


"Suruh ayah kalian mengajak bunda bulan madu. Kalau kalian tidak tahu, bulan madu itu semacam jalan-jalan berdua saja. Lalu membuat bayi bersama."


Maaf Lis, aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa untuk memberikan edukasi yang baik dan mudah dipahami oleh mereka, batin Shea yang merasa tidak enak.


"Jadi yang buat harus ayah Hanhan sama Bunda Lisa ya, Tante?" tanya Cello karena masih belum paham.


"Iya, harus orang dewasa yang sudah menikah. Baru bisa membuat dedek bayi. Tapi ingat, dedek bayinya tidak akan langsung jadi. Butuh proses panjang. Cello dan Cilla harus berdoa terus kepada Tuhan, agar ayah dan bunda berhasil membuat bayi."


"Yeeeee ...." Keduanya berteriak senang. Mereka merasa paham mendapat edukasi yang diberikan Shea walau agak barbar.


Kedua bocah itu cukup pintar, maka dari itu Shea harus lebih pintar lagi memberikan arahan yang masuk akal dan mudah diterima oleh anak kecil.


Abaikan Lisa yang mulutnya cemberut. Setelah ini, Shea yakin mereka berdua akan segera bulan madu atas rengekan dua anak kembar itu.


.


.


.


.


...Jangan lupa like dan vote ya....

__ADS_1



__ADS_2