
Pagi ini suasana rumah terasa sepi. Kamar Shea dan Bryan yang biasanya ramai karena celoteh El, mendadak sepi karena bayi kecil itu tidak tidur di kamar kedua orang tuanya.
Akan tetapi suara bayi kecil itu samar-samar terdengar dari kamar tamu. Suara Shea yang sedang berbicara pun terdengar juga.
Bryan yang berada di dalam kamarnya, sangat senang mendengar suara anak dan istrinya. Karena merindukan anaknya, dia pun menghampiri Shea di kamar tamu.
Saat Bryan datang, Shea langsung terdiam. Dia yang tadinya bercanda dengan El, seketika menghentikan kegiatannya.
"Halo, Sayang," sapa Bryan pada anaknya.
Baby El meraih wajah Bryan yang mendekat padanya. Bayi kecil itu memang sudah mengenali wajah orang tuanya.
Melihat Bryan yang mendekati El, Shea bangkit dari tempat tidur. Dia berlalu meninggalkan Bryan. Namun, langkahnya terhenti saat tangan Bryan mencekalnya.
"Aku ingin mulai hari ini kamu tidak perlu bertemu Kak Regan," ucap Bryan.
Shea terkesiap mendengar ucapan suaminya. Tidak bertemu Regan berarti tidak bertemu dengan baby Al juga, batinnya.
"Susu untuk Al biarkan babysitter yang mengambil."
Ingin sekali Shea marah, tetapi dia tidak bisa karena ada anaknya. Walaupun tidak mengerti, tetapi suara dengan nada tinggi yang terdengar pasti tidak baik untuknya.
"Terserah padamu!" ucap Shea seraya melepaskan tangan suaminya yang mencekalnya. Dia berlalu untuk menyiapkan pakaian kerja untuk Bryan.
Mata Bryan menatap ke arah Shea yang berlalu begitu saja dari kamar. Dia merasa sikap istrinya benar-benar dingin.
"Kenapa kamu tidak bisa mengerti apa yang aku rasakan?" gumam Bryan. Dia merasa sangat dilema. Perasaannya benar-benar terluka dengan kedekatan kakak ipar dan istrinya, tetapi tidak ada yang mengerti perasaannya.
Shea yang masuk ke kamarnya hanya bisa menggeleng dengan sikap Bryan. Dia tidak mengerti kenapa Bryan bisa egois seperti itu. Shea berpikir suaminya itu hanya memikirkan perasaannya saja.
Selesai menyiapkan pakaian untuk Bryan, Shea beralih membawa anaknya untuk berjemur. Tidak ada satu kata keluar dari mulut Shea saat mengambil anaknya dari gendongan Bryan.
Jika biasanya Shea akan mengantarkan Bryan sampai pintu depan, kali ini dia tidak melakukannya. Dia memilih menyibukkan diri dengan kegiatan bersama anaknya.
***
Di kantor Bryan benar-benar tidak konsentrasi. Pikirannya tertuju pada Shea yang begitu marah padanya. Dengan menyandarkan kepalanya di kursinya, dia memijat keningnya. Kepalanya sedikit berdenyut memikirkan semua yang terjadi.
Saat sedang sibuk dengan pikirannya, suara ketukan pintu membuatnya teralihkan. "Masuk!" seru Bryan.
Felix yang mendengar suara seruan pun mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan. "Ini laporan yang sudah aku kerjakan," ucapnya seraya meletakkan berkas di atas meja.
__ADS_1
"Iya." Bryan kembali menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Kamu kenapa?" Melihat Bryan yang tampak sedang ada masalah, Felix ingin tahu.
"Aku bertengkar dengan Shea." Suara Bryan disertai helaan napas berat, menandakan jika dia merasakan sedikit rasa sakit.
"Kenapa?"
"Karena Kak Regan."
Felix sudah bisa menebak jika nama kakak ipar Bryan yang dibawa. "Kamu masih curiga dengan mereka?"
"Kamu tahu bukan, mereka sering bertemu dan lambat laun perasaan suka itu akan hadir seperti apa yang terjadi padaku dulu." Dengan nada frustrasi Bryan menjelaskan pada Felix.
Felix hanya menggeleng. Dia menyadari apa yang dirasakan oleh temannya itu. Sebagai seorang cassanova bersaing dengan pria baik-baik pasti menjadikan ketakutan tersendiri. Mungkin suatu saat itu juga akan terjadi padanya. Mengingat dirinya dan Bryan tidak jauh berbeda.
