My Perfect Daddy

My Perfect Daddy
Bonchap 3. Dua sama


__ADS_3

Pagi ini karena Bryan tidak ke kantor, dia menyuapi El. Paling tidak jika nanti anaknya menyemburnya lagi dia akan masalah. Lagi pula dia bukan jasnya yang kotor. 


"Apa coat yang kemarin sudah kamu berikan pada Chika?" tanya Shea yang mengingat coat yang dititipkannya pada Bryan. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu. 


"Sudah," jawab Bryan. Dia sibuk menyuapi anaknya. Kali ini anaknya tidak menyemburkan makanan dan itu artinya dia menyukai makanan tersebut.


Dengan lahap El memakan makanan buatan mommy-nya. Kali ini Shea membuat menu pure alpukat. Warna hijau menempel di sekitar mulutnya dan membuat Bryan mengusapnya dengan tisu basah. 


Saat sedang menyuapi, Bryan mendengar suara ponsel Shea berdering. Dia mengintip sedikit ponsel yang tergeletak di atas meja. Nama Felix tertera di layar ponsel istrinya dan membuat Bryan mengerutkan dahinya. 


"Siapa yang menelepon?" tanya Shea meletakan makanan di atas meja. 


"Felix." 


Shea bergegas mengangkat teleponnya dan menyapa Felix. Felix menjelaskan jika Chika nanti akan bertanya padanya karena dia merasa aneh tiba-tiba Shea memberikan coat. Shea yang mendengar penjelasan Felix mengerti dan nanti akan membuat Chika percaya dengannya. 


Setelah selesai menerima telepon, Shea duduk bersama Bryan untuk memulai sarapan. 


"Ada apa sebenarnya kamu dan Felix?" Bryan heran kenapa asistennya itu menghubungi istrinya. 


"Kemarin, Felix meminta aku membelikan coat untuk Chika, tetapi dia meminta untuk mengatakan jika aku dan kakak Selly yang membelikan."


"Lalu?"


"Aku mendapatkan coat juga," ucapnya lirih. Wajahnya malu karena mendapatkan coat dari Felix, padahal kemarin dia sudah membeli beberapa coat. 


Bryan menggeleng. Heran dengan istrinya. "Kak Selly juga?" tanyanya memastikan. 

__ADS_1


"Iya, karena kata Kak Selly agar Chika tidak curiga." 


Bryan tertawa dalam hatinya. Kakaknya itu memang memiliki segala macam ide, hampir sama dengan dirinya. Apalagi urusan mengambil kesempatan dalam kesempitan. 


"Ya sudah tidak apa-apa," ucap Bryan. Dalam hatinya sudah merencanakan untuk mengembalikan uang yang pakai Felix untuk membeli coat. 


Setelah sarapan, Bryan dan Shea menuju ke rumah kakaknya. Rencananya mereka akan bertemu Felix dan Chika untuk membahas persiapan keberangkatan nanti malam. 


"Apa mama dan papa sudah siap semua?" tanya Bryan pada kakak dan kakak iparnya. 


"Sudah tadi aku menghubungi mereka dan mengatakan mereka akan kemari nanti setelah makan siang," jawab Selly.


Bryan mengangguk. Dia merasa lega orang tuanya dan orang tua Regan sudah siap. Rasanya dia tidak sabar membawa kedua orang tuanya dan orang tua Regan  kembali ke negara asalnya. Pasti kedua orang tuanya akan senang.


Sambil menunggu Felix dan Chika, dua pasang suami istri itu membahas apa yang akan mereka kerjakan setelah peresmian apartemen nanti. 


Selesai membahas semuanya. Selly mengajak semua untuk makan. Dia mengajak Shea dan Chika untuk menyiapkan makan siang.


"Apa coat yang aku titipkan pada Bryan sudah diberikan pada Felix?" tanya Shea.


 "Sudah, Felix sudah memberikan padaku juga,"  jawab Chika. 


"Syukur jika Felix sudah memberikannya." Shea tersenyum pada Chika agar temannya itu tidak curiga jika sebenarnya Felix yang membelikannya. "Apa kamu tahu kami sengaja membeli itu," ucap Shea lagi meyakinkan Chika. 


"Iya, agar kita nanti bisa memakai coat yang sama." Selly menimpali ucapan Shea. Selly membuat drama semakin meyakinkan.


"Kenapa kalian membelikannya untukku, bukankah itu mahal?" 

__ADS_1


"Tenang, kebetulan pemilik toko itu teman Kak Selly, jadi waktu kami membeli tiga, dia memberikan diskon." Dengan bangga, Shea menceritakan pada Chika. Dia tahu temannya itu pasti akan percaya jika dia membahas diskon.


"Iya, tenang saja. Itu tidak mahal." Selly menambahkan penjelasan Shea. Meyakinkan Chika menerima coat tersebut. Wajah Selly tampak meyakinkan sekali. 


"Terima kasih." Chika merasa senang. Dia bisa memakai coat yang disukainya nanti di luar negeri. "Ternyata punya teman istri CEO menguntungkan juga," ucapnya dengan nada menggoda. 


Shea dan Selly saling pandang. Mereka langsung tertawa. Ternyata rencana mereka berjalan sesuai dengan mulus. "Iya, kami juga bersyukur," jawab mereka bersamaan.


Mereka berdua tertawa dan dibalas tawa oleh Chika. Suasana dapur seketika ramai dengan suara tawa para wanita. 


Tawa juga tidak hanya di dapur saja. Di taman belakang tawa tiga pria dan dua bayi juga terdengar saat melihat tingkah dua jagoan kecil yang saling menendang bola. 


Bryan mengendong anaknya menghadap ke depan untuk menendang bola. Melawan Regan yang mengendong Al yang juga dalam posisi menghadap ke depan. Felix yang ada di tengah-tengah menjadi wasit permainan daddy dan anak itu. 


"Ayo El tendang," ucap Bryan mengejar bola. El tertawa terbahak saat daddy-nya mengajak lari-lari. 


Regan tak mau kalah dengan Bryan. "Ayo Al, kita pasti menang." Regan mengejar Bryan yang mengendong El. Hal itu membuat Al tertawa. 


Tawa kedua bayi itu terdengar sangat senang saat daddy-nya menendang bola. Apalagi saat daddy mereka berlari, tawa terdengar begitu semakin riang. Tubuh mereka bergerak seolah juga ingin menendang bola. 


Bryan membungkukkan tubuhnya mengarahkan kaki El. "Tendang El." Dia mengarahkan kaki mungil El menendang bola. Kaki El justru menendang-nendang kesenangan dan justru membuat kakinya tak terarah ke bola. Bryan harus mengarahkan kaki kecil itu ke bola agar pas menendang. Saat bola bisa ditendang El tertawa kegirangan.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Regan. Al juga begitu senang menendang bola. "Ayo Al, tendang." Regan mengarahkan kaki ke bola.


"Ye ... dua sama," seru Felix yang menjadi wasit. 


Tawa Al dan El begitu senang hingga akhirnya Bryan menghentikan karena tak mau membuat dua bayi itu kelelahan. Apalagi nanti malam mereka akan melakukan penerbangan. Bryan dan Regan pun memberikan Al dan El pada mommy-nya untuk diganti bajunya karena baju mereka sudah basah. 

__ADS_1


__ADS_2