
Bryan langsung menghampiri Shea. "Kenapa?" tanyanya. Dia menunduk melihat istrinya yang tampak kesakitan.
"Perutku sakit," ucap Shea meringis kesakitan. Dia merasakan perutnya yang terasa sakit.
"Sepertinya kita perlu ke dokter." Wajah Bryan sudah tampak khawatir.
"Tidak perlu." Shea menjawab seraya memegangi perutnya yang tampak sakit.
"Bagaimana kamu bilang tidak perlu? Lihatlah kamu saja tampak kesakitan seperti itu!" Bryan yang kesal sedikit menaikan nada suaranya.
"Tenanglah! Ini sering terjadi pada wanita," jawab Shea. Dia mendorong ke belakang kursi yang didudukinya dan berdiri. "Jaga anak-anak dulu." Melangkah meninggalkan Bryan, Shea menuju ke kamarnya.
Bryan masih dalam mode bingung. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada Shea. "Biasa? Memangnya apa yang biasa terjadi pada wanita?" gumamnya bertanya.
Shea pergi ke kamar dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mengecek keadaanya. Saat mengecek, ternyata benar dugaannya jika memang dia sedang datang bulan. Keluar dari kamar mandi, dia mengambil pembalut di dalam lemari. Namun, sayangnya dia tidak menemukannya. Dia mengingat terakhir kali dia memakai pembalut setelah melahirkan di rumah sakit, dan itu berarti sekitar empat bulan yang lalu.
Shea mengingat penjelasan dari dokter Lyra jika pemberian suntikan penunda kehamilan akan membuat jadwal datang bulannya berantakan, dan buktinya setelah dokter Lyra menyuntikan penunda kehamilan, dia baru datang bulan sekarang.
Karena tidak menemukan pembalut di lemari, akhirnya Shea menghampiri Bryan. "Sayang … " panggilnya saat keluar dari kamar.
"Iya, ada apa?" Bryan masih menatap penuh khawatir pada Shea.
"Sayang, bisakah kamu membelikan aku pembalut," pinta Shea dengan wajah malu-malu.
Mata Bryan membulat sempurna saat mendengar permintaan Shea. Seumur hidupnya tinggal bersama dua wanita yaitu mama dan kakaknya, dia belum pernah membeli benda itu.
"Sayang, apa kamu dengar?" Shea yang melihat Bryan terdiam, merasa kesal.
"Oh … iya …." Bryan tidak bisa menolak apa yang diminta oleh Shea. Permintaan Shea sudah bagai titah yang tak bisa dibantahnya. "Baiklah, aku akan pergi." Bryan langsung berlalu mengambil kunci mobil dan menuju ke supermarket terdekat.
Bryan melajukan mobilnya mencari supermarket terdekat, untuk membeli pesanan istrinya. Saat menemukan supermarket, dia berbelok dan memarkirkan mobilnya.
Masuk ke dalam supermarket dia mencari ke setiap lorong dimana letak pembalut. Akhirnnya dia menemukan satu rak yang berisi pembalut yang dicarinya. Namun, mata Bryan membelalak saat melihat deretan merk pembalut.
Aku lupa menanyakan merk apa.
Bryan merutuki kesalahannya yang melupakan hal penting itu. Meraba saku celananya, dia mencari ponselnya. "Sial." Dia mengumpat karena ternyata dia juga melupakan ponselnya.
Karena tidak mau salah memilih, akhirnya dia membeli satu dari setiap merek pembalut. Dia berharap jika nanti ada salah satu yang dipakai Shea.
Karena Bryan membeli banyak pembalut, akhirnya dia mengambil kranjang. Namun, ternyata satu keranjang tidak bisa menampung semua pembalut yang dibeli Bryan. Dia mengambil keranjang lagi dan kembali memasukan pembali pembalut yang dia beli. Total ada tiga keranjang berisi pembalut yang dia beli.
__ADS_1
Memasukan semua pembalut ke dalam keranjang, akhirnya Bryan membawa tiga keranjang itu ke kasir. Kasir yang melihat Bryan membeli banyak sekali pembalut terheran-heran. Akan tertapi, Bryan tampak santai menangapi tatapan aneh kasir dan beberapa orang yang juga sedang bebelanja.
***
Bryan yang sampai rumah membawa sekitar delapan kantung plastik. "Ini," ucapnya meletakan kantung plastik di atas meja.