"Aku tidak bisa membela siapa-siapa dalam hal ini, tetapi aku akan ingatkan, buang rasa tidak percaya di dalam dirimu. Perasaan itu justru merusak semua yang ada di dalam dirimu."
Bryan menghela napasnya. Dia membenarkan ucapan Felix, jika dirinya hanya tidak percaya dengan dirinya sendiri.
***
Sore hari saat Shea sedang bermain dengan Al. Dia mendengar suara ponselnya berdering. Mengambil ponselnya, untuk melihat siapa yang menghubunginya, dan dia menemukan nama babysitter di layar ponselnya.
"Halo," sapa Shea, "apa ada masalah dengan Al?" tanya Shea tanpa berlama-lama.
"Iya, Bu, saya mau mengabari jika baby Al sedang demam."
Shea yang mendengar terkejut. Rasanya Shea ingin ke sana, tetapi dia sudah berjanji dengan Bryan. "Kamu sudah memberitahu Pak Regan?" tanya Shea.
"Belum, Bu,"
"Baiklah, beritahu sekarang, agar dia bisa menghubungi dokter."
"Baik, Bu saya akan menghubungi Pak Regan."
"Kabari saya lagi." Shea pun mematikan sambungan telepon. Dia hanya bisa memantau dari rumah.
***
Bryan yang pulang kerja langsung membersihkan diri. Menyelesaikan kegiatannya, dia keluar.
__ADS_1
"Baby Al sakit." Shea sengaja memberitahukan Bryan, agar suaminya itu mengerti jika bayi kecil itu sedang membutuhkannya.
"Bukannya sudah ada babysitter dan Kak Regan, aku rasa itu sudah cukup." Bryan mengatakan dengan tanpa memandang Shea.
Shea hanya bisa terkesiap mendengar ucapan Bryan. "Kamu tahu, apa kamu ingat jika kamu pernah bilang ingin menjadi ayah yang sempurna?" tanyanya menatap pada Bryan. Dari kemarin dia sudah berusaha untuk menunggu waktu yang tepat untuk berbicara, tetapi melihat sikap Bryan, dia sudah tidak bisa lagi menunggu.
"Menjadi ayah yang sempurna adalah melepaskan keegoisan diri sendiri untuk anak kita. Mementingkan kepentingan mereka di atas kepentingan kita. Jika kamu terus saja dengan keegoisanmu, aku rasa kamu tidak pantas disebut ayah yang sempurna." Shea mengatakan dengan penuh penekanan. Dia ingin Bryan sadar dengan keegoisannya sudah melebihi batas.
Mulut Bryan terdiam. Dia mencerna baik-baik ucapan Shea, dan yang dia katakan oleh Shea ada benarnya.
"Al memang tidak lahir dari rahimku, tetapi di dalam tubuhnya mengalir darah Adion yang sama denganmu."
Seperti tamparan keras, Bryan benar-benar merasa dirinya begitu egois. Karena ketakutannya, dia mengorbankan baby Al yang sudah dia anggap anaknya.
Bersamaan dengan itu, suara ponsel Bryan berdering. Ponsel yang berada di atas nakas, membuat Shea dan Bryan menoleh. Dari kejauhan mereka melihat nama Regan tertera di layar ponselnya.
Bryan melangkah mengambil ponselnya. Namun, belum sempat Bryan meraih ponselnya, Shea lebih dulu mengambilnya. Shea langsung mengangkat sambungan telepon.
"Halo, Kak," sapa Shea saat sambungan telepon terhubung.
"Se," panggil Regan. Dia merasa lega karena ternyata Shea yang mengangkat sambungan telepon.
"Iya, ada apa? Bagaimana keadaan Al?" Shea mencecar Regan dengan beberapa pertanyaan.
"Dia tidak mau minum sejak tadi. Aku takut dia dehidrasi, Se, bisakah kamu kemari?" tanya Regan.
"Aku akan ke sana," ucap Shea. Dengan tanpa berlama-lama dia menyerahkan ponsel Bryan.
Namun, saat melangkah tangan Shea di cekal oleh Bryan. "Siapa yang kamu pilih, Aku dan El atau Kak Regan dan Al?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Bryan.
.
.
.
.
.
...Jangan lupa lupa like dan vote ...
__ADS_1