
Pagi ini sesuai rencana Bryan dan Shea berangkat ke puncak. Shea dan kedua jagoannya serta babysitter ikut serta dalam perjalanan bisnis ini. Dengan mengendarai mobilnya, Bryan membawa anak dan istrinya mengunjungi proyek.
Dalam perjalanan dua bayi kecil itu pun asik menikmati perjalanan. Sejak pagi mereka sudah asik tidur dan bagun ketika hampir sampai di tempat tujuan.
Bryan dan Shea memilih hotel yang terdekat dengan proyek pembangunan. Hotel di mana pernah Bryan tempati dulu waktu mengecek proyek.
Saat tiba di hotel, senyum Shea tertarik di bibirnya. Dia tidak mengingat tempat di mana dulu dirinya menyusul Bryan dan mengakibatkan dia melahirkan baby El secara prematur.
Setelah memesan dua kamar, mereka menuju ke kamar. Bryan memesan dua kamar. Satu untuk dia dan Shea berserta dua bayi sedangkan satu untuk babysitter. Memberikan kunci untuk babysitter, Bryan meminta babysitter menunggu akan memanggil nanti jika dirinya akan berangkat ke proyek.
"Apa baby Al dan El akan nyaman tinggal di hotel kelas melati seperti ini?" Sebenarnya Bryan sedikit ragu dengan tempatnya menginap, tetapi tidak ada tempat lagi yang lebih dekat. Mungkin sebenarnya Bryan bisa membawa ke villa keluarga, tetapi jaraknya cukup jauh. Jadi mereka tidak memilih ke sana. Lagipula jika Shea di villa, akan sulit untuk Bryan mengawasi istri dan anaknya.
"Aku rasa tidak," jawab Shea, "di sini sudah jauh lebih nyaman." Shea yang merapikan barang-barang melihat ke sekitar kamar yang menurutnya tidak buruk itu.
Bryan bersyukur karena istrinya benar-benar tidak manja. Di mana pun dan apa pun yang dia dapat dia selalu bersyukur. Bryan pun menunggu baby Al dan El sebentar karena Shea masih merapikan beberapa barang.
Di tempat tidur Bryan menemani dua bayi itu bergumam saling sahut menyahut. Dia pun tertawa mendengar celoteh dua bayi itu.
"Kamu mau tahu mereka bicara apa?" tanya Bryan.
"Apa?" Shea yang masih sibuk merapikan barang-barang bayi kecilnya, menoleh karena ingin tahu.
"Kata El 'Al apa kamu tahu jika daddy Bryan sangat mencintai mommy Shea'." Bryan menerjemahkan gumaman apa yang diucapkan oleh anaknya. "Lalu El menjawab 'iya memang daddy Bryan begitu mencintai mommy Shea'." Dia juga menerjemahkan gumaman El.
Seketika tawa Shea terdengar mendengar ucapan suaminya. "Mana bisa begitu."
"Bisa, Sayang, aku kan daddy mereka jadi aku tahu bahasa mereka."
Shea hanya bisa menggeleng mendengar jawaban Bryan. Dia yang sudah selesai merapikan barang-barang yang mereka bawa, langsung menyusul Bryan dan dua jagoan kecil itu. Dia ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan bersebelahan dengan baby Al.
"Yang ada El sedang berkata 'mommy Shea cantik ya, Al?'. Lalu Al menjawab 'iya mommy Shea memang cantik'." Shea pun menerjemahkan gumaman dua bayi itu dengan tertawa.
Mendengar ucapan istrinya Bryan tersenyum. "Istri Bryan Adion memang cantik," ucapnya seraya mencubit pipi Shea. Tawa Bryan dan Shea pun pecah saat menikmati candaan mereka.
__ADS_1
Sesaat kemudian Bryan bersiap ke proyek, karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh. "Daddy akan kerja dulu. Kalian baik-baik ya," ucap Bryan mendaratkan kecupan di pipi baby Al dan El.
"Iya daddy," jawab Shea sebagai perwakilan jawaban dari anak-anaknya.
Bryan tersenyum mendapati jawaban Shea. Dia mendaratkan kecupan di dahi Shea. "Kabari jika ada apa-apa!" ucapnya.
"Iya, siap. Aku akan mengabari."
Bryan berangkat meninjau proyek. Namun, sebelum dia memanggil babysitter untuk membantu Shea menjaga anak-anak.
Saat merasa semua sudah aman, Bryan menuju proyek pembangunan hotel milik Davis Company. Di lobby bawah sudah tampak Felix menunggu. Mereka memang sengaja untuk datang bersama dan membuat janji bertemu di hotel.
"Sudah lama?" tanya Bryan.
"Belum, aku baru sampai," jawab Felix, "tadi Alex sudah mengabari jika dia dan Helena sudah sampai di proyek," jelasnya.
"Baiklah, ayo!" Bryan mengajak Felix untuk mengecek proyek dengan mengunakan mobilnya.
"Selamat siang, Pak Alex dan Bu Helena," ucap Bryan menyapa seraya mengulurkan tangan pada Alex dan bergantian pada Helena. "Maaf saya terlambat," tambahnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Felix. Dia mengulurkan tangannya juga pada Alex dan Helena.
"Tidak masalah Pak Bryan, kami juga baru datang." Alex menerima uluran tangan Bryan.
"Tidak lama bagiamana, matahari sudah membakar tubuhku" gumam Helena.
"Apa Bu Helena lupa jika ini masih jam sepuluh pagi, dan matahari di jam segini masih sangat bagus karena mengandung vitamin D," ucap Alex yang mendengar gumaman Helena.
Helena hanya mendengus kesal. Dia sudah menduga jika asistennya itu selalu punya jawaban atas ucapannya.
"Baiklah, sebaiknya kita cek saja proyeknya." Alex mengakhiri perdebatannya dengan Helena dan mulai melakukan pekerjaan.
Mereka berempat mengecek proyek dan bersama dengan manager penanggungjawab proyek. Helena dan Alex mengecek seberapa jauh pengerjaan yang sudah dilakukan oleh pihak Adion. Dari melihat progres dari pembangunan, Alex dan Helena melihat jika pihak Adion cukup cepat melakukan pengerjaan pembangunan, karena dari terakhir kali Helena datang perkembangan sudah cukup signifikan.
__ADS_1
Mereka semua mengecek hingga jam istirahat makan siang. Mencari restoran terdekat untuk makan siang dan melanjutkan pembicaraan mengenai proyek. Alex dan Helena membicarakan kembali beberapa hal terkait pembangunan proyek. Beberapa poin beberapa paparkan pada Bryan untuk dikerjakan. Felix pun mencatat beberapa hal yang diinginkan oleh pihak Davis, dan akan mengerjakan setelah kunjungan proyek.
Selesai mengecek proyek hotel, Bryan dan Alex mengecek pekerjaan BTS yang dilakukan oleh penyedia jasa Kemarin juga Alex dan Bryan sudah bekerja sama dengan pihak penyedia jasa internet.
"Penduduk di sini berterima kasih, dengan adanya BTS seperti ini, sekarang di daerah ini sudah tidak terlalu sulit sinyal," ucap manager penanggungjawab proyek.
Helena yang mendengar merasa senang. Kejadian yang terjadi pada Bryan waktu itu membuatnya meminta pada Alex untuk bekerjasama dengan penyedia jasa internet.
"Sama-sama, Pak," jawab Alex seraya menoleh pada Helena. Dia menyadari jika semua ini adalah ide Helena.
Bryan yang melihat pihak Davis yang dengan suka rela membantu tempat
hotelnya mendapatkan sinyal merasa senang, karena kejadian-kejadian pada drinya pada tempo hari tidak akan terjadi pada orang lain lagi.
Selesai mengerjakan meninjau proyek mereka kembali ke mobil masing-masing.
"Apa kamu dan Shea akan menginap di sini?" tanya Felix.
"Iya, kami akan menginap di sini," jelas Bryan
Alex yang mendengar nama Shea disebut pun langsung tertarik ikut berbicara. "Apa Shea ikut denganmu?" tanya Alex.
"Iya, aku mengajaknya." Bryan menjawab pertanyaan Alex.
.
.
.
.
...Jangan lupa like dan vote ...
__ADS_1