Mata Shea membulat sempurna saat melihat kantung berisi pembalut. "Apa kamu membeli semua pembalut di supermarket?" tanyanya menatap suaminya dengan penuh kekesalan.
"Iya," jawab Bryan polos. "Aku membeli semua merk yang ada di supermarker karena aku lupa bertanya padamu merk apa yang biasa kamu pakai." Bryan menjelaskan apa yang membuatnya membeli semua merk pembalut.
"Kenapa tidak menghubungi aku?" Shea masih mencari celah kesalahan Bryan.
"Aku lupa membawa ponsel."
Shea mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak bisa menyalahkan Bryan, karena suaminya memang tidak tahu, tetapi melihat pembalut sebegitu banyak, apa yang harus dia lakukan.
"Kenapa?" tanya Bryan melihat Shea terdiam.
"Aku hanya berpikir, kamu sedang berharap aku akan datang bulan sepanjang tahun, karena kamu menyediakan pembalut sebanyak ini." Shea berdiri dan mengambil satu pembalut. Dia berlalu ke kamar mandi untuk memakai pembalut yang dibeli oleh Bryan.
Bryan masih mencerna ucapan Shea. "Sepanjang tahun datang bulan?" Satu kalimat yang Bryan ulang. "Kalau sepanjang tahun datang bulan, aku bisa berbulan-bulan tidak menjamah Shea." Bryan menggelengkan kepalanya, menolak ucapan Shea. Dia langsung mengejar Shea yang berada di kamar.
Shea keluar dari kamar mandi, dikejutkan dengan Bryan yang berdiri di depan kamar mandi. "Kenapa?"
"Kenapa berkata seperti itu?" tanya Bryan dengan nada frustrasi.
"Berkata apa?" Shea dibuat bingung dengan yang dimaksud suaminya.
"Itu tadi, yang kamu bilang datang bulan sepanjang tahun." Wajah Bryan terlihat kesal, mengingat ucapan istrinya.
Tawa Shea langsug terdengar. Tadi dia hanya bercanda mengatakan akan hal itu, tetapi ternyata suaminya menganggap serius ucapannya. "Salah siapa kamu beli sebegitu banyak pembalut," ucapnya menahan tawa.
"Sayang, jangan begitu, aku benar-benar tidak akan sanggup kamu datang bulan sepanjang tahun." Bryan memegangi lengan Shea, seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Tawa Shea semakin kencang, tetapi dia langsung menghentikannya karena takut suara tawanya membangunkan baby Al dan El. "Aku hanya akan datang bulan lima atau tujuh hari dalam sebulan, tidak akan sepanjang tahun."
"Benarkah?" Bryan melisik dalam bola mata Shea, mencari kebohongan di dalamnya.
"Iya, semua wanita normal seperti itu," jelas Shea.
Bryan merasa lega saat ternyata Shea tidak akan datang bulan sepanjang tahu. Namun, sejenak ingatannya kembali pada satu hal. "Berarti seminggu ini aku akan libur?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Iya," jawab Shea dengan pasti.
Bryan mengela napasnya kasar. "Aku harus kuat," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
***
Malam hari Shea merasakan sakit di perutnya. Karena sudah lama dia tidak datang bulan, akhirnya membuat sakitnya begitu menyiksa.
Bryan yang sedang menjaga baby Al dan El, harus juga menjaga Shea yang sakit. Dia memberikan Shea kantung kompres berisi air hangat untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Shea.
Sepanjang malam Bryan yang menjaga baby Al dan El, karena Shea yang kesakitan membuat Bryan tidak tega membangunkan istrinya itu.
Hingga pagi tiba, rasa sakit yang diderita Shea tak kunjung reda. Bryan semakin tidak tega meninggalkan Shea dan anak-anak. Namun, pekerjaanya di kantor begitu banyak dan tidak bisa dia tinggalkan.
Bryan memikirkan bagaiamana caranya. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa dua bayi kecil itu bekerja, dan membiarkan Shea untuk istirahat.
Namun, sebelum berangkat dia menghubungi satu orang. "Mau mendapatkan maaf dari Shea?" ucapnya saat menghubungi orang yang akan membantunya menjaga baby Al dan El.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa kasih...
...like...
...komentar...
...Hadiah...
...(Gratis di pusat misi)...
...vote...
...( vote ambil tiap Senin)...
__ADS_